Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bukan Cuma Para Sopir, Pengelola Mikrotrans Juga Perlu Dievaluasi
Minggu, 23 November 2025 06:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mewajibkan seluruh sopir Mikrotrans mengikuti pelatihan di Transjakarta Academy. Hal ini sebagai tindak lanjut dari banyaknya keluhan penumpang terhadap perilaku dan kinerja sopir angkot gratis yang disediakan Pemprov DKI tersebut.
Data Transjakarta menunjukkan, sepanjang Januari–Oktober 2025, ada 1.127 laporan keluhan terkait sopir Mikrotrans. Rinciannya: 68 persen karena ugal-ugalan, 22 persen bersikap tidak ramah, dan 10 persen membawa keluarga saat bertugas. Ke depan, sopir Mikrotrans yang berkendara secara ugal-ugalan akan dipecat.
Sopir Mikrotrans yang melanggar aturan meski sudah diberikan pembinaan, akan langsung dicopot. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Rencana tersebut mendapat dukungan Anggota DPRD DKI Jakarta Muhammad Taufik Zoelkifli (MTZ). Anggota Komisi B ini menyebut, banyaknya keluhan terhadap sopir Mikrotrans ini menjadi perhatian legislatif.
MTZ kerap menerima laporan banyak sopir Mikrotrans yang tidak berhenti di bus stop, cenderung ngebut, tidak mengambil penumpang, tidak ramah, dan merokok saat berkendara.
Baca juga : KPK Buru Perusak Segel Di Rumah Dinas Gubernur Riau
“Memang sudah harus diperbaiki dan saya menyambut baik kalau Gubernur mengatakan, sopir Mikrotrans akan ditata ulang, dilatih dan lain-lain,” kata MTZ, kepada Rakyat Merdeka, Senin (17/11/2025).
Namun, dia mengingatkan, harus diperhatikan juga faktor penyebab kurang baiknya sikap sopir Mikrotrans. MTZ membeberkan, selama ini upah atau gaji sopir Mikrotrans dihitung per kilometer atau jarak tempuh. Sehingga, cenderung ngebut agar cepat dapat kilometer yang banyak.
“Misalnya targetnya 30 kilometer, maka mereka akan ngebut. Pokoknya secepat-cepatnya mencapai 30 kilometer. Sehingga, cenderung mengabaikan orang yang menyetop. Jadi, sopir ngebut, salah satunya karena mengejar target jarak tempuh,” jelasnya.
Kondisi ini hampir mirip dengan angkot konvensional. Mikrotrans kejar jarak tempuh dengan ngebut dan mengabaikan penumpang. Sedangkan angkot konvensional ngebut untuk kejar setoran dengan banyak-banyakan penumpang. Karena itu, MTZ mengusulkan sistem ini harus dikombinasikan atau dicari lagi solusinya.
Baca juga : Inter Milan Vs AC Milan, Saling Tekan Dan Pukul Balik
“Dalam satu hari itu selain menempuh 30 kilometer, mereka juga harus membawa 300 penumpang, misalnya. Jadi, mereka juga dituntut untuk memenuhi jumlah penumpang,” tuturnya.
Dia menambahkan, Mikrotrans hadir untuk melayani masyarakat kecil. Gratis dan menjangkau pemukiman warga. “Tapi kemudian kalau ternyata ada sopir yang merusak sistem tersebut dengan cara ugal-ugalan atau tidak mau diatur, ya tak usah kerja di sana, dipecat saja,” tegasnya.
Hal senada disampaikan pengamat kebijakan transportasi Azas Tigor Nainggolan. Azas mendukung diadakannya pelatihan kepada sopir Mikrotrans lantaran banyak sopirnya bersikap kurang baik. “Memang secara perilaku, driver-driver Mikrotrans ini kacau-kacau,” kata Azas, kepada Rakyat Merdeka, Senin (17/11/2025).
Azas bilang, sopir Mikrotrans kurang dididik. Kurang disiapkan mengenai perilaku berkendaraan yang selamat, aman dan nyaman. Namun, menurut dia, hal tersebut bukan hanya salah sopir, tapi juga pengelolanya.
Baca juga : Lima Wakil Indonesia Lolos BWF Tour Finals
“Jadi kalau mereka seperti itu, berarti yang salah bukan cuma pengemudinya, pengelolaannya juga harus diperbaiki, manajemennya,” ucap Koordinator Koalisi Warga untuk Transportasi (KAWAT) Indonesia ini.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya