Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Antisipasi Dampak Kekeringan, Pemprov Didorong Olah Air Laut Jadi Air Tawar
Minggu, 20 September 2026 06:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta harus serius mengantisipasi dampak kemarau panjang. Salah satunya, potensi berkurangnya ketersediaan air bersih akibat kekeringan. Persiapan untuk menanganinya dapat dilakukan dengan mengembangkan teknologi desalinasi, yakni mengubah air laut menjadi air tawar.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Suhud Alynudin mengatakan, peringatan kekeringan yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI harus menjadi perhatian serius Pemprov.
“Memang harus diantisipasi. Kemarin kan ada level awas dari BPBD. Saya kira harus disikapi serius, karena kekeringan ini tidak bisa dihindari, panjang,” ujar Suhud, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, salah satu alternatif yang perlu mulai dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi desalinasi. Teknologi tersebut dapat mengolah air laut menjadi air tawar, sehingga bisa menjadi sumber alternatif untuk mengantisipasi keterbatasan air baku.
Suhud mencontohkan penerapan teknologi tersebut di Kepulauan Seribu. Dia mendorong agar pemanfaatan desalinasi, mulai dikaji dan diperluas.
“Harus sudah mulai coba dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan Jakarta kekurangan air bersih,” saran politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Baca juga : Atletico Madrid Vs Real Madrid, Derby Tensi Tinggi
Desalinasi adalah proses menghilangkan garam dan mineral dari air laut atau air payau, sehingga menghasilkan air tawar yang dapat digunakan. Misalnya untuk air minum, pertanian, atau industri.
Contohnya, desalinasi dapat dilakukan dengan reverse osmosis (osmosis balik), yaitu menyaring air laut melalui membran khusus, sehingga garam terpisah dari air.
Kemudian, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons usulan itu.
Menurutnya, pemanfaatan air laut sebagai sumber air baku, berkaitan erat dengan pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa di Jakarta.
Pram mengatakan, pembangunan giant sea wall perlu segera dimulai agar pengolahan air laut menjadi air tawar dapat dilakukan.
Karena, menurutnya, infrastruktur tersebut menjadi salah satu bagian penting yang berkaitan dengan ketersediaan sumber air untuk masyarakat Jakarta.
Baca juga : Formula 1, Australia Ogah Jadi Pembuka Musim 2027
“Untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan bisa digunakan, maka salah satu faktornya adalah pembangunan giant sea wall segera dimulai,” kata Pramono di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, apabila pembangunan giant sea wall dapat direalisasikan, pasokan air payau dapat diolah, sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Kalau itu sudah terwujud, Pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, siap melakukannya,” ujar Pram.
Sebelumnya, BPBD DKI mengeluarkan status awas kekeringan berdasarkan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan parameter meteorologis, salah satunya jumlah hari tanpa hujan.
Namun, status tersebut tidak berarti seluruh wilayah Jakarta sedang mengalami krisis air bersih. Melainkan, menjadi dasar untuk memperkuat langkah antisipasi dan pemantauan wilayah yang berpotensi terdampak.
BPBD juga memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk mengecek kesiapan personel. Upaya lain yang dilakukan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengisi waduk dan mengurangi polusi udara.
Baca juga : Hidup Selalu Ada Risiko, Yang Penting Bekerja Untuk Rakyat
Untuk memenuhi kebutuhan warga yang mengalami kesulitan air, BPBD bersama PAM Jaya juga menyiapkan layanan distribusi air bersih melalui Call Center Jakarta Siaga 112.
Menurut Pram, kekeringan memang mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Pemprov DKI pun menyalurkan bantuan air kepada warga yang terdampak.
Pram mengaku telah menerima laporan dari sejumlah kelurahan mengenai warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
Laporan tersebut disampaikan melalui aplikasi JAKI maupun secara langsung. “Kami mengantisipasi untuk bisa memberikan bantuan air kepada masyarakat,” kata Pram di Balai Kota Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Pram juga menyoroti kondisi cuaca yang berpotensi membuat kekeringan berlangsung lebih lama. Dia berharap, fenomena El Nino tidak berkepanjangan. “Kalau lebih dari September, dampak kekeringannya panjang,” ujarnya. [DRS/RAA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya