Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Fungsi Jumantik Harus Dioptimalkan
Empat Bulan, RSUD Tangsel Rawat 141 Pasien DBD
Senin, 11 Februari 2019 14:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) cukup banyak. Ada 22 pasien yang dirawat. Mayoritas dewasa. Sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019 terdapat 141 pasien.
Kepala Bidang Pelayanan Medis (Kabid Yanmed) RSU Tangsel dr Imbar Umar Gozali mengatakan, data pada Rabu (6/2) total keseluruhan pasien DBD di RSU Tangsel, sebanyak 22 orang. “Ada yang dirawat di UGD. Yang di UGD belum bisa masuk rawat inap karena kamar penuh,” tandasnya.
Bila kamar di ruang rawat inap sudah tersedia, lanjut Imbar, pasien yang berada di UGD agar masuk ke ruang rawat inap. “Mungkin dalam waktu satu atau dua hari ini,” ujarnya.
Baca juga : Strategis, Tapi Kawasan Cikini Nggak Ramah Bagi Pejalan Kaki
Imbar menegaskan, pihaknya akan terus meningkatkan pelayanan bagi pasien DBD. Meski kamar inap terbatas, kata dia, apabila dibutuhkan karena kondisi mendesak, maka perawatan bisa dilakukan di ruangan lain ataupun selasar rumah sakit. “Semua pasien yang berobat akan ditangani, nggak boleh ditolak,” tegasnya.
Lebih lanjut Imbar mengatakan, seluruh pasien DBD yang berada di RSU Tangsel bebas biaya. Sebab, mayoritas pasien telah memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bila tidak ada, kata dia, mereka menggunakan KTP Tangsel. “Asal bawa KTP Tangsel gratis rawat inap,” ucapnya.
Imbar menjelaskan, berdasarkan data pasien per tiga bulan, sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019, RSU Tangsel telah melayani 141 pasien DBD. Yang meninggal satu pasien berinisial A, pada akhir Januari 2019.
Baca juga : Jalanan Kota Bekasi Berlubang 5-10 Cm
“Sebenarnya korban menderita pneumonia (infeksi paru). Jadi, bukan karena DBD,” tandasnya. Untuk pasien meninggal karena murni penyakit DBD, Imbar memastikan tidak ada selama tiga bulan terakhir. “Pokoknya kondisi membaik, langsung bisa pulang,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf mengatakan, dalam menangani demam berdarah dengue (DBD), pemerintah sudah memiliki program pelatihan juru pemantau jentik (Jumantik) yang tersebar hingga ke tingkat desa. “Bila DBD meningkat, Kecamatan atau Desa harus segera mengoptimalkan fungsi jumantik,” ujar Dede.
Menurut Dede, Jumantik bisa melakukan pemantauan terhadap lingkungan yang disinyalir terdapat nyamuk aedes aegypti. Penyebar virus DBD. Bila dalam satu daerah ditemukan ada nyamuk aedes aegypti, kata dia, maka dinas kesehatan bisa melakukan langkah- langkah lanjutan, seperti memberikan bubuk abate. "Fogging atau pengasapan jika diperlukan,” ujarnya.
Baca juga : Gelar Pengobatan Gratis, Gempari Pulihkan Korban Banjir Gowa
Selain itu, politikus Demokrat ini meminta masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan, terutama melakukan pembersihan terhadap tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, seperti wadah-wadah air, kaleng bekas dan benda lainnya. “DBD bisa dicegah dengan meminimalisir sarang nyamuk,” ujarnya. [TIF]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya