Dark/Light Mode

DKI Keluar Dari 10 Kota Termacet Di Dunia

PSBB Di Jakarta Bikin Jalanan Lancar

Senin, 18 Januari 2021 06:00 WIB
Ilustrasi suasana Jalan Sudirman, Jakarta lengang sejak diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Ilustrasi suasana Jalan Sudirman, Jakarta lengang sejak diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemacetan di Jakarta berkurang drastis sejak diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Berdasarkan TomTom Traffic Index yang dirilis belum lama ini, tingkat kemacetan Ibu Kota mencapai 36 persen dan berada di peringkat 31 kota termacet di dunia.

Hasil penilaian dari TomTom tersebut diunggah oleh akun instagram resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Menurut TomTom Traffic Index terbaru, Jakarta keluar dari 10 besar kota termacet di dunia. Kini, Jakarta berada di posisi ke 31 dari total 416 kota lain, yang berarti kemacetan semakin berkurang,” tulis akun Pemprov DKI Jakarta @DKIJakarta, Minggu (17/1).

Berita Terkait : Ngeri-ngeri Sedap, Tol Macet, Bus Transjakarta Berdesakan

Berdasarkan data yang diunggah akun Twitter @DKIJakarta, Ibu Kota sempat berada di peringkat ke-4 sebagai kota termacet di dunia pada 2016, dengan tingkat kemacetan 61 persen.

Kemudian, peringkat itu menurun pada 2017. Di mana, Jakarta tercatat jadi kota ke-7 yang paling macet di dunia.

Peringkat tersebut kembali turun pada 2018. Jakarta berada di peringkat ke-10 sebagai kota termacet di dunia, dengan tingkat kemacetan 53 persen.

Saat ini, Jakarta berhasil keluar dari 10 besar kota termacet di dunia. Pada 2020, Jakarta menduduki peringkat ke-31 kota termacet dari 416 kota di dunia.

Berita Terkait : Ini 5 Lokasi Layanan Perpanjang SIM Di Jakarta

“Sejak 2017, peringkat Jakarta terus membaik hingga tahun ini keluar dari 10 besar dan berada di peringkat 31 dengan persentase 36 persen (turun 17 persen dari tahun sebelumnya). Artinya, Jakarta semakin tidak macet,” demikian penjelasan dari data yang diunggah Pemprov DKI Jakarta.

Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta dituntut serius mengatasi kemacetan di Ibu Kota.

Sistem Transportasi yang saling terintegrasi serta penegakan hukum yang tegas juga diperlukan untuk mengurai kemacetan.

Anggota DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike meminta Pemprov DKI Jakarta jangan terlalu bangga dengan hasil indeks lalu lintas TomTom. Menurut dia, penurunan kemacetan itu bukan karena kinerja Pemerintah.

Baca Juga : Cagliari Vs AC Milan, Radja Nainggolan Cari Pelampiasan

“Program kemacetan Pemprov DKI Jakarta belum berjalan. Baik itu Jak Lingko atau Transit Oriented Development (TOD). Jadi, DKI jangan cepat bangga,” kata Yuke.

Dalam pandangan politisi PDIP ini, kemacetan berkurang ketika pola transportasi makro berjalan. Antara lain, perbaikan dan penambahan moda transportasi yang saling terintegrasi. Lalu, adanya penambahan infrastruktur transportasi dan pengendalian lalu lintas.

“Kalau pengendalian lalu lintas masih manual dan tidak diperluas. Sulit mengatakan kemacetan berkurang di Jakarta. Jadi, saya melihat kemacetan berkurang di Jakarta itu saat penyelenggaraan Asian Games saja,” katanya.
 Selanjutnya