Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kasus Covid-19 Di Ibu Kota Turun

Lega Boleh, Asal Tetap Waspada

Kamis, 29 Juli 2021 06:20 WIB
Ilustrasi Covid-19. (Foto: Freepik)
Ilustrasi Covid-19. (Foto: Freepik)

RM.id  Rakyat Merdeka - Politisi Kebon Sirih mewanti-wanti Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar tidak terlena dengan penurunan jumlah kasus positif Covid-19. Karena, angka penularan virus tersebut masih tinggi.

“Bersyukur karena kasus melandai, boleh-boleh saja. Tetapi tetap harus waspada,” ungkap Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Mujiyono, di Jakarta, kemarin.

Politisi Demokrat ini meminta Pemprov DKI Jakarta tidak menurunkan standar testing dan tracing walau kasus Covid-19 di Jakarta mulai melandai. Sebab, ada kekhawatiran penurunan jumlah kasus dipicu karena jumlah testing berkurang.

Berita Terkait : Fasilitas Isolasi Di DKI Masih Kosong, Warga Isoman Diharap Mau Pindah

“Keberhasilan menangani pandemi Covid-19 diukur dari positivity rate yang rendah. Itu berarti angka testing naik, tapi jumlah kasus positifnya turun,” tegasnya.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane mengingatkan, angka kematian akibat Covid-19 di Jakarta tinggi dampak dari Pemprov DKI lambat menemukan kasus positif baru. Akibatnya, banyak kondisi pasien Covid-19 sudah buruk saat ditemukan.

“Angka kematian akibat Covid-19 di Jakarta pekan lalu naik dua kali lipat dari pekan sebelumnya. Artinya banyak kasus terlambat ditemukan,” kata Masdalina.

Berita Terkait : Kasus Mulai Turun, Anies Minta Warga Tetap Waspada

Masdalona meminta Pemprov DKI lebih agresif dalam menemukan kasus baru Covid-19. Program testing dan tracing harus mencapai target yang telah ditentukan.

Aktif Testing

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengakui testing Covid-19 di Jakarta mengalami penurunan. Dalam periode 19-25 Juli lalu, testing PCR (polymerase chain reaction) di Jakarta mengalami penurunan, yakni 185.277 orang dengan jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 45.961 kasus.

Berita Terkait : Kasus Melonjak, Covid-19 Ngamuk Di Asia Tenggara

“Testing dan tracing itu kan tergantung dari kasus. Semakin tinggi kasusnya semakin meningkat juga testing karena kan berpijaknya dari satu kontak testing. Kalau jumlah kasusnya menurun, tentu jumlah testing-nya juga menurun,” dalih Widyastuti, di Jakarta, Selasa (27/6).

Widyastuti menjelaskan, pelaksanaan testing tidak bersifat pasif sampai adanya laporan konfirmasi kasus. Testing tetap dilakukan mengikuti pelacakan kontak erat. Apabila tidak ada laporan kasus baru, testing tetap dilakukan dengan melacak orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Dipaparkannya, ada dua cara sebagai dasar untuk testing. Pertama, tes untuk menemukan kasus baru. Kedua, tes berdasarkan kontak erat. Namun di Jakarta, hampir sebagian besar merupakan testing berdasarkan kontak erat.
 Selanjutnya