Dark/Light Mode

Kasus Melonjak, Covid-19 Ngamuk Di Asia Tenggara

Selasa, 27 Juli 2021 05:10 WIB
Petugas memeriksa para penumpang di Bandara Changi, Singapura, untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. (Foto : ROSLAN RAHMAN/AFP VIA GETTY IMAGES).
Petugas memeriksa para penumpang di Bandara Changi, Singapura, untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. (Foto : ROSLAN RAHMAN/AFP VIA GETTY IMAGES).

RM.id  Rakyat Merdeka - Covid-19 makin ngamuk di sejumlah Asia Tenggara. Jumlah kasusnya makin meroket. Masifnya penularan Covid-19 akibat virus varian Delta. Asia Tenggara disebut menjadi pusat virus global itu.

Dilansir Reuters, kema­rin, Thailand melaporkan 15.376 kasus virus Corona. Angka tersebut menjadi rekor harian selama dua hari berturut-turut di negara dengan penduduk lebih dari 66 juta itu.

Sementara Malaysia, salah satu negara dengan tingkat in­feksi per kapita tertinggi di Asia Tenggara, melaporkan pada Minggu (25/7/2021), 17.045 kasus baru. Sehingga total kasus Covid-19 menjadi 1.013.438. Sedangkan jumlah kematian mencapai 8.000 orang. Negeri jiran itu telah memberlakukan lockdown demi mengekang penularan virus SARS-Cov-2 itu.

Berita Terkait : Wapres Minta Pengurus MUI Sejalan Dengan Pemerintah Soal Covid-19

Rumah sakit dan tenaga kesehatan (nakes) di Asia Tenggara yang berpenduduk lebih dari 650 juta orang pun kewalahan. Mereka melaporkan kekurangan tempat tidur, ventilator, hingga oksigen.

Puncaknya, kemarin. Ribuan dokter kontrak Malaysia mogok kerja. Para dokter menuntut penempatan permanen, perbaikan gaji dan tunjangan yang lebih baik. Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yas­sin telah menjanjikan perpan­jangan kontrak hingga empat tahun. Tapi menurut mereka itu tidak cukup.

Dengan sistem yang ada saat ini, dokter kontrak terancam menganggur setelah pelatihan selama lima tahun berakhir. Se­bab, pemerintah tidak memiliki anggaran untuk mengangkat mereka menjadi pegawai tetap.

Berita Terkait : Warga Eropa Dan Australia Demo Tolak Prokes Ketat

Meski menggelar protes, para dokter tersebut menja­min pelayanan tidak terganggu. Mereka tetap bekerja bergiliran. Jika diperlukan, mereka harus kembali ke pos dan memberikan layanan pada pasien kritis.

Direktur Jenderal Kementeri­an Kesehatan Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan, pasien tetap berisiko tanpa hadirnya para dokter. Dia juga mengingat­kan, para dokter kontrak terikat sumpah.

Kementerian Kesehatan mengeluarkan pedoman yang mem­peringatkan pegawai negeri sipil, termasuk dokter kon­trak pemerintah, agar tidak bergabung dengan pertemuan ilegal. Namun para dokter kon­trak berpendapat, mereka telah memberikan segalanya selama pandemi yang berlangsung sejak 1,5 tahun lalu. Namun, mereka khawatir akan menganggur jika kontrak selesai.
 Selanjutnya