Dewan Pers

Dark/Light Mode

Yakin Covid Jadi Endemi

Rakyat Indonesia Kekebalannya Super

Rabu, 24 Nopember 2021 07:00 WIB
Pakar Bioteknologi, Bimo Ario Tejo saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Rakyat Merdeka, Selasa (23/11/2021). (Foto: YouTube RakyatMerdeka TV)
Pakar Bioteknologi, Bimo Ario Tejo saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Rakyat Merdeka, Selasa (23/11/2021). (Foto: YouTube RakyatMerdeka TV)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bila kasus Corona yang menyenangkan seperti sekarang ini terus bertahan, Insya Allah, tahun depan, status pandemi bakal berubah jadi endemi. Corona yang awalnya menyeramkan akan jadi sejenis penyakit flu biasa.

Prediksi ini disampaikan Pakar Bioteknologi, Bimo Ario Tejo saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Rakyat Merdeka, semalam. Pandangan ini disampaikan Bimo dengan berbagai indikator. Salah satunya, kondisi rakyat Indonesia yang memiliki kekebalan super. “Insya Allah, tahun depan, pandemi ini akan berubah menjadi endemik. Dan kita kembali ke kehidupan normal,” begitu kalimat pamungkas Bimo di akhir FGD.

Karena kekebalan super yang dimiliki rakyat Indonesia ini juga, Bimo memiliki pandangan yang sama dengan Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, soal gelombang ketiga. Kata dia, kecil kemungkinan terjadi gelombang ketiga dengan lonjakan kasus besar seperti di bulan Juli lalu.

Berita Terkait : 3,5 Juta Vaksin Pfizer Dari Paman Sam Tiba Di Indonesia

Kekebalan super ini, kata Bimo, bukan karena kesaktian vaksin Sinovac yang selama ini paling banyak disuntikkan ke rakyat Indonesia. “Saya tidak berpikir karena kesaktian vaksin Sinovac, tidak,” ucap Bimo, dengan tertawa kecil.

Pemicu terbentuknya kekebalan super ini, kata dia, karena Indonesia baru gencar-gencarnya melakukan vaksinasi ketika dihantam gelombang kedua. Di saat sudah banyak masyarakat yang terpapar virus Corona.

“Orang Indonesia itu rata-rata sudah terkena Covid, terus divaksin. Jadi kekebalannya dobel. Kita menyebutnya sebagai kekebalan super atau super immunity,” terang peneliti kimia farmasi ini. Super immunity ini, jelas Bimo, adalah kekebalan dari infeksi alami lalu ditambah vaksin.

Berita Terkait : BNI Smart Trade Siap Jembatani Indonesia Dan Dunia

Kondisi ini yang tidak dimiliki oleh negara lain dan akhirnya mengalami serangan gelombang ketiga, meskipun tingkat vaksinasi di negara tersebut sudah melampui 80 persen.

“Singapura, mereka lockdown terlalu lama. Rakyatnya tidak terekspos oleh virus. Jadi rakyatnya divaksin dulu, setelah lebih dari 80 persen baru mereka membuka diri,” jelas Associate Professor Universiti Putra Malaysia, ini.

Akibatnya, lanjut Bimo, rakyat Singapura tidak berpengalaman terekspos virus. Karena itu kemudian kasusnya naik. Sementara Indonesia, rata-rata rakyatnya sudah terpapar dan menimbulkan kekebalan alami.
 Selanjutnya