Dark/Light Mode

Sinergi Bareng Dinas LH PPU

PHKT : Program Bulatih Jadi Salah Satu Solusi Penanganan Sampah

Senin, 6 Desember 2021 10:13 WIB
Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menginisiasi Program Budidaya Lalat Hitam atau Bulatih di Penajam Paser Utara (PPU).
Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menginisiasi Program Budidaya Lalat Hitam atau Bulatih di Penajam Paser Utara (PPU).

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) sukses menjalankan Program Budidaya Lalat Hitam atau Bulatih di Penajam Paser Utara (PPU). Program ini menjadi solusi di tengah tingginya harga pakan ternak.

Dalam jangka panjang, program ini juga diharapkan bisa mengatasi permasalahan sampah di Penajem Paser Utara yang kini ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara (IKN) baru.

Pasalnya, penetapan PPU sebagai IKN diproyeksikan bakal menimbulkan permasalahan sampah dalam waktu 10 tahun kedepan.

Assistant Manager Environmental Zona 10, Chandra Sunaryo, menegaskan, program Bulatih merupakan bentuk nyata komitmen PHKT untuk menghadirkan inovasi dalam pengelolaan lingkungan tidak hanya di internal Perusahaan.

Namun juga dapat memberikan efek lebih luas kepada masyarakat di Kabupaten PPU.

“Program inovasi ini pun diharapkan dapat berkontribusi dalam persiapan Kabupaten PPU menjadi Ibu Kota Negara baru yang ramah lingkungan,” tambah Chandra.

Bulatih merupakan progam pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan dengan pemanfaatan dan pengelolaan sampah organik melalui budidaya lalat BSF (Black Soldier Fly) yang hasilnya digunakan sebagai alternative pakan ternak.

Baca juga : Sinergitas Para Pihak, Kunci Keberhasilan Penanganan Banjir Kalbar

“Progam Bulatih mengajarkan masyarakat akan manfaat yang didapatkan dari sampah organik yang selama ini tidak dimanfaatkan, padahal memiliki nilai ekonomi jika dimanfaatkan dengan metode yang tepat,” katanya.

Superintendent Terminal Lawe-Lawe, Bagus Wibatsu Wahyuntoro menceritakan, progam Bulatih mulai diinisiasi di Terminal PHKT Lawe-Lawe pada pertengahan tahun 2019.

Awalnya dimulai dengan memanfaatkan sampah organik sisa makanan catering dari dapur Terminal Lawe-Lawe.

“Program tersebut berhasil dan mampu menekan neraca buangan limbah sampah organik ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” kata Bagus kepada pers di Pondok Pesantren Hidayatullah Girimukti di Penajam Paser Utara, Minggu (5/12/2021).

Program Budidaya Lalat Hitam merupakan program CSR unggulan PHKT di wilayah Daerah Operasional Bagian Selatan. Program ini menjadi kandidat Proper Emas tahun 2021.

Inovasi pengelolaan sampah yang diikutsertakan dalam ajang Proper 2021 ini diharapkan pula dapat menjadi opsi atau pilihan bagi pemerintah setempat dalam pengelolaan sampah dan lingkungan di wilayah PPU sebagai ibu kota negara.

Program Bulatih saat ini dijalankan oleh 3 kelompok masyarakat yaitu Kelompok Himpuli dan Kelompok Hidayatullah di Desa Girimukti serta untuk pemberdayaan wanita kepada Kelompok Usaha Wanita Maggot Lestari di Kelurahan Tanjung Tengah.

PHKT memfasilitasi pembuatan kandang, bantuan alat untuk proses produksi BSF, hingga pelatihan dan pendampingan selama proses berlangsung. Ketiga kelompok binaan PHKT merasa sangat terbantu dengan adanya pakan alternatif berupa maggot untuk hewan ternaknya.

Baca juga : KPK Dalami Penerimaan Uang Haram Bupati Probolinggo Dan Suaminya

Kelompok peternak unggas dapat berhemat sebesar 30 persen untuk biaya pakan atau setara dengan Rp 828.000 per 3 bulan. Besarnya penghematan tersebut dapat digunakan untuk ternak 100 ekor unggas.

Pak Dani Ketua HIMPULI (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) cabang kab. PPU memberi makan campuran magot, dedak dan singkong pada ternak bebeknya. (Dok. PHI)

Sementara bagi kelompok peternak lele dapat berhemat sebesar Rp 3.000.000/bulan. Mulai Januari-Agustus 2021 sampah organik yang telah dimanfaatkan untuk pakan maggot pun terus meningkat hingga mencapai hampir 1,7 ton.

Pak Zubair, local hero dari Pondok Pesantren Hidayatullah, di depan kandang magot dan bioflok budidaya lele ponpes Hidayatullah. (Dok. PHI)

Ditempat sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Penajam Paser Utara, Tita Deritayani menyambut baik dan mendukung program Bulatih.

Ia melihat, program tersebut sejalan dengan target Pemkab PPU dalam menangani sampah organik di masyarakat.

“Program Bulatih juga sebagai upaya mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat bahwa sampah tidak cuma untuk dibuang di tempat pembuangan, tetapi juga bisa memberi manfaat sosial dan ekonomi,” kata Tita.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Penajam Paser Utara, Tita Deritayani (tengah) menyambut baik dan mendukung program Bulatih.

Menurutnya, menyelesaikan masalah sampah juga termasuk mengubah perilaku dan pola berfikir, bagaimana cara dimanfaatkannya, yang merupakan tugas dari Dinas Lingkungan Hidup untuk bersinergi dengan sekolah, dan masyarakat.

“Kami berharap program ini berkelanjutan dalam upaya memaksimalkan sampah organik,” katanya.

Baca juga : PKS: Indonesia Bisa Jadi Pelopor Perdamaian Lho

Ia mengungkapkan rencana ke depan untuk mendirikan Sentra Edukasi Pengelolaan Sampah Organik di TPS3R Kabupaten PPU, memfasilitasi perluasan jaringan pemasaran produk maggot, melakukan pengembangan produk daur ulang sampah, memberikan literasi kurikulum muatan lokal pemanfaatan sampah organik dan budi daya lalat hitam.

Dan, penguatan unit usaha kelompok.

"Kami akan gencarkan edukasi dan membuat pusat percontohan Bulatih. Diharapkan badan usaha juga ikut memberikan dukungan mengingat anggaran Pemerintah yang masih terbatas," katanya.

Pengelola Ponpes Hidayatullah Mursid saat menunjukkan magot. (Dok. PHI)

Pengelola Ponpes Hidayatullah Mursid, mengatakan santri yang dilibatkan dalam Program Bulatih sekitar 30 santri putra tingkat SMA.

Superintendent Terminal Lawe-Lawe, Bagus Wibatsu Wahyuntoro (tengah) menceritakan, progam Bulatih mulai diinisiasi di Terminal PHKT Lawe-Lawe pada pertengahan tahun 2019.

Program Bulatih ini juga dijadikan ajang penerapan edupreneurship di Pondok Pesantren Hidayatullah dan dimasukkan dalam ekstrakurikuler siswa SMA berupa budi daya lalat hitam dan pemanfaatan maggot sebagai pakan lele dengan menggunakan biofolk.

"Hasil budi daya lele tersebut selain dijual, sebagian juga dimanfaatkan sebagai konsumsi para santri di Ponpes Hidayatullah," ujar Mursid. [FAZ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.