Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kurikulum Merdeka Dan Peningkatan Minat Belajar Siswa

Kamis, 3 Maret 2022 16:42 WIB
Nurlaeli, M.Pd. (Foto: Istimewa)
Nurlaeli, M.Pd. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Oleh: Nurlaeli, M.Pd.

Penyebaran Covid-19 selama dua tahun terakhir berdampak besar pada dunia pendidikan. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di awal-awal pandemi Covid-19 tidak seefektif pembelajaran tatap muka. Sayangnya, saat uji coba tatap muka  dilaksanakan, kita dilanda gelombang ketiga Covid-19 dengan hadirnya varian Omicon. Dengan terpaksa, sebagian sekolah kembali menerapkan sistem PJJ.

Sistem PJJ yang terlalu lama ini, berdampak pada berkurangnya minat siswa dalam belajar. Apalagi jika materi pelajaran yang diberikan monoton, hanya berupa hapalan-hapalan semata. Akibatnya, terjadi hilangnya pembelajaran alias learning loss, seperti disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim. Selain itu, PJJ juga menyulitkan guru dalam membina karakter dan budaya sekolah serta menurunnya minat peserta didik dalam belajar.

Berita Terkait : Reses Ke Subang, Warga Keluhkan Kelangkaan Minyak Goreng Kemasan

Sebagai guru, adanya penurunan minat belajar ini terasa betul. Dalam kegiatan belajar mengajar, banyak peserta didik yang menyepelekan dan mengabaikan tugas dari guru. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor. Di antaranya, siswa menganggap PJJ tidak nyaman, membosankan, dan tidak menyenangkan.

Mengenai ketidaknyaman pembelajaran di masa pendemi ini, pada 2020, UNICEF melakukan survei terhadap 4.000 siswa di 34 provinsi Indonesia, melalui kanal U-Report yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Messenger. Hasilnya, sebanyak 66 persen siswa dari berbagai jenjang pendidikan mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi Covid-19 (unicef.org, 2020).

Untuk mengatasi krisis pembelajaran, Nadiem Makarim meluncurkan Merdeka Belajar Episode Kelima belas: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar, secara daring, Jumat (11/2). Merdeka Belajar episode kelima belas ini adalah penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kurikulum dalam kondisi khusus (kurikulum darurat) yang dapat efektif memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pademi Covid-19.

Berita Terkait : Heroik, Perjuangan WNI Tinggalkan Ukraina Saat Pertempuran Sengit

Nadiem menyebutkan, beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka. Pertama, lebih sederhana dan mendalam karena kurikulum ini akan fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Kedua, tenaga pendidik dan peserta didik akan lebih merdeka. Bagi peserta didik, tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Sedangkan bagi guru, mereka akan mengajar sesuai tahapan capaian dan perkembangan peserta didik. Lalu sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

Dengan keleluasaan seperti ini, diharapkan proses pembelajaran akan lebih menyenangkan, baik bagi para siswa maupun para guru. Sehingga minat siswa dalam belajar akan tumbuh lagi, dan potensi learning loss bisa dihindari.

Suasana bahagia sangat penting dalam proses pembelajaran. Menurut Delpianus Piong, suasana bahagia dapat meningkatkan produktivitas siswa. Ketika siswa tersebut sedang bahagia, produktivitasnya akan meningkat dengan sendirinya. Siswa yang bahagia cenderung akan lebih giat belajar sehingga kontribusi mereka meningkat dengan signifikan ketimbang mereka yang tidak sedang bahagia (Piong, 2020: 291).
 Selanjutnya