Dewan Pers

Dark/Light Mode

Masyarakatnya Rajin Membaca, Kemiskinan Di Banda Aceh Turun Signifikan

Kamis, 19 Mei 2022 16:25 WIB
Kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Kota Banda Aceh, Kamis (19/5). (Foto: Dok. Perpusnas)
Kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Kota Banda Aceh, Kamis (19/5). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banda Aceh tercatat sebagai salah satu kota yang memiliki partisipasi masyarakat yang tinggi dalam produktif menciptakan barang dan jasa, termasuk memanfaatkan potensi wilayah menjadi objek wisata. Alhasil, Kota Banda Aceh sukses menurunkan angka kemiskinan yang signifikan. Di 2021 menjadi momentum kebangkitan ekonomi. Angka pendapatan per kapita Kota Banda Aceh mencapai Rp 78 juta.

“Pemerintah Kota Banda Aceh sangat berfokus pada pemberdayaan masyarakat sehingga kami dapat memfasilitasi produktivitas masyarakat,” ungkap Wali Kota Banda Aceh Aminullah, dalam kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Kota Banda Aceh, Kamis (19/5).

Kebangkitan tersebut terhitung cepat mengingat penurunan ekonomi akibat pandemi yang panjang. Aminullah menyatakan, capaian tersebut karena faktor masyarakat Kota Banda Aceh yang senang membaca. "Makanya, kami sediakan banyak pojok baca di kedai-kedai kopi," tambahnya.

Berita Terkait : JK Serahkan Kepemimpinan IKA Unhas Ke Amran Sulaiman

Namun, raihan ini menciptakan tantangan berikutnya, yakni bagaimana memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital sehingga produksi masyarakat Kota Banda Aceh semakin luas dikenal. Anggota Komisi X DPR Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan, 60 persen pekerjaan di dunia akan diotomasi, dan 26 juta pekerja baru tercipta dari UMKM akibat adanya e-commerce.

"Agar terus relevan dengan perkembangan zaman, masyarakat tetap terus meng-upgrade dirinya dan mengusai ilmu dan perkembangan teknologi," terang Illiza.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala Syaifullah Muhammad mengakui, produktivitas masyarakat Aceh sudah baik. Maka, yang diperlukan saat ini adalah perluasan atau pemasaran produk barang/jasa yang dihasilkan.

Berita Terkait : KSP: Masyarakat Bisa Terlibat Dalam Perumusan Aturan Turunan UU TPKS

“Lima tingkatan literasi yang sering disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam berbagai kesempatan dipahami betul masyarakat Banda Aceh. Tinggal Pemerintah Kota untuk menarik minat para investor meluaskan pemasaran produk barang/jasa hasil literasi masyarakat,” ujar Syaifullah.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi menjelaskan lima tingkatan literasi tersebut. Pertama, kemampuan baca tulis hitung. Kedua, kemampuan mengakses bahan bacaan terjangkau yang akurat, terkini, terlengkap, dan terpercaya. Ketiga, kemampuan memahami yang tersirat dan yang tersurat. Keempat, kemampuan inovasi dan kreativitas sebagai antisipasi terhadap perkembangan teknologi informasi dan perubahan. Kelima, kemampuan menciptakan barang/jasa yang dapat digunakan dalam kompetisi global.

“Jika semua tingkatan literasi mampu dipahami dan dapat dielaborasi dengan baik, kita tidak akan lagi menjadi masyarakat konsumen. Melainkan masyarakat produsen,” jelas Dedi.

Berita Terkait : Suka Cita Masyarakat Indonesia Rayakan Idul Fifri Di Bangkok

Fakta lain justru disuarakan pegiat literasi Yarmen Dinamika. Meski masyarakat Aceh masuk ke dalam peringkat 10 besar memanfaatkan digitalisasi ketika berliterasi, namun mereka juga tinggi dalam penerimaan berita hoaks. “Artinya, pemahaman digital juga harus selaras dengan kemampuan literasi dan berpikir kritis agar lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi digital,” ucapnya.

Kegiatan PILM juga dirangkaikan penandatanganan Nota Kesepakatan dan Kesepahaman antara Perpustakaan Nasional dengan 25 perguruan tinggi dan pemerintah daerah di Provinsi Aceh.■