Dewan Pers

Dark/Light Mode

Bane Raja Manalu: Semua Orang Bisa Merdeka Secara Keuangan

Minggu, 19 Juni 2022 17:01 WIB
Staf Khusus Menkumham, Bane Raja Manalu (tengah), pada acara Program Pengembangan Kapasitas Kolaborasi Memajukan Ekonomi Kaum Ibu Bersama PNM (Mekaar) dan Kemenkumham, di Pematangsiantar, Sabtu (18/6). (Foto: Istimewa)
Staf Khusus Menkumham, Bane Raja Manalu (tengah), pada acara Program Pengembangan Kapasitas Kolaborasi Memajukan Ekonomi Kaum Ibu Bersama PNM (Mekaar) dan Kemenkumham, di Pematangsiantar, Sabtu (18/6). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Maju tidaknya sebuah keluarga salah satunya ditentukan peran seorang ibu. Mereka adalah manager rumah tangga. Begitu ada kaum ibu membuka usaha, itu hal yang sangat luar biasa.

Demikian diungkapkan Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM, Bane Raja Manalu, pada acara Program Pengembangan Kapasitas Kolaborasi Memajukan Ekonomi Kaum Ibu Bersama PNM (Mekaar) dan Kemenkumham. Acara yang dihadiri sekitar 250 ibu-ibu itu dilaksanakan di Hall Hotel Sapadia Pematangsiantar, Sabtu (18/6). Pada kesempatan itu, Bane menegaskan bahwa semua orang ingin kaya, tapi tidak semua bisa kaya raya.

"Tapi, saya yakin bahwa semua orang bisa merdeka secara keuangan. Merdeka secara keuangan itu adalah mencukupi, tidak kesulitan untuk biaya sekolah anak, tidak kesulitan untuk biaya kesehatan, tidak kesulitan untuk biaya liburan. Untuk merdeka secara keuangan, jangan bergantung kepada satu penghasilan saja. Jangan hanya bergantung kepada penghasilan suami," ujar alumni SMA Negeri 3 Pematangsiantar ini, seperti keterangan yang diterima redaksi, Minggu (19/6).

Berita Terkait : Waketum Partai Garuda: Selamatkan Buruh Dari Politisasi Partai Buruh

Dalam membuka bisnis, lanjutnya, perlu merek. Karena merek itu adalah identitas. Merek akan memudahkan konsumen untuk mengingat. Merek juga ciri khas dari sebuah produk. Merek yang unik dan mudah diucapkan akan menjadi mudah diingat konsumen.

Selain merek, logo pada suatu brand juga berperan sebagai unsur yang diingat secara visual, simbol atau font yang memiliki filosofi merek. Selanjutnya, agar ada permintaan yang berkelanjutan, pengusaha harus komitmen memberikan manfaat. Jaminan kualitas tertentu untuk konsumen bertujuan untuk pembelian berkelanjutan.

Kemudian, ditanamkan value atau nilai, kualitas bahan dasar yang digunakan. Karena itu menjadi citra yang akan dikenal di benak konsumen. "Kalau menjadi pengusaha harus ada komitmen dari diri dan pengorbanan," sambung alumni Universitas Indonesia ini.

Berita Terkait : Zulhas: Terus Terang, Saya Shock Juga...

Selanjutnya, menguatkan merek dengan perlindungan hukum. Hal ini penting agar merek itu berdampak secara ekonomi. Komersialiasi kekayaan intelektual semua terkait ekonomi dan dampaknya secara ekonomi. Tanpa ada nilai ekonomi, tidak ada kekayaan intelektual.

Lebih lanjut, pendiri Yayasan Bagak (Bane Bergerak) menerangkan, hak cipta adalah hak ekslusif pencipta yang timbul otomatis setelah didaftarkan. Sedangkan hak moral untuk dicantumkan namanya saat karya yang dibuat digunakan pihak lain. Hal ini selamanya melekat pada pencipta karya. Hak moral juga merupakan hak untuk melarang orang lain mengubah karyanya.

Sementara, hak ekonomi untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari penggunaan karya cipta. Hak ekonomi juga bisa didapatkan melalui karya yang digandakan atau diadaptasikan ke versi lain.

Berita Terkait : Pengamat: Koalisi Semut Merah Bisa Layu Sebelum Berkembang

Menurut Bane, banyak manfaat kalau usaha memiliki badan hukum. Di antaranya, akan memiliki akses lebih luas dalam memperoleh pinjaman modal usaha dari perbankan, serta dapat menjadi penerima bantuan Pemerintah (permodalan, pembinaan, maupun akses pasar).

Dengan berbadan hukum, UMKM lebih mudah mengekspor barang produksinya ke mancanegara. Sayangnya, dari 64 juta UMKM, baru 11 persen yang terlindungi kekayaan intelektualnya.

Bane lalu menyampaikan pesan Menkumham Yasonna H Laoly. "Lindungi kekayaan intelektualmu, jangan setelah dicuri baru kita ribut," ujarnya.■