Dewan Pers

Dark/Light Mode

Penyitaan Aset Vendor E-KTP Di Amerika

KPK Masih Tekor

Selasa, 28 Juni 2022 07:30 WIB
Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri. (Foto: ANTARA).
Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri. (Foto: ANTARA).

RM.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima pengembalian duit korupsi proyek e-KTP 5,95 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 86,6 miliar.

Fulus ini hasil penyitaan aset mendiang Johannes Marliem di Amerika. Mantan Direktur Biomorf Lone itu diketahui menangguk 50 juta dolar dari proyek e-KTP. Kalau dihitunghitung, KPK masih tekor ya.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan pengembalian uang itu merupakan asset recovery yang dilakukan US Marshall. Johanes Marliem merupakan orang Indonesia yang kemudian menjadi warga negara Amerika .

“Pemberian asset recovery tersebut diserahkan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia di Gedung Merah Putih KPK,” kata Ali.

Ketua KPK Firli Bahuri berterima kasih kepada Pemerintah Amerika Serikat yang telah membantu pengembalian kerugian negara pada kasus e-KTP.

“KPK berharap hubungan baik KPK dan Pemerintah AS terus terbangun semakin erat untuk mewujudkan Indonesia dan membangun peradaban dunia yang bebas dari korupsi,” kata Firli.

Berita Terkait : KPK Terima Asset Recovery Perkara e-KTP Senilai Rp 86 Miliar

Uang asset recovery ini akan disetorkan ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Namun pengembalian dana tak sebanding dengan hasil penelusuran Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat mengenai aset Johannes.

Pemilik vendor sistem identifikasi sidik jari otomatis itu, diduga menerima lebih dari 50 juta dolar untuk pembayaran subkontrak proyek e-KTP.

Hal itu terungkap dalam sidang upaya perampasan aset Johannes Marliem di Pengadilan Minnesota, Amerika Serikat, akhir September 2017 lalu.

Agen khusus FBI, Jonathan Holden mengatakan sebagian duit itu masuk ke rekening pribadi Marliem dan dialirkan ke sejumlah pejabat di Indonesia.

Marliem bekerja sama dengan satu perusahaan Indonesia untuk mendapatkan kontrak e-KTP bernilai 400 juta dolar Amerika atau setara Rp 5,3 triliun.

 

Berita Terkait : Penyelidikan Formula E, KPK Panggil Eks Sesmenpora

Pernyataan tertulis dari Holden menyebutkan bahwa Marliem berulang kali menyalurkan dana tunai enam digit ke para pejabat Indonesia baik langsung ataupun melalui perantara.

Holden menulis bahwa Marliem pernah membeli jam senilai 135 ribu dolar setara Rp1,8 miliar dari butik di Beverly Hills yang kemudian diserahkan kepada anggota DPR.

FBI juga menemukan catatan rekening bank milik Marliem. Ada duit masuk sebesar 13 juta dolar dari pembayaran kontrak proyek e-KTP padq Juli 2011 dan Maret 2014.

Holden mengutarakan dana itu dibelikan rumah di tepi danau di Minnesotta, mobil Bugatti 2,6 juta dolar, jam seharga 1,6 juta dolar dan 800 ribu dolar untuk menyewa jet pribadi.

Kemudian pada Februari 2017, KPK mendakwa dua pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharto menerima suap dalam proyek e-KTP yang terjadi pada 2009 hingga 2015.

Disebutkan dalam dakwaan bahwa Marliem merupakan penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP.

Berita Terkait : Fokus Persiapan Pemilu, Gelora Tak Tertarik Bicara Koalisi

Marliem juga disebut sebagai satu dari sejumlah orang yang diperkaya dan sebagai pihak yang menyerahkan suap kepada Irman dan Sugiharto.

Marliem pun dianggap sebagai saksi kunci. KPK sempat membujuk Marliem agar mau memberikan keterangan sebagai saksi. Setelah 18 bulan berunding, Marliem akhirnya sepakat bertemu penyidik KPK di Singapura.

Marliem mengaku memiliki bukti rekaman pembicaraan dengan para perancang proyek e-KTP. Termasuk rekaman pertemuannya dengan mantan Ketua DPR, Setya Novanto yang turut menjadi tersangka dan telah divonis bersalah.

Menurut Marliem, rekaman itu dibuat di setiap pertemuan, berkali-kali, dalam rentang waktu empat tahun lamanya. Ukuran file rekamannya cukup besar, mencapai 500 gigabyte.

Namun tak lama, Marliem dikabarkan mati bunuh diri pada Jumat, 11 Agustus 2017. ■