Dark/Light Mode

Sopir Truk Minta Diajak Duduk Bareng Soal Kebijakan Zero ODOL

Rabu, 13 Juli 2022 14:02 WIB
Penanggung Jawab APPN Princes Asami Athena (kanan). (Foto: APPN)
Penanggung Jawab APPN Princes Asami Athena (kanan). (Foto: APPN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Para sopir truk yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN) meminta diajak duduk bareng oleh Pemerintah sebelum kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Over Load) diterapkan. Sebab, menurut Penanggung Jawab APPN Princes Asami Athena, kebijakan Zero ODOL akan berdampak signifikan pada mata pencaharian para sopir truk.

“Kami yang selama ini disebut-sebut sebagai ujung tombak logistik di negara ini, kok kami merasa jadi sebagai pihak yang tertombak, salah satunya peraturan yang terkait Zero ODOL,” kata Princes, usai menandatangani kerja sama dengan Kantor Hukum Oase Law Firm, seperti keterangan yang diterima redaksi, Rabu (13/7).

Baca juga : Banjir Di Jakarta Utara Picu Kemacetan Parah

Dia memastikan, pada dasarnya, semua pengemudi logistik adalah orang-orang yang pro pemerintah, termasuk APPN. Tapi, untuk penerapan Zero ODOL, para pengemudi angkat bicara karena khawatir mengusik mata pencaharian mereka.

Wanita yang akrab disapa Inces ini menyatakan, penerapan kebijakan Zero ODOL akan sangat berdampak pada ekonomi para sopir truk dan keluarganya. “Masing-masing driver logistik itu rata-rata harus menghidupi beberapa orang di rumahnya, bisa 5, bisa 6, bisa 7,” tuturnya.

Baca juga : Sri Mulyani Disarankan Belajar Dari AS Soal Aset BLBI

Atas hal itu, Inces meminta agar APPN dan Pemerintah bisa duduk bareng untuk membahas masalah ini. “Biar kami juga bisa melihat sisi baiknya bagaimana. Jika memang kami diarahkan ke kanan, risiko yang kami dapat itu bagaimana. Jika kami diarahkan ke kiri, iesiko yang kami dapat itu bagaimana. Kami sangat paham urusan di jalan itu semua terkait dengan risiko dan bagaimana meminimumkan risiko itu. Tapi, ya jangan sampai risiko-risiko itu berbentuk kembali dan menjadi bumerang untuk kami juga,” ucapnya.

Dia mencontohkan seperti pemotongan truk yang biayanya harus ditanggung juga para sopir. “Mobil kami sudah dipotong, penggantian biaya kami belum pasti dari siapa. Ini kan namanya bumerang buat kami,” cetusnya.

Baca juga : Dunia Usaha Kudu Mampu Cegah Ketimpangan Gender

Soal safety riding, Inces menyatakan, yang paling mengerti di lapangan soal hal itu adalah para sopir logistik. “Tidak ada istilahnya driver itu mau terjadi laka (kecelakaan), atau terjadi trouble di jalan. Tidak ada yang mau seperti itu. Tapi kembali lagi, itu musibah dan itu risiko yang kami harus hadapi terkait dengan ODOL ini,” katanya.

Ia berharap, Pemerintah turut memikirkan nasib para sopir truk dari kebijakan Zero ODOL di 2023. Jika tidak, dia khawatir gejolak dari kalangan sopir tak bisa dibendung. "Karenanya, saya berharap aturan-aturan seperti Zero ODOL itu tidak memberatkan kami,” ucapnya.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.