Dewan Pers

Dark/Light Mode

BNPT Minta Mathlaul Anwar Ajak Masyarakat Suarakan Perdamaian Di Medsos

Kamis, 11 Agustus 2022 23:21 WIB
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar (Foto: Dok. BNPT)
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Media sosial masih banyak dimanfaatkan kelompok radikal intoleran untuk menyebarkan konten-konten berbau kekerasan, radikalisme, SARA, yang bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat. Mulai anak muda sampai orang tua pun mudah terhasut oleh konten-konten di media sosial. Untuk itulah, upaya menyuarakan perdamaian harus terus digencarkan di lingkungan masyarakat. Salah satunya melalui organisasi kemasyarakatan (Ormas), seperti Mathlaul Anwar.

“Kami memohon kepada keluarga besar Mathlaul Anwar untuk membekali anak didik muda kita dan masyarakat lingkungan sekitar dalam bermain media sosial agar dapat ilmu bermanfaat bukan dapat keburukannya. Jangan sampai anak muda terpapar paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa ini,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar saat Silaturahmi Kebangsaan dengan Keluarga Besar Mathlaul Anwar, di Perguruan Mathlaul Anwar Pusat Menes, Pandeglang, Banten, Kamis (11/8).

Boy menjelaskan, aksi terorisme, radikalisme, dan intoleransi bisa merusak bangsa, meruntuhkan ekonomi, hingga menimbulkan chaos di masyarakat. Salah satu contoh bentuk aksi terorisme adalah kejahatan di Papua yang membuat masyarakat merasa terancam karena banyaknya kasus pembunuhan dan meneror masyarakat. Boy juga memastikan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apa pun.

Berita Terkait : Boy Rafli Ajak Anak Muda Isi Ruang Digital Dengan Pesan Perdamaian dan Persatuan

“Tidak ada kaitannya semua terorisme dengan agama. Itu hanya salah persepsi oknum umat beragama. Terorisme itu bukan Islam. Jangan sampai terbawa pemahaman bahwa terorisme adalah perjuangan Islam. Mereka yang mendesain ini senang sekali jika terorisme dianggap merupakan bagian dari perjuangan Islam,” kata mantan Kapolda Papua ini.

Menurutnya, ulama-ulama besar di Indonesia merupakan ulama pejuang dan dengan prinsip cinta kepada negara. Karena perjuangan para tokoh ulama sesuai dengan tujuan bernegara untuk yaitu mencerdaskan bangsa. “Jangankan pakai senjata nuklir, generasi pejuang kemerdekaan yang hanya menggunakan bambu runcing saja sudah berani melawan penjajah yang ingin merebut Indonesia,” imbuhnya.

Hal ini, menurutnya, sangat jauh berbeda dengan negara lain yang gagal menjaga identitas nasional. Sedangkan bangsa Indonesia dijaga oleh tokoh bangsa dan tokoh ulama. Apalagi ketika proklamasi kemerdekaan RI, Soekarno-Hatta, didampingi tokoh bangsa dan juga ulama Islam.

Berita Terkait : Mantap! Arsari Group Jadi Perusahaan RI Pertama Kapalkan Produk Pertanian Rusia

“Kita bersyukur diberikan pondasi yang luar biasa kuat. Sebanyak 273 juta penduduk Indonesia dibangun atas pondasi dan masukan dari tokoh agama, para wali dengan berkah rahmat Allah SWT,” ujarnya.

Menurutnya, penting sekali mengajak keluarga besar Mathlaul Anwar untuk menyuarakan perdamaian di media sosial sebagai upaya untuk ikut membantu merawat nilai-nilai persatuan dan kesatuan di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, Mathlaul Anwar yang berdiri sejak 1916  telah memiliki lembaga pendidikan berbasis ke-Islaman sebanyak 900 lebih madrasah di Banten dan di 34 provinsi lainnya.

“Dengan cara seperti demikian, tentunya juga akan ikut menyelamatkan masyarakat Indonesia dari pengaruh paham radikalisme, terorisme, dan intoleransi. Untuk itu, mari kita menjaga selalu nilai persatuan dan kesatuan sebagaimana yang telah diajarkan pendiri negara kita dan alim ulama yang ikut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia,” ujar mantan Kapolda Banten ini.

Berita Terkait : Lanal Maumere Ajak Masyarakat Flores Budidaya Udang Vaname

Dalam kesempatan tersebut, Boy juga menjelaskan program Deradikalisasi Berbasis Kesejahteraan yang bekerja sama dengan Indonesia Power di Labuan, Pandeglang. “Kami berharap, dengan adanya kerja sama dengan Indonesia Power ini, ke depannya tidak ada lagi anak bangsa yang terjebak dalam paham radikalisme terorisme  dan terprovokasi oleh virus intoleransi,” ujarnya mengakhiri.

Sebelumya, Indonesia Power melalui Pesantren Mathlaul Anwar bekerja sama dalam memberdayakan eks narapidana terorisme (napiter) untuk mengolah limbah Flay As Bottom As (FABA) menjadi pupuk organik. Hasilnya, kebun kopi seluas 50 hektar yang dikelola eks napiter telah memanfaatkan pupuk organik tersebut dengan hasil yang sangat baik.

Ketua Umum Pengurus Besar Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarief menyatakan komitmennya bahwa Mathlaul Anwar, sebagai organisasi masyarakat berbasis Islam yang fokus dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, akan terus melawan radikalisme, terorisme dan intoleransi. “Di usianya yang ke-109 tahun ini, Mathlaul Anwar akan terus berada di tengah-tengah masyarakat untuk terus berkontribusi dalam dakwah dan pendidikan dengan terus merawat nilai-nilai persatuan dan kesatuan masyarakat bangsa ini,” ujarnya.■