Dewan Pers

Dark/Light Mode

IMM Ingatkan China Mau Jadi Negara Paling Berpengaruh Di ASEAN

Kamis, 15 September 2022 17:34 WIB
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). (Foto: Istimewa)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Misi China menjadi negara paling berpengaruh di Asia Tenggara adalah bukan barang baru. China terus berusaha keras untuk membangun dan memenuhi kepentingan hegemonik di Asia Tenggara. Antara lain dengan memanfaatkan Kamboja sebagai mata rantai baru dan menjadikan pos terdepan, untuk mengendalikan kawasan ASEAN.

Faktor kunci di balik pilihan China menggandeng Kamboja karena sama-sama mengadopsi rezim non-demokratis. Juga, stabilnya ekonomi Kamboja karena investasi Tiongkok terkonsentrasi dengan optimal.

Pangkalan Angkatan Laut China yang akan datang di Kamboja adalah salah satu contoh hubungan baik keduanya. Apalagi, Kamboja memang memiliki masalah demarkasi perbatasan darat yang belum terselesaikan dengan Vietnam, yang kebetulan merupakan saingan China dalam konflik di Laut Cina Selatan.

Ditambah lagi hubungan antara Kamboja dan Amerika Serikat yang mengalami stagnasi akhir-akhir ini, semakin berkontribusi pada konsentrasi dan pengaruh China di Kamboja.

Menanggapi hal ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) meminta negara-negara dunia khususnya ASEAN terutama Indonesia, untuk mewaspadai gerakan China dan Kamboja, yang patut diduga menjadi ancaman kedaulatan sebuah negara.

Berita Terkait : Badan Siber Dan Sandi Negara, Tolong Jangan Takabur Deh!

Ketua DPP IMM, Rimbo Bugis mengatakan, disharmonisasi Kamboja dengan Amerika dan ketegangan Kamboja-Vietnam merupakan pintu masuk yang dimanfaatkan China untuk menghangatkan hubungan dengan Kamboja.

“China telah berusaha untuk memperkuat kekuatan militer Kamboja untuk pendekatan perimbangan lepas panta guna mengantisipasi kemungkinan perang proksi,” kata Rimbo Bugis kepada wartawan, Kamis, (15/9).

Hal ini, tambahnya, memungkinkan China menghindari pengerahan secara langsung atau melibatkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) atau Angkatan Lautnya (PLAN) ke Kamboja.

"Pendirian pangkalan AL China di Kamboja, tentunya menimbulkan risiko keamanan yang besar bagi negara-negara di Asia Tenggara," tegas dia.

Apalagi dalam modernisasi dan perluasan Pangkalan Angkatan Laut Ream, dapat memungkinkan Angkatan Laut Kerajaan Kamboja (RCN) mengoperasikan kapal pengangkut rudal anti-kapal dan pertahanan udara. Misalnya kapal rudal Tipe 22 (kelas Houbei) China, korvet Tipe 056, dan Tipe 054A frigat.

Berita Terkait : Ketua MUI Kota Serang Ingatkan Pentingnya Moderasi Beragama

"Jauh berbeda dengan kemampuan RCN sebelumnya yang hanya memiliki kemampuan mengoperasikan kapal patroli tanpa rudal anti kapal," ungkapnya.

Bersamaan dengan pangkalan AL, Tiongkok terus menggencarkan proyek pembangunan infrastruktur skala besar yang dilakukan di Kamboja. Misalnya proyek Bandara Internasional Dara Sakor (landasan 3.900 meter) oleh Union Development Group China, dan pelabuhan laut sedalam 15 meter di Kampot.

Di mana pelabuhan tersebut akan memungkinkan kapal induk China serta kapal serbu amfibi Tipe 075, kapal pendarat tipe 072A dan kapal suplai armada China untuk berlayar.

“Di antara kepentingan jangka panjang China adalah mempromosikan konsep Jalan Sutra Maritim untuk mengamankan akses ke Teluk Thailand, dan memproyeksikan kekuatannya ke Samudra Hindia melalui Tanah Genting Kula,” jelas Rimbo.

IMM mensinyalir, China memiliki kepentingan geopolitik untuk mengamankan infrastruktur alternatif di Selat Malaka-Singapura, dan ingin menyelesaikan apa yang disebut "dilema Malaka". Mengingat ketergantungan Beijing yang tinggi pada impor minyak mentah (72 persen pada tahun 2021) dan fakta bahwa lebih banyak dari 65 persen minyak mentah impor diimpor dari negara-negara Timur Tengah, dan Afrika melalui Selat Malaka-Singapura.

Berita Terkait : HNW Ingatkan Pentingnya Keadilan Anggaran Pendidikan Keagamaan

"Bahkan jika impor bahan bakar fosil dari Rusia meningkat setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, China perlu terus meningkatkan impor minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika untuk memenuhi permintaan domestiknya yang kuat," tambah dia.

Pengaruh China atas ASEAN akan semakin diperkuat dengan pendekatan “rule of money” dan “rule of gun” alih-alih “rule of law”.

“Dengan demikian, negara-negara yang berpikiran sama apalagi terjebak utang Beijing, tidak akan mampu melawan pengaruh besar China kecuali mereka berkoordinasi dan secara kolektif mengelola aset, sumber daya negera dengan Tiongkok,” ucap Rimbo.

China diduga kuat akan lebih banyak membangun pangkalan militer seperti yang muncul di Kamboja. Sehingga dikhawatirkan menyulut ketegangan di LCS dan berpotensi menghancurkan kedaulatan negara-negara ASEAN.

“Ini akan mengubah Kamboja menjadi alat Cina. Negara-negara Asean dan dunia khususnya Indonesia seyogyanya waspada dengan langkah dan taktik Beijing ini,” pungkas Rimbo. ■