Dewan Pers

Dark/Light Mode

Banteng Baiknya Anteng

Jokowi Kasih Kode Ke Banyak Tokoh

Selasa, 29 November 2022 07:44 WIB
Presiden Jokowi saat bertemua relawan di GBK, Sabtu (26/11). (Foto: Ist)
Presiden Jokowi saat bertemua relawan di GBK, Sabtu (26/11). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - PDIP harusnya nggak usah baper, apalagi sampai ngamuk terkait kode "rambut putih" yang dilontarkan Presiden Jokowi. Soalnya, ini bukan pertama kalinya Jokowi kasih kode-kodean. Jokowi sudah banyak kasih kode seperti ini. Jadi, lebih baik banteng anteng saja ya...

Seperti diketahui, dalam pertemuan akbar relawan Gerakan Nusantara Bersatu, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (26/11) lalu, Jokowi menyebut ciri-ciri pemimpin yang mikirin rakyat dan harus dipilih. Jokowi sama sekali tidak sebut nama, termasuk inisialnya.

"Perlu saya sampaikan, perlu saya sampaikan. Pemimpin... pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan. Dari mukanya itu kelihatan," ucap Jokowi, disambut sorak-sorai para relawan.

Teriakan para relawan kian bergemuruh ketika mantan Wali Kota Solo itu menyebutkan rambut yang memutih sebagai salah satu cirinya, dan kerutan di wajahnya. Karena ciri tersebut diyakini sebagai kode dari Jokowi ke figur tertentu. Salah satunya, Ganjar Pranowo, saingan Puan Maharani yang nanti akan menjadi capres dari kubu banteng.

Sebelumnya, Jokowi juga menyebut kode jatah untuk Prabowo Subianto pada acara HUT Partai Perindo, belum lama ini. Kata dia, Pilpres 2024 jatahnya Prabowo.

Menanggapi kode "rambut putih" itu, Banteng tak suka. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, pemimpin tak ditentukan oleh warna rambut. "Pemimpin itu tidak ditentukan oleh warna rambut, sebab warna rambut sama, belum tentu hati dan pikiran sama," kata Hasto. 

Berita Terkait : 2024, Jokowi Masih Sakti

Hasto yakin, pernyataan Jokowi tersebut hanyalah gimik politik. Hasto menjelaskan bahwa pemimpin yang baik lahir dari didikan partai, memahami persoalan rakyat dan memperjuangkannya lewat kebijakan.

Pemimpin yang besar lewat kaderisasi partai, nilainya akan memiliki kepekaan untuk menjawab panggilan sejarah, serta membuat sejarah bagi masa depan.

Wakil Kepala Bidang Kedisiplinan Sekolah Partai PDIP, Sturman Panjaitan mengingatkan, soal disiplin. PDIP sudah punya instruksi bahwa capres dan cawapres ditentukan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Disiplin adalah suatu kepatuhan terhadap peraturan yang sudah diberlakukan di semua organisasi," katanya, kemarin.

PDIP punya instruksi kadernya dilarang membahas capres dan cawapres. Kewenangan itu hanya dimiliki Megawati.

Sturman mempertanyakan kenapa Jokowi masih melakukan endorse capres. "Nah, tanyakan kepada Pak Jokowi, mengapa beliau menyampaikan itu," ujarnya.

Berita Terkait : Jokowi Perhatian Khusus Ke Cianjur

Anggota DPR ini mengaku tidak tahu apakah Jokowi ada komunikasi terkait kehadirannya di agenda relawan dengan partai.

Lalu, apa kata pengamat soal keluhan PDIP ke Jokowi? Pakar komunikasi politik, Lely Arrianie menilai, pernyataan Jokowi soal ciri pemimpin yang mikirin rakyat itu tidak bisa dimaknai dengan monotafsir.

"Setiap orang punya persepsi untuk memaknai. Boleh saja Ganjar senang, tapi kalau Ganjar kan keningnya belum berkerut. Kalau itu dianggap sebagai kode, artinya tidak monotafsir," kata Lely, tadi malam.

Menurutnya, kode tersebut tidak bisa hanya dimaknai mengarah ke Ganjar. Karena bisa saja ke banyak tokoh lain. "Artinya, semua di PHP-in itu. He-he-he. Seolah-olah dia mengendorse. Padahal, konteksnya itu bisa disimpulkan, misal jangan pilih yang korupsi," lanjutnya.

Selain itu, ciri fisik rambut putih dan kerutan di wajah itu, nilai Lely, bukanlah pernyataan yang serius. "Pernyataan itu biar lucu-lucu," yakinnya.

Karena, jika ia menyebut ciri fisik lain, bisa membuat banyak orang tersinggung. "Misal, banyak orang dilantik langsung gendut gitu ya, untung enggak ngomong gitu, kalau ngomong gitu, banyak lagi yang tersinggung," terang Lely.

Berita Terkait : Musra Relawan Jokowi Segera Sowan Ke Banteng

Tapi, pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio berpendapat berbeda. Ia menyayangkan pernyataan Jokowi di acara relawan Nusantara Bersatu itu. Apalagi kode yang disampaikan mengarah ke ciri fisik.

"Menurut saya, sayang ya pak Jokowi menurunkan sikap kenegarawanannya dengan menyebutkan pemimpin yang mikirin rakyat itu dengan ciri-ciri fisik. Itu hal yang enggak terlalu tepat," kata Hensat, tadi malam.

Harusnya, saran Hensat, Jokowi tidak boleh jadi King Maker di Pilpres mendatang. "Kasihan pemilunya, pemilunya jadi dianggap enggak Jurdil nanti. Karena kepala negara, kepala pemerintahan, Presiden, justru mendukung salah satu calon," lanjutnya.