Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diantre Pimpinan Negara

Pak Jokowi Tuan Rumah Yang Ramah

Selasa, 15 November 2022 07:57 WIB
Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Joe Biden, di The Apurva Kempinski Bali, Senin (14/11). (Foto: Setpres)
Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Joe Biden, di The Apurva Kempinski Bali, Senin (14/11). (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - H-1 jelang gelaran puncak KTT G20 di Nusa Dua, Bali, kesibukan Presiden Jokowi bertambah berlipat-lipat. Dalam sehari, Jokowi diantre pimpinan negara mulai dari Presiden Amerika Serikat, Joe Biden hingga Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Meskipun menjalani kegiatan yang melelahkan itu, Jokowi tetap ceria. Para tamu undangan pun puas. Pak Jokowi memang tuan rumah yang ramah.

Jokowi mendarat di Bali pada Minggu (13/11), pukul setengah 8 malam WITA. Hampir berbarengan dengan sejumlah pimpinan negara lain. Termasuk Joe Biden yang mendarat di Bali sekitar 2 jam setelah Jokowi.

Pagi-pagi sekali, ternyata Jokowi sudah meninggalkan Bali dan terbang ke Boyolali, Jawa Tengah. Di Bandara Internasional Adi Soemarmo itu, ia menyambut kedatangan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed Bin Zayed Al Nahyan (MBZ) langsung di tangga pesawat.

Lalu, keduanya naik satu mobil ke Solo. Di sana, Jokowi dan MBZ meresmikan Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid hadiah dari MBZ ini, adalah miniatur Masjid Sheikh Zayed yang ada di Abu Dhabi. Desainnya hampir sama, bedanya hanya di ukuran dan kapasitasnya saja.

Kelar urusan di Solo, eks Gubernur DKI Jakarta itu, kembali terbang ke Bali. Meskipun gelaran KTT G20 masih 1 hari lagi, Jokowi sudah memiliki segudang kegiatan. Pemimpin negara dari anggota G20 yang sudah tiba di Bali, sudah mengantre untuk bertemu dengan Jokowi.

Berita Terkait : Golkar Yakin Panglima TNI Baru Pilihan Jokowi Pasti Yang Terbaik

Jokowi memulai pertemuan dengan Joe Biden yang kemarin malam baru mendarat di Bali dengan pesawat Air Force One. Pertemuan Jokowi-Biden berlangsung pada  pukul 12.30 WITA. Saat bertemu dengan presiden dari negara adikuasa itu, tampilan Jokowi sudah berubah. Bila di Solo, dia mengenakan batik coklat tangan panjang dan peci hitam. Saat bertemu Biden, Jokowi sudah berganti dengan jas hitam lengkap dengan dasi warna ngejreng: ungu.

Ia menyambut Biden di The Apurva Kempinski Bali. Keduanya berjabat tangan dan mengobrol akrab sambil jalan. "Selamat datang di Bali. Selamat datang di Indonesia. Saya sangat menghargai kehadiran Presiden Biden di KTT G20 di Bali," ucap Jokowi ke Biden, kemarin.

Di pertemuan bilateral itu, Jokowi dan Biden duduk sangat dekat. Hanya dipisahkan meja kayu bundar kecil di samping keduanya. Ke Biden, Jokowi berharap KTT G20 dapat menghasilkan kerja sama yang konkret untuk membantu dunia dalam pemulihan ekonomi global. Kuncinya, semua negara G20 diharapkan dapat memberikan fleksibilitasnya demi komitmen konkret hasil KTT dapat tercapai. Selain itu, Jokowi dan Biden juga obrolin kerja sama Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).

Biden juga menyampaikan sejumlah hal penting ke Jokowi. Salah satunya, finalisasi kerja sama Millennium Challenge Corporation. "Untuk berinvestasi hampir 700 juta dolar Amerika dalam mengembangkan infrastruktur dan transportasi yang berkualitas di sini, di Indonesia," kata dia.

Dalam pertemuan dengan Biden itu, Jokowi didampingi oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Berita Terkait : Pimpinan Negara Antre Ingin Ketemu Jokowi

Setelah bertemu Biden, Jokowi bertemu Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida. Bajunya masih sama, obrolannya juga sama. Yang berbeda, ketika Jokowi menyinggung realisasi penyelesaian IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) dan penandatanganan nota kesepahaman kelanjutan MRT fase 1 hari ini serta kerja sama studi MRT fase 3 akhir Oktober lalu.

“Kinerja kerja sama ekonomi kita cukup baik. Saya yakin, kinerja ini akan dapat lebih baik jika kita dapat selesaikan IJEPA segera," ucap Jokowi.

Kemudian giliran Presiden Komisi Eropa, Ursula Von Der Leyen yang dijamu Jokowi.  Lalu, PM Australia Anthony Albanese dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Di penutupan kegiatan malam, Jokowi melakukan pertemuan dengan Presiden Republik Korea, Yoon Suk-yeol.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membenarkan banyaknya kepala negara asing yang ingin bertemu Jokowi di sela-sela pelaksanaan KTT G20 di Bali. Sampai-sampai Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, sebutnya, kesulitan mengurus jadwal permintaan pertemuan tersebut. "Ini hebatnya Presiden kita ini ya," kata Moeldoko, di Media Center G20, BICC, Nusa Dua, Minggu (13/11).

"Semuanya sudah terjadwal sebenarnya, tapi banyak sekali yang menginginkan, minta waktu kepada Pak Jokowi ini, Presiden kita ini. Kita mesti bangga, Presiden kita di mata para kepala negara luar itu luar biasa. Sampai kesulitan untuk Menlu mengurusnya," sambungnya.

Berita Terkait : Wanita Ini Resign Demi Bersihkan Rumah Orang, Gratis!

Namun, Moeldoko belum dapat memastikan berapa banyak kepala negara yang ingin melakukan pertemuan dengan presiden Jokowi. Sebab, yang tahu persis jumlahnya adalah Menlu Retno. Tak cuma kepala negara anggota G20 yang ingin bertemu Jokowi, melainkan negara-negara di luar anggota G20 juga ingin melakukan pertemuan bilateral dengan Jokowi.

"KTT ini, menurut saya, pertemuan terbesar di luar (KTT) APEC ya. Dulu kita bicara APEC, sekarang G20. Saya pikir ini pertemuan cukup besar oleh kepala-kepala negara yang punya reputasi, negara yang gede, ini sebuah momentum sangat bagus untuk menggalang peaceful kedamaian dunia," pungkasnya.

Selain melakukan pertemuan bilateral, Jokowi juga menghadiri pertemuan B20 atau B20 Summit di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) di Kabupaten Badung, Bali. Di acara tersebut, Jokowi menyampaikan pidato kunci sebagai penanda bahwa acara yang telah berlangsung selama beberapa ini, resmi ditutup.

Dalam pidatonya, eks Wali Kota Solo itu menegaskan 3 strategi besar yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang tengah terjadi. Mulai dari pandemi, perang, hingga krisis pangan, energi dan ekonomi.

Ketiga strategi itu adalah hilirisasi industri, pembangunan ekonomi hijau dan terakhir melakukan digitalisasi. “Saya menyampaikan bahwa di setiap kesulitan, bahwa di setiap tantangan pasti ada peluang. Jangan pesimis,” ujarnya.■