Dark/Light Mode

Ilmuwan Neurosains Sebut Penembak Trump Idap Gejala Schizophrenia Paranoid

Senin, 15 Juli 2024 18:50 WIB
Dokter sekaligus Ilmuwan Neurosains Universitas California Amerika Serikat, Prof. Taruna Ikrar. Foto: Istimewa
Dokter sekaligus Ilmuwan Neurosains Universitas California Amerika Serikat, Prof. Taruna Ikrar. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Ilmuwan dunia bidang kedokteran berkebangsaan Indonesia Prof. Taruna Ikrar mengutuk kekerasan politik dan penembakan yang menargetkan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, saat mengikuti kampanye Pemilihan Presiden AS di negara bagian Pensylvania.

Taruna juga menyampaikan dukungannya bagi kesembuhan Donald Trump. Ia menyebut, bahwa penembakan terhadap capres usungan Partai Republik itu, merupakan bentuk kekerasan politik yang mengancam demokrasi.

"Sikap kekerasan akan mengancam demokrasi dan menimbulkan ketakutan dalam setiap pesta demokrasi. Kita harus berdiri teguh melawan segala bentuk kekerasan yang menantang demokrasi. Kami mendoakan semoga Donald Trump segera pulih dan sembuh," kata Prof Taruna Ikrar dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/7/2024).

Baca juga : FBI: Insiden Penembakan Trump Adalah Bentuk Percobaan Pembunuhan

Menurut ahli neurobiologi Universitas California AS itu, pelaku penembakan Donald Trump itu kemungkinan menderita schizophrenia paranoid atau minimal menderita autism spectrun disorder.

"Thomas Matthew, pelaku penembakan itu, kemungkinan menderita schizophrenia paranoid, atau minimal menderita autism spectrun disorder," katanya.

Taruna menerangkan, schizophrenia adalah semacam kelainan mental yang dialami seseorang dengan kelainan paranoid ini.

Baca juga : Satgas Arif Sebut Ciptaker Bawa Spirit Pancasila

"Mereka yang mengalami ini mempunyai rasa curiga yang tidak masuk akal terhadap orang lain. Mereka kadang merasa cemas dan takut terhadap sesuatu yang tidak benar-benar ada," ujar dia.

Menurutnya, mereka yang mengalami mental illnes, mungkin berpikir pemerintah ada yang mau membunuhnya, atau Pemerintah mematai-matai dia, bahkan berpikir orang-orang akan menyakiti dirinya tanpa alasan jelas. Sehingga dia melakukan tindakan yang tidak masuk akal.

"Itu jika kasusnya murni karena gangguan mental atau mental illness. Tetapi kalau bukan karena ada yang order untuk melakukannya, harus ditelusuri dan diinvestigasi motif utamanya," jelas Prof Taruna.

Baca juga : Thailand Sahkan Pernikahan Sesama Jenis, Siap Gelar Wedding Perdana

Selain itu, ia juga mengatakan, dalam konteks politik, kasus penembakan Donald Trump ini, akan meningkatkan simpatisan Donald Trump, bahkan bisa jadi akan meningkatkan elektabilitasnya nanti di Pilpres AS.

Diketahui, Donald Trump telah ditembak oleh Thomas Matthew, pria berusia 20 tahun, di bagian telinga dalam kampanye Pemilihan Presiden AS di negara bagian Penzylvania, Sabtu, 13 Juli, kemarin.

Pria yang melakukan penembakan dikabarkan tewas dalam penyergapan yang dilakukan agen Dinas Rahasia AS. Dari catatan FBI sebagaimana dikutif di Reuter, Thomas Matthew telah lulus dari Bethel Park High School pada tahun 2022, dan tercatat sebagai anggota Partai Republik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.