Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC), Dimas Oky Nugroho Di Podcast Ngegas RM
Jokowi Berhasil Wujudkan Transisi Pemerintahan Yang Smooth
Selasa, 30 Juli 2024 08:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dua bulan jelang pergantian kepemimpinan, stabilitas politik begitu terjaga. Pilpres 2024 yang berlangsung panas, sudah dingin lagi. Yang menarik, Presiden Jokowi berhasil wujudkan transisi pemerintahan yang smooth.
Penilaian ini disampaikan pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC), Dimas Oky Nugroho saat menjadi narasumber di Podcast Ngegas yang dipandu editor Rakyat Merdeka Siswanto, Senin (29/7/2024).
Berdasarkan ilmu politik, yang menjadi penting dalam sebuah transisi adalah political order atau tertib politik. Hal itu patut diupayakan untuk mencapai sebuah kemaslahatan dan kepastian.
Baca juga : Rahmad Handoyo: Jangan Sampai Ada Pembiaran
Kata Dimas, kepastian bukan hanya dibutuhkan politisi, tetapi juga dunia usaha. Memang, konflik kerap muncul dalam proses transisi. Namun, akan terjadi titik keseimbangan baru atau equilibrium.
“Saya pikir di 2024 ini, yang diwujudkan para pemimpin politik supaya polarisasi tidak meluas. Sehingga hadir upaya untuk membangun yang namanya political order, pasca Pilpres yang sangat dinamis," urai Dimas.
Eks Staf Khusus di Kantor Staff Kepresidenan (KSP) ini mencontohkan transisi yang terjadi pada 1965. Era kepemimpinan Soekarno ke presiden Soeharto atau yang bisa disebut Orde Baru. Begitu juga saat 1998, atau dikenal dengan reformasi.
Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Harga Produk Impor Jauh Lebih Murah
Pemerintahan BJ Habibie, berlangsung cepat dan beralih ke KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Begitu gitu dari Gus Dur ke Megawati Soekanoputri. Pada setiap transisi di era reformasi ini, polarisasi yang muncul sangat kuat sehingga relatif sulit membangun political order yang kondusif. "Muncul stability baru ketika zaman SBY," urai Dimas.
Meski sebenarnya di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla sebenarnya masih ada dinamika. Polarisasi masih menyebar di berbagai kekuatan. Baru di era SBY-Boediono terjadi ordo politik yang mulai kokoh.
Menurut Dimas, sebenarnya transisi dari SBY ke Joko Widodo relatif smooth. Tak banyak ‘titipan politik’ dari SBY ke Jokowi.
Baca juga : Pemerintah Bangun Pusat Riset Morowali
“Bahwa ada partai pengusung SBY yang beradaptasi untuk membangun relasi mendukung pemerintahan baru, saya pikir itu logis,” ulasnya.
Konsolidasi politik mulai terbentuk di era Jokowi-JK, tetapi belum terkonsolidasi dengan kuat. Baru di periode kedua Jokowi, konsolidasi terbangun kuat. Sampai akhirnya Pilpres 2024.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya