Dark/Light Mode

Catatan Chicha Koeswoyo, eks Bintang Cilik

Merindukan Karya Dan Pancasila

Kamis, 1 Agustus 2024 09:26 WIB
Melenggang ke Balai Kota, Chicha Koeswoyo siap memperjuangkan program kesejahteraan dan kebudayaan warga DKI Jakarta.
Melenggang ke Balai Kota, Chicha Koeswoyo siap memperjuangkan program kesejahteraan dan kebudayaan warga DKI Jakarta.

RM.id  Rakyat Merdeka - Izinkan saya banyak narsis. Sebagai gerbang pengantar cerita apa itu pentingnya sejarah, pengabdian, karya, dan budaya bangsa. Semua yang dirindukan bukan hanya oleh saya dan orang-orang jadul, tapi juga anak zaman now, sampai cucu-cicit kelak. 

Helly, Kelinciku, dan Hompimpa adalah sedikit dari puluhan lagu dan album yang bikin saya dikenal sebagai pencetus album musik anak-anak era 1970-an. Lebih keren lagi, saya pun ikut membintangi film Gejolak Kawula Muda dan Idola Remaja pada 1985. Kata orang, Chicha adalah artis multitalenta. Tapi bagi saya, semua itu karunia Tuhan dan hasil jerih payah demi negeri. 

Masa romansa tersebut, makin ke sini bikin saya resah. Sebagai seniman, saya merasa akar budaya bangsa telah rapuh. Padahal, bangsa Indonesia telah eksis sejak zaman kerajaan, kolonialisme, pra-kemerdekaan, hingga sekarang bebas merdeka.

Hidup itu memang berwarna-warni dan dinamis. Namun, ada satu benang merah yang bisa ditarik di setiap fase perjalanan sejarah bangsa Indonesia, yakni gotong royong. Tanpa semangat tolong menolong dan saling membantu tanpa melihat SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan), rasanya Indonesia tidak bisa bertahan. Kita harus guyup menjalin rasa solidaritas, menjaga lingkungan tetap bersih, aman, dan nyaman, serta mempererat kekeluargaan.

Baca juga : Update Keamanan Di Windows Malah Bikin Dunia Kolaps, Cek Berikut Cara Atasinya

Saya sedih, kini kita supersibuk, individualistis, serta lebih mencintai gadget dan medsos. Tidak heran, tiap hari kita dipertontonkan berbagai kasus kemiskinan, kriminalitas, hingga kasus bunuh diri yang luar biasa. 

Di saat saya merindukan sejarah dan karya, eh kok ada BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Lembaga negara ini sedikit mengembuskan angin segar guna memelihara budaya gotong royong di tengah masyarakat. Saya teringat salah satu program BPIP yang paling menarik, yakni Festival Permainan Rakyat Pancamain Indonesia yang diikuti lebih dari 500 peserta dari Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Bukan hanya seremonial belaka, niat baik festival itu nyata untuk menekan ketergantungan anak pada gadget. Caranya, kembali memainkan Papancakan, Balap Jajar, Catur Teuku Umar, Panca Gasing dan Bola Lima. 

Segala keresahan hilangnya akar budaya bangsa itu tidak boleh hanya berdiam di pikiran. Makanya, saya sengaja melibatkan diri dalam berbagai acara bertemakan kebudayaan serta pelestarian lagu anak anak di Indonesia. Bagaimana seorang Chicha, dapat terus mengawal dan memelihara eksistensi budaya di Indonesia. Supaya anak, cucu, dan cicit kita tidak kehilangan arah dalam melanjutkan perjuangan bangsanya.

Komitmen memperjuangkan budaya bangsa, juga akan saya teruskan sebagai wakil rakyat di DKI Jakarta. Kita sama-sama tahu, digadang-gadang sebagai kota global, Jakarta menghadapi sejumlah tantangan besar, khususnya dalam menjaga basis budaya dan kearifan lokal. Program-program yang berpihak pada akar budaya, kelak harus terus dikawal demi kesejahteraan masyarakat Jakarta yang tetap memiliki karakter dan entitas lokalnya sendiri. 

Baca juga : Pendidikan yang Memampukan Remaja Beradaptasi dengan Perubahan Zaman

Begitu juga terhadap BPIP. Saya berharap bisa konsisten memperjuangkan ideologi Pancasila berwujud aktualisasi dalam setiap kebijakan, peraturan perundang-undangan, serta praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Pembangunan mental dan karakter generasi masa depan juga sangat bergantung pada BPIP dalam merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila. Yang nantinya bisa dijalankan secara riil oleh lintas Kementerian/Lembaga dan elemen pentahelix lain terkait Pancasila. Tanpa pembangunan mental dan karakter yang kuat, dapat dipastikan generasi masa depan akan semakin lemah dan kehilangan daya saing di dunia. 

Mari kita bekali kaum milenial dengan pemahaman nilai-nilai Pancasila. Agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, dengan tetap bertumpu pada akar budaya, etika dan nilai ketimuran. Kelak mereka sukses untuk diri sendiri, agama, keluarga, serta bangsa dan negara. 

 

Baca juga : Hasan Nasbi: Prabowo Sedang Beri Arahan, Bukan Sampaikan Penyesalan

Penulis adalah eks bintang cilik, seniman, dan Anggota DPRD DKI Jakarta 2024-2029.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.