Dark/Light Mode

Gelorakan Pancasila Di Desa, BPIP Andalkan Jagabaya Dan Carik

Kamis, 1 Agustus 2024 22:37 WIB
Gandeng elemen masyarakat, Direktorat Sosialisasi dan Komunikasi BPIP gelorakan Pancasila hingga pedesaan. (Foto: BPIP)
Gandeng elemen masyarakat, Direktorat Sosialisasi dan Komunikasi BPIP gelorakan Pancasila hingga pedesaan. (Foto: BPIP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila bertemakan "Pancasila sebagai Ideologi Negara dan Perisai Bangsa" di Yogyakarta, baru-baru ini. 

Kala itu, BPIP menggandeng Badan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) Bantul. Hadir pula ratusan jagabaya (pembantu lurah), carik (sekretaris desa), ormas, hingga tokoh masyarakat dan agama.

Dalam sambutannya, Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP Agus Moh. Najib mengingatkan masyarakat untuk memegang teguh ideologi Pancasila. "Apalagi, para pendiri bangsa sukses merumuskan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta Undang-Undang Dasar 1945," ujar Najib. 

Baca juga : Demokrat Usung Eka Putra-Ahmad Fadli Di Pilkada Tanah Datar

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga itu menambahkan, dalam janji Proklamasi 17 Agustus 1945, sampai hari ini bangsa Indonesia memiliki cita-cita bersama. Yakni ingin mewujudkan tujuan berbangsa dan bernegara dengan melindungi segenap warga negara Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam perdamaian dunia. "Makanya, Pancasila bukan cuma identitas atau simbol saja. Tapi mencerminkan nilai-nilai leluhur. Pancasila harus dipertahankan sebagai konsensus nasional," tegas Najib. 

Acara tersebut, lanjut Analis Hukum Ahli Madya Direktorat Sosialisasi dan Komunikasi BPIP Andy Apriyanto, menjadi cara pihaknya meningkatkan kesadaran masyarakat soal pentingnya ideologi Pancasila. Sengaja melibatkan jagabaya, carik, ormas hingga tokoh setempat, karena mereka ujung tombak masyarakat di tingkat desa. 

"Harapan kami semoga bisa menjadi corong BPIP untuk menggelorakan kembali Pancasila," cetus Andy. 

Baca juga : 3 Hakim di Surabaya Dihujat Sana-sini

Pihaknya merasa nilai-nilai Pancasila sudah tergerus efek buruk digitalisasi. Andy pun curhat, BPIP sempat menangani kejadian seorang pelajar SMK di Jawa Timur yang tak mau hormat kepada bendera merah putih saat upacara. Ternyata, siswa itu tergabung dalam satu aliran agama yang melarang penghormatan kepada bendera. BPIP lantas melakukan advokasi.

"Satu anak saja begitu dan tidak ada respons, akan jadi 'racun'. Sehingga, sekolah mengembalikan siswa tersebut kepada orang tuanya. Lalu sekarang, di sekolah ada pakta integritas yang menyatakan siswa harus mengikuti aturan yang berlaku. Sampai sekarang daerah tersebut kondusif," beber Andy. 

Belum lagi, belakangan ini marak fenomena eksklusivisme di tengah masyarakat karena lunturnya pemahaman terhadap Pancasila. "Boleh kaya, tapi apa iya harus flexing, itu menimbulkan kesenjangan sosial. Kami sosialisasikan kepada kaum crazy rich. Harapannya mereka paham itu tidak bagus. Ini tantangan kita semua," terang Andy. 

Baca juga : LG Kuatkan Pasar Di RI Dengan Penelitian Dan Pengembangan

Sepakat dengan harapan BPIP, Kepala Badan Kesbangpol Bantul Heru Wismantara menilai Pancasila adalah solusi dalam kehidupan sehari-hari. 

"Permasalahan kita hari ini, bagaimana memperdalam pemahaman, penghayatan, dan kepercayaan akan Pancasila. Untuk kemudian diamalkan secara konsisten di lingkungan kita," kata Heru. 

Atas dasar itu, pihaknya berharap seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Bantul, juga mampu memahami praktik operasionalisasi Pancasila.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.