Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Catatan Achdyat, Analis Kebijakan Ahli Madya BPIP
Terancam Perang Pemikiran
Sabtu, 24 Agustus 2024 10:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Salam Pancasila. Saya sudah cukup lama mengabdi di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Kerjaannya banyak banget, 'nine to sick' hahaha. Dari bikin berkas kerangka acuan kerja, sampai ikut dinas program ke banyak daerah. Tidak terasa berat, justru bahagia karena telah dibantu rekan-rekan serta bos yang semuanya baik dan 'berwajah Nusantara'.
Bersyukur pula, seperti warga BPIP lainnya, saya berkesempatan melihat langsung 'potret' negeri ini. Dari ratusan kegiatan lintas direktorat, saya sangat terkesan saat berkunjung Ende, Nusa Tenggara Timur. Persisnya, saat kami menggelar perayaan Hari Lahir Pancasila.
Saya sebagai saksi, bahwa benar masyarakat Ende itu harmonis. Walaupun bahasa, suku dan agamanya beragam. Terlebih, meski mayoritas Katolik dan Muslim minoritas, hidup mereka relatif damai tuh. Dari sini saya yakin, bahwa kearifan lokal dalam berbagai bentuk, baik pandangan hidup, sistem budaya, tradisi perkawinan, kelembagaan sosial, dan lainnya mampu menjadi media efektif dari relasi sosial antar umat beragama.
Sekadar mengingatkan, Ende punya kedudukan penting dalam sejarah Tanah Air. Sebab, di sanalah Soekarno merenungkan ideologi Indonesia yang kini kita kenal sebagai Pancasila.
Baca juga : Paskibraka Persiapkan Gen Z Sebagai Bonus Demografi
Janji Agung Pancasila
Globalisasi bikin dunia dicap gila. Alhasil, di era serba digital ini, Pancasila bukan hanya sekadar semboyan yang dihafal, melainkan 'kompas moral' yang harus kita dekap erat. Saat tantangan hidup datang dari berbagai arah, Pancasila yang sanggup menuntun kita dalam mengambil setiap keputusan. Baik dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun bernegara.
Saya dan warga BPIP juga menjadi saksi, bahwa Indonesia memiliki anugerah yang tidak dimiliki banyak negara lain. Bukan hanya Ende, seluruh pelosok disatukan Pancasila meski berbeda suku, agama dan budaya. Pancasila adalah janji agung, bukan sekadar lima sila di atas kertas.
Yuk mari kita renungkan sejenak bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan tanpa ajaran, Tafakkaruu fii khalqillah, wa la tafakkaru fi dzatillah, fainnakum la taqdurunna qudratahu (renungkanlah ciptaan Allah, jangan renungkan Dzat-Nya, karena sesungguhnya kamu tak akan mampu mengukur kekuasaan-Nya).
Baca juga : Shahnaz Anindya, Alami KDRT Sejak Awal Nikah
Dari situ, kita berjanji membela kemanusiaan, memelihara persatuan, menyelesaikan setiap perselisihan dengan musyawarah, dan memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mari masing-masing bertanya, apakah kita sudah Pancasilais? Dimulai dari individu, rumah tangga, masyarakat dan negara. Ingatlah lirik lagu Indonesia Raya 3 Stanza, mari kita berjanji Indonesia abadi.
Bijak Mengelola Perbedaan
Sejarah dunia membuktikan runtuhnya suatu bangsa karena ketiadaan persatuan. Lihat Yugoslavia, kini tinggal kenangan, terpecah-pecah menjadi kecil karena perbedaan tak dikelola dengan bijak. Begitu pula India, Pakistan, Bangladesh dan seterusnya.
Baca juga : Gandeng Mahasiswa KKN, BPIP Gelorakan Pancasila Di Pemalang
Bukannya takabur, tapi Indonesia tidak menghadapi ancaman fisik bersenjata dari negara lain. Ancamannya justru lebih laten, yakni perang ideologi alias pemikiran di berbagai platform media sosial. Melalui Instagram, YouTube, Facebook dan WhatsApp, Pancasila digoyang kanan-kiri ke arah ekstrem. Padahal, Pancasila adalah jalan tengah, suatu kompromi yang seharusnya kita pertahankan dengan teguh.
Pancasila adalah fondasi yang kokoh, seperti perjanjian dua orang kasmaran yang berani melangkah ke pelaminan. Rasa cinta tentu tidak bisa 100 persen kita ekspresikan. Tapi setidaknya, kita selalu ingat, kenang, dan perbaiki bersama. Itulah esensi cinta sejati kepada bangsa. Mencintai bukan hanya saat baik-baik saja, namun kala ada tantangan atau musibah.
Hai generasi muda, kalian adalah harapan bangsa. Baca, hafalkan, dan amalkan Pancasila di keseharian. Hati-hati dalam bergaul. Pastikan pula jari-jari tidak asal gatal mengetik dan posting sesuatu di medsos. Para pemuda-pemudi adalah teladan dan Duta Pancasila. Bertanggung jawab menjaga empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Jika kalian mampu menjalankannya, Insya Allah kita akan bertemu di 2045, saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan sebagai negara adidaya. Selamat dunia dan akhirat. Amin. Salam Pancasila.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya