Dark/Light Mode

Kunjungi Pos Pemantauan Gamalama, Wamen Yuliot Siap Modernisasi Alat Pemantau

Rabu, 30 Oktober 2024 20:11 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot saat mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gamalama, Ternate, Maluku Utara, Rabu (30/10)
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot saat mengunjungi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gamalama, Ternate, Maluku Utara, Rabu (30/10)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menegaskan pentingnya modernisasi peralatan pemantauan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di pos pengamatan gunung api, saat berkunjung ke Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gamalama, Ternate, Maluku Utara, Rabu (30/10). 

Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat mitigasi bencana geologi di Indonesia, yang berada di "ring of fire" dan rentan terhadap letusan gunung api.

"Indonesia terletak di 'ring of fire' sehingga sangat rentan terhadap bencana geologi. Kondisi ini harus kita antisipasi dengan penguatan sistem pemantauan gunung api dan kompetensi pengamat," ujar Yuliot, dilansir laman resmi Kementerian ESDM, Rabu (30/10).

Yuliot menambahkan, selain memperbarui alat pemantauan, peningkatan kemampuan pengamat juga menjadi prioritas utama. 

Baca juga : Wapres Gibran Kunjungi Proyek LRT Jakarta, Waskita Optimis Selesai Tepat Waktu

“Peningkatan kompetensi ini bisa melalui berbagai pelatihan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang akan menambah wawasan terkait teknologi terkini dalam pengamatan gunung api," jelasnya. 

Dengan ini, pemerintah berharap kemampuan tim di lapangan makin maksimal dalam menghadapi potensi bencana.

Selain modernisasi perangkat, Wamen ESDM juga menyoroti pentingnya sarana dan prasarana yang memadai, termasuk gedung pengamatan yang aman dan nyaman untuk pengamat. 

"Peran pengamat dalam mitigasi bencana geologi sangat penting untuk mengurangi korban jiwa. Apa pun kebutuhan peralatan tambahan di pos pemantauan, sampaikan saja, dan akan kami tindak lanjuti," tandasnya.

Baca juga : Susul Prabowo, Gibran Tinggalkan Calon Wamen Saat Pembekalan

Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, yang hadir dalam kunjungan tersebut, menjelaskan bahwa pihaknya telah merancang peta jalan (roadmap) modernisasi alat pemantauan hingga tahun 2029. 

“Jika pos-pos pengamatan lebih nyaman untuk bekerja, rotasi pegawai juga bisa lebih efektif,” ujarnya. 

Wafid juga memastikan bahwa upaya ini bertujuan untuk mendukung keberhasilan mitigasi bencana geologi di Indonesia.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) saat ini memantau 127 gunung api aktif di Indonesia selama 24 jam penuh. 

Baca juga : Mentan Amran Tegaskan Modernisasi Kunci Peningkatan Produksi

Program modernisasi alat pemantauan gunung api, yang menjadi prioritas nasional sejak 2023, telah menyasar 16 gunung api. 

Proyek ini ditargetkan selesai pada 2031, mencakup penambahan stasiun pemantauan, pemutakhiran perangkat, hingga pengembangan sistem akuisisi dan analisis data.

Renovasi pos pengamatan gunung api juga telah dilakukan secara bertahap sejak 2018, diharapkan rampung pada 2029. 

Dengan pembaruan tersebut, pemerintah berharap seluruh pos pengamatan memiliki fasilitas yang memadai agar pengamat dapat melaksanakan tugas mitigasi dengan lebih optimal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.