Dark/Light Mode

Risiko Penyakit Jantung Meningkat

Warga Diminta Serius Stop Kebiasaan Merokok

Senin, 20 Januari 2025 07:25 WIB
Ketua Umum YJI, Annisa Pohan Yudhoyono. (Foto: Instagram/annisayudhoyono)
Ketua Umum YJI, Annisa Pohan Yudhoyono. (Foto: Instagram/annisayudhoyono)

 Sebelumnya 
Siti mengakui, penerapan aturan pasti akan memiliki tan­tangan dan beragam kendala. Na­mun, tegas dia, hal itu harus dapat diatasi bersama, sebagai wujud komitmen ketahanan kesehatan.

"Perlu pendekatan persuasif yang baik dari semua pihak. Kita harus banyak mendengar dan berdiskusi, karena hal inj memi­liki kaita. dengan industri, pen­jual, dan seterusnya," terangnya.

Sementara, peneliti dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universi­tas Indonesia (PKJS UI), Risky Kusuma Hartono menyampai­kan, salah satu tantangan yang dihadapi untuk menekan jumlah perokok adalah mudahnya akses rokok bagi anak-anak dan rema­ja di Indonesia. Berdasarkan hasil studi PKJS UI, ungkap dia, ada kenaikan jumlah toko rokok elektronik hingga 70-90 persen.

Baca juga : KPK: Tidak Ada Kaitan Dengan Perkara Di MK

"Selain itu, warung-warung masih bebas menjual rokok per batang. Ini memudahkan akses bagi anak untuk merokok," jelasnya.

Namun, dia meyakini, la­hirnya PP Nomor 28 Tahun 2024 akan mendorong pengendalian dan menahan angka prevalensi perokok, khususnya perokok anak-anak dan remaja.

"Misalnya, pasal tentang la­rangan penjualan rokok, bukan berarti melarang pedagang atau warung-warung untuk menjual rokok. Boleh menjual, tapi harus mematuhi syarat yang ditetap­kan," tandasnya.

Baca juga : Pegadaian Dan Antam Pede Peminat Emas Tetap Tinggi

Di media sosial X, netizen juga ramai mendukung upaya pengetatan akses terhadap ro­kok. Sebab, jumlah perokok anak-anak sudah sangat mem­prihatinkan, dan mereka tak lagi risih untuk merokok di tempat umum atau keramaian.

Menurut akun @Miffah_72, pada masanya orang-orang ma­sih sungkan merokok dekat anak-anak. Namun, anak-anak dan remaja saat ini sudah tak lagi memiliki sikap tersebut.

"Gue ingat banget pas tahun 2011-12, waktu gue kelas 5 SD, pertama kali main warnet, banyak mas-mas yang ngerokok. Pas ada gua ama temen gua yang masih bocah, mereka pada matiin rokoknya. Tapi sekarang di warnet atau rental playstation, semua pada merokok nggak ada lagi yang peduli kiri kanan," ungkapnya.

Baca juga : Bahlil Dorong Hilirisasi Didanai Investor Lokal

"Ini nggak lucu sih. Gue miris banget, anak-anak sekolah dapat makan siang gratis, terus habis makan mereka pada ngisap ro­kok. Nah, kalau situasinya terus begini, siapa yang mau disalah­kan," timpal akun @bagong808.

Akun @riskiafl berpendapat, kebiasaan merokok pada orang tua akan mendorong anak un­tuk ikut-ikutan merokok. "Aku punya karyawan yang suka gen­dong anaknya yang masih balita, sambil ngerokok. Hasilnya, si anak suka ikut-ikutan menirukan bapaknya merokok. Eh sekarang anaknya udah SD jadi perokok beneran, terus nggak dilarang sama orang tuanya," sesalnya.

Sementara itu, akun @roseege­moy mengusulkan, jual beli rokok diperketat. "Minimal, yang bisa beli tuh umurnya diatas 21 tahun. Miris banget liat anak SD, masih bocil kelihatan biasa aja pas beli rokok di warung. Mana mukanya tengil banget lagi," cetusnya. [SSL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.