Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Masih Bingung BPI Danantara Itu Apa? Ini Penjelasan Sederhana Versi Bahasa Bayi
Selasa, 25 Februari 2025 11:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Danantara, Badan Pengelola Investasi (BPI) super holding milik pemerintah, resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/2). Tujuannya simpel: mengelola aset-aset BUMN supaya bisa menghasilkan cuan lebih besar buat negara. Apa Itu BPI Danantara? Kalau bahasa ekonomi kedengeran ribet, yuk, coba kita jelasin pakai versi bahasa bayi.
Menurut Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, Danantara ini bisa diibaratkan seperti "celengan raksasa" yang isinya duit hasil keuntungan dari usaha-usaha milik negara (BUMN).
Bedanya, celengan ini nggak cuma disimpan doang, tapi duitnya diputar lagi untuk membiayai proyek-proyek strategis yang bisa bikin ekonomi Indonesia makin moncer. Bisa diputar ke proyek energi, pangan, industri hilir seperti nikel dan kelapa sawit dan sektor ekspor yang bisa menggerakkan ekonomi serta menciptakan banyak lapangan kerja.
“Jadi, Danantara bisa diibaratkan sebagai celengan raksasa,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka (RM.id), Selasa (25/2).
Nah, siapa saja yang punya peran penting terhadap celengan raksasa ini?
“Yang berhak mecahin celengan adalah Pak Rosan,” jelasnya.
Untuk diketahui, Rosan Roeslani yang kini menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk menduduki posisi CEO Danantara. “Dia yang memutuskan kemana duit itu akan diinvestasikan supaya bisa berkembang lebih banyak lagi,” tuturnya.
Baca juga : Ekonom: Lewat Danantara Pemerintah Akan Tingkatkan Standar Hidup Masyarakat
Terus, siapa yang jaga celengan ini biar tidak diacak-acak? Nah, itu tugas Menteri BUMN Erick Thohir. Ketua Dewan Pengawas Danantara ini memastikan semuanya berjalan transparan, jujur, tidak melanggar aturan dan tidak ada yang iseng ambil duit tanpa izin.
“Yang ngawasin celengan biar nggak disalahgunakan adalah Pak Erick Thohir,” terangnya.
Sementara tugas lainnya, yakni mencari proyek investasi paling cuan buat negara adalah Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara. Tugasnya mirip detektif keuangan—mencari peluang investasi terbaik yang bisa bikin duit celengan makin berkembang pesat.
“Pak Pandu bertugas nyari peluang investasi yang bisa menghasilkan keuntungan besar dan berdampak positif bagi ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Terakhir, ada Dony Oskaria, Wakil Menteri BUMN yang ditunjuk menjadi Chief Operating Officer (COO). Kerjaannya sehari-hari adalah memastikan semua operasional Danantara berjalan lancar. Bisa dibilang, dia ini ‘pengurus rumah tangga’ Danantara.
“Dia bertanggung jawab atas operasional sehari-hari Danantara supaya semuanya berjalan efisien dan sesuai rencana,” ujar Josua.
Celengan Cerdas Raksasa
Jadi, Danantara ini bukan sekadar tempat buat nabung duit negara, tapi kata Josua lebih ke celengan cerdas yang uangnya diputar lagi untuk membiayai proyek-proyek besar yang diharapkan bisa menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang.
Baca juga : Bahaya Masih Mengintai Di Perlintasan Sebidang
Kalau mau lebih teknis, terang Josua, Danantara ini adalah investment fund dari pemerintah Indonesia yang dibentuk untuk mengoptimalkan aset-aset BUMN.
Tujuan utamanya adalah supaya aset-aset BUMN bisa lebih produktif, mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan menciptakan banyak lapangan kerja.
Dari segi kepemilikan, 99 persen saham BUMN bakal dikelola Danantara, sementara 1 persen masih dipegang pemerintah lewat Saham Merah Putih.
Presiden Prabowo mengatakan, Danantara memiliki dana modal kelolaan mencapai 900 miliar dolar AS atau sekitar Rp 14.715 triliun (asumsi kurs Rp 16.350 per dolar AS). Dia pun mengungkapkan bahwa initial funding atau pendanaan awal Danantara diproyeksi mencapai 20 miliar dolar AS.
Josua melanjutkan, Danantara bakal fokus investasi di sektor-sektor strategis seperti energi, pangan, hilirisasi industri, dan industri yang berorientasi ekspor. Strateginya menggunakan pendekatan dual market—artinya, Danantara bakal masuk ke sektor publik dan privat, serta memilih proyek yang sudah jadi (brownfield) maupun yang masih dalam tahap pengembangan (greenfield). Termasuk melakukan akuisisi strategis.
Tapi tenang, Josua meyakini Danantara tidak bakal dikelola seenaknya. Karena ada pengawasan berlapis, mulai dari Dewan Pengawas yang dipimpin Erick Thohir, hingga pengawasan dari KPK, BPK, Polri, dan Kejaksaan Agung. Bahkan, ada Global Advisory Board yang melibatkan tokoh dunia seperti Ray Dalio dan Tony Blair.
“Selain itu, Danantara akan melaporkan kinerja secara transparan ke publik dan diawasi oleh DPR,” ungkapnya.
Baca juga : Retreat Kepala Daerah Nggak Efisien? Ini Penjelasan Istana
Tantangan terbesar buat Danantara adalah soal kepercayaan publik alias trust issue. Ia mengingatkan bahwa sejarah super holding di berbagai negara menunjukkan kalau tata kelola yang buruk bisa bikin investasi negara merugi. Makanya, transparansi dan akuntabilitas harus menjadi kunci utama.
“Isu trust ini perlu ditangani dengan strategi komunikasi yang efektif dan transparan,” sarannya.
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa risiko investasi perlu dikelola dengan memisahkan risiko operasional dan investasi untuk menghindari bias dalam capital market.
“Secara keseluruhan, Danantara memiliki potensi besar untuk menjadi katalis positif bagi pasar modal dan perekonomian Indonesia, dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan ekspor,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya