Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Penjabat (Pj) Gubernur Papua Pegunungan, Velix Vernando Wanggai menyatakan, penolakan terhadap Progam MBG yang terjadi di sejumlah kabupaten di Papua Pegunungan, akan ditangani dengan pendekatan kontekstual dan persuasif.
Dalam pendekatan kontekstual, jelas dia, ada beberapa aspek utama yang akan diajukan kepada masyarakat dalam MBG, di antaranya menyesuaikan dengan Kebutuhan Pangan Lokal.
“Variasi antara pilihan menu nasional seperti beras dengan umbi-umbian seperti keladi dan hipere, serta sayur-sayuran dan buah-buahan lokal, akan mendukung konteks lokal dan perputaran ekonomi lokal,” ujar Wanggai.
Baca juga : Istri Ade Sugianto Sedang Digodok Partai Pengusung
Sementara, lanjut dia, dalam pendekatan persuasif pihaknya akan mengutamakan dialog dan melibatkan simpul-simpul sosial, seperti gereja, keuskupan, dan lembaga-lembaga yayasan yang mengelola sekolah.
“Kami melibatkan sekolah-sekolah yang dikelola oleh YPK, YPPK, YPPGi, serta anak-anak muda di dapur umum dan tenaga gizi yang distandarisasi oleh Badan Gizi Nasional. Distribusi MBG juga disesuaikan dengan konteks wilayah Papua Pegunungan,” tandasnya.
Diketahui, sejumalah aksi penolakan program MBG muncul di Papua. Gelombang aksi pertama terjadi, Senin (17/2/2025), dan gelombang kedua terjadi, Senin (24/2/2025). Salah satu alasan yang diusung para pelajar yang berdemonstrasi menolak MBG, mereka membutuhkan pendidikan gratis daripada makan gratis.
Baca juga : KPK Puas Vonis Kasasi Karen
Di media sosial X, pendapat netizen terpecah menyikapi aksi penolakan MBG di Papua. “Kalau boleh jujur, di Papua itu kayaknya memang lebih butuh pendidikan gratis yang berkualitas deh. Sebab, kekayaan alam disana sudah memberikan segalanya kepada mereka untuk makan,” ujar akun @Golek166.
“Suara pelajar di Papua mungkin bisa jadi pertimbangan Pemerintah untuk mengubah alokasi anggran MBG di Papua menjadi anggaran pendidikan kepada pelajar di sana,” cuit akun @Mairasasijara_. “Program MBG harus tetap jalan di Papua, tapi diiringi dengan peningkatan akses dan kualitas pendidikan disana. Yakin deh pasti diterima sama pelajar,” timpal akun @cangkirmerahputih1717.
Akun @Sapisapeei memiliki pendapat berbeda. Dia mendorong Pemerintah melakukan pendekatan dan memberi penjelasan kepada masyarakat. “Sebetulnya, MBG bagus bagi pelajar di Papua. Yang harus diperbaiki, komunikasi kepada masyarakat di sana. Gitu aja sih,” ucapnya.
Baca juga : Danantara Bisa Jadi Juara Tingkat Dunia
“Harusnya, Pemerintah mengusut kenapa sampai ada aksi penolakan MBG. Soalnya, saya khawatir adik-adik siswa itu diprovkasi oleh pihak-pihak tertentu,” timpal akun @72890qiudsio. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.