Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Aliansi Masyarakat Anti Intervensi Asing mengingatkan publik untuk waspada peran agen asing berkedok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menolak Rancangan Undang Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).
Peringatan itu, disampaikan melalui demonstrasi di kantor Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Jakarta, Rabu (19/3/2025).
“Waspada agen asing berkedok LSM tolak RUU TNI tapi dukung LGBT,” geram Penanggung Jawab Aksi, Gema CN.
Gema berpendapat, penentang kebijakan pemerintah seperti menolak RUU TNI dianggap menimbulkan keresahan masyarakat. Klaimnya, model seperti itu bukanlah memperjuangkan rakyat melaikan asing yang mensponsori untuk melemahkan kedaulatan negara dan persatuan.
Baca juga : BI Waspadai Efek Perang Dagang AS-China Ke Ekonomi RI
“Saat ini, agenda mereka semakin terlihat jelas sedang berupaya melemahkan sistem hukum dan keamanan di Indonesia dengan menolak RUU Kejaksaan, RUU TNI dan RUU Polri. Tapi di sisi lain mereka paling vokal untuk membela kepentingan atas nama kemanusiaan, tanpa memperdulikan norma-norma agama, kesusilaan, sosial dan lainnya,” ungkapnya.
Mereka kata Gema, selalu berusaha memanfaatkan situasi untuk menciptakan konflik. “Hampir semua konflik besar di Indonesia selalu ada LSM-LSM tersebut di belakangnya, di mana hal itu menjadi prestasi bagi mereka untuk mendapatkan poin dan keuntungan dari pendonor asing,” katanya.
“Bagaimana mereka tumbuh berkembang dengan berbagai organ saat ini tetapi tanpa kontribusi yang jelas untuk rakyat, di mana mereka hanya menjadikan isu sebagai komoditi untuk mendapatkan donasi. Pimpinan LSM di Indonesia yang didanai oleh asing adalah para ahli propgandis dan provokator pemecah belah bangsa,” tudingnya.
Mereka, kata Gema, juga mengedukasi generasi muda untuk tidak mengindahkan nilai-nilai fundamental tersebut dan sekali lagi atas nama kemanusiaan. Hal itu mempermudah mereka untuk menginfiltrasikan agenda-agenda asing yang mensponsori mereka.
Baca juga : Ekraf Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi RI
LSM yang didanai asing selalu berusaha tampil mengambil peran di saat ada polemik. Mereka selalu berusaha untuk merangkul kelompok mahasiswa maupun buruh atas nama gerakan perjuangan, yang sebenarnya mereka sedang mengeksploitasi gerakan itu untuk kepentingan mereka dalam menciptakan instabilitas negara.
"yang kemudian mempermudah asing untuk masuk sebagai pahlawan dan akhirnya mendikte Indonesia,” katanya.
Gema merasa, saat ini mereka ingin mengulangi kembali keberhasilannya pada kejadian 98 yang hampir membuat Indonesia terpecah belah dan juga berdampak terhadap krisis ekonomi yang berkepanjangan.
“Karena itu kami Aliansi Masyarakat Anti Intervensi Asing tentunya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi kembali,” tegasnya.
Baca juga : Lintasarta-ACT Consulting Teken MoU TalentDNA AI
Sebagai tindak lanjut, Aliansi Masyarakat Anti Intervensi Asing telah mengambil langkah-langkah konkret, yaitu .elakukan evaluasi dan penertiban terhadap LSM/NGO yang terindikasi sebagai agen asing.
Melakukan audit terhadap sumber dana yang di terima oleh LSM/NGO yang terima dana dari asing; Menolak segala bentuk intervensi asing melalui agen-agen LSM/NGO yang membuat bangsa Indonesia terpecah belah.
Kejadian tahun 98 akibat ulah dari agen asing melalui LSM/NGO, jangan sampai terulang kembali. Tolak segala bentuk upaya-upaya untuk melegalkan LGBT yang diperjuangkan LSM/NGO berkedok HAM.
“Kami dari Aliansi Masyarakat Anti Intervensi Asing dengan ini menyampaikan pernyataan resmi sebagai bentuk klarifikasi dan sikap kami terhadap Kemenkumham untuk segera melakukan evaluasi hingga mencabut izin terhadap LSM/NGO dengan dugaan berperan sebagai agen asing yang berpotensi mengancam kedaulatan dan stabilitas nasional,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya