Dark/Light Mode

Pemerintah Diminta Carikan Solusi

Kenaikan Harga Kelapa Memberatkan Masyarakat

Jumat, 25 April 2025 07:25 WIB
Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah. (Foto: Instagram/imas_aan_ubudiah)
Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah. (Foto: Instagram/imas_aan_ubudiah)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga kelapa siap parut di pasar melambung. Hal itu menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pemerintah diminta segera mencari solusi untuk menurunkan harga komoditas tersebut.

Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah mengatakan, kenaikan harga kelapa siap parut di dalam negeri harus segara dicarikan solusi. Pasalnya, kenaikan harga itu sudah terlalu tinggi, dari biasanya Rp 8.000 per butir, kini melambung tinggi hingga Rp 20.000-Rp 25.000 di beberapa daerah.

Menurut dia, dinamika harga kelapa saat ini hanya menguntungkan sejumlah pihak. Tapi di lain pihak khususnya masyarakat dan pelaku usaha kuliner, justru dirugikan.

Baca juga : PSU Kota Banjarbaru Kembali Digugat Ke MK

“Kenaikan harga kelapa ini memberatkan masyarakat. Sebab, kelapa merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Pemerintah harus menjamin kepastian harga agar masyarakat dapat membeli kelapa dengan harga wajar,” ujar Imas dalam keterangannya dikutip, Kamis (24/4/2025).

Politisi PKB ini tidak menampik kenaikan harga kelapa disebabkan peningkatan kinerja ekspor kelapa. Kondisi ini menunjukan indikasi positif bagi perekonomian. Namun, Imas mengingatkan, peningkatan ekspor kelapa saat ini tetap perlu memperioritaskan ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan di dalam negeri.

“Jangan sampai ada pihak yang diuntungkan, sementara pihak lain dirugikan. Perlu ada dialog antara semua pihak terkait untuk mencari solusi agar harga kelapa mencapai titik tengah yang adil bagi semua,” usulnya.

Baca juga : Awal 2025, Korban Di DKI Sudah Tembus 356 Orang

Legislator Jabar XI ini pun meminta Pemerintah segara mendapatkan jalan keluar dari harga kelapa. Ini penting, sebab masyarakat Indonesia banyak menggunakan kelapa sebagai bahan utama dalam masakan sehari-hari.

“Kenaikan harga dan kelangkaan kelapa akan berdampak pada ketersediaan dan harga makanan sehari-hari yang banyak dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, naiknya harga kelapa siap parut memang disebabkan banyaknya ekspor ke luar negeri. Pasalnya, harga yang ditawarkan para pedagang dalam negeri kepada eksportir kelapa, nilainya lebih kecil daripada tawaran dari luar negeri.

Baca juga : Gelar Treble Winner ‘Si Ular Besar’ Lepas

Menurutnya, kelapa dari Indonesia kini banyak diekspor ke China. Banyaknya kelapa yang diekspor tersebut akhirnya menimbulkan keterbatasan stok di dalam negeri. Hal ini membuat harga naik.

Budi menjelaskan, Pemerintah sudah berusaha mempertemukan antara pengusaha kelapa yang mengekspor produknya dengan pedagang dalam negeri. Namun, usaha itu belum menemukan titik terang.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.