Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tokoh dan Ormas Agama Diminta Jadi Penyelesai Masalah dan Pendamai Dunia
Kamis, 1 Mei 2025 22:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia, sebagai negara demokrasi dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim yang sangat toleran, memiliki peran strategis di tengah situasi global yang tidak sedang baik-baik saja. Indonesia bisa menjadi alternatif pintu gerbang utama bagi jalan damai dari berbagai konflik di muka bumi.
Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) KH Said Aqil Siradj menyatakan, Indonesia bisa menjadi alternatif pintu gerbang utama bagi jalan damai,atas berbagai konflik yang ada di dunia.
“Peran ini harus diambil dan dimainkan agar dapat melakukan ‘islah bainal mutakhosimain’,” ujarnya, saat menjadi pembicara dalam “Konsolidasi Bersama Tokoh Agama dan Ormas Keagamaan”, di Jakarta, Rabu (30/4/2025). Kegiatan ini digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari pengurus ormas yang tergabung di LPOI/LPOK antara lain Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al Washliyah, Persatuan Islam (Persis), Al Irsyad, Dewan Dakwah Indonesia (DDI), Perti, Syarikat Islam, Muslimat NU, Aisyiyah, dan Mathla’ul Anwar.
Pembacara lain kegiatan adalah Deputi 1 BNPT Mayjen TNI Sudaryanto. Pada kegiatan ini juga digelar diskusi dengan menghadirkan narasumber Ketua MUI KH Yusnar Yusuf Rangkuti, Direktur Pencegahan BNPT Prof Irfan Idris, Staf Khusus Bidang Penegakkan Keadilan dan Konsiliasi Menko PMK Irjen Pol R Ahmad Nurwakhid, dan Prof Ai Fatimah Nur Fuad dari Uhamka.
Baca juga : Kodam I/BB Bersama 7 Bupati Sumut Jaga Kelestarian Danau Toba
Menurut Kiai Said, Ormas-ormas Islam dan Ormas keagamaan serta para pemimpin agama tidak boleh hanya jadi penonton dan terbawa ke dalam arus pertarungan yang tidak bersudut antar kepentingan. “Tetapi harus bisa berdiri menjadi penyelesai persoalan dan pendamai perselisihan dan harus tegas lurus mengedepankan kepentingan kedaulatan NKRI yang aman, damai, dan sentosa,” ujarnya.
Kiai Said mengungkapkan, dunia tengah berada dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Eskalasi konflik dan peperangan terus bergejolak, turbulensi ekonomi terus terjadi, dan ancaman bencana ekologi yang serius terus melanda di mana-mana.
Dia menguraikan, Indonesia kini tengah berada pada titik silang pertarungan peradaban global. Di satu sisi menghadapi hegemoni negara-negara adikuasa dunia. Di sisi lain Indonesia memiliki peluang hadir menjadi penghubung rantai peradaban di tengah pertarungan peradaban yang tidak bersudut.
Di dalam negeri, Indonesia masih menghadapi tantangan dan pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan terutama dalam menghadapi meningkatnya eskalasi politik dan ancaman terbulunsi ekonomi serta kemungkinan terjadinya ketidakteraturan sosial yang dipicu dari berbagai latar belakang disharmoni dan konflik horizontal antar masyarakat.
“Dinamika global yang tengah terjadi dan realitas nasional yang ada harus diwaspadai dengan penuh siap siaga. Agar tidak ada celah sedikit pun bagi penumpang gelap yang berusaha merusak Indonesia dari dalam dan luar negeri,” tuturnya.
Baca juga : Polda Malut Sampaikan Perkembangan Penyelidikan Kasus Penjualan Bijih Nikel
Kiai Said menilai, saat ini era transisi sedang berjalan dan telah terjadi banyak penyelarasan. Karena itu, Ormas dan tokoh agama bersama pemerintah perlu terus memperkuat sistem deteksi dini dan membangun kesiapsiagaan. Tidak boleh acuh tak acuh agar momentum ini tidak mudah direbut dan tidak dimanfaatkan sel-sel radikalisme ekstremisme terorisme untuk berkembang ke arah lebih massif.
“Ormas-ormas Islam dan Ormas keagamaan serta para pemimpin agama harus bisa berdiri menjadi penyelesai persoalan dan pendamai perselisihan dan harus tegas lurus mengedepankan kepentingan kedaulatan NKRI yang aman, damai, dan sentosa,” paparnya.
Deputi 1 BNPT Mayjen Sudaryanto menyampaikan tiga fungsi besar tokoh agama dan Ormas keagamaan yang bisa diemban bersama dalam menyikapi dinamika tersebut. Pertama, sebagai penjaga moral dan etika publik. “Tokoh agama adalah penjaga nurani publik,” kata Sudaryanto.
Kedua, sebagai penyeimbang antara negara dan masyarakat. Dia menjelaskan, Ormas keagamaan memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan masyarakat. Ormas keagamaan mengenal denyut nadi umat, memahami harapan dan kesulitan di akar rumput. Di sisi lain, Ormas juga memiliki akses dan komunikasi dengan pemerintah.
Ketiga, tokoh agama dan Ormas keagamaan sebagai pelayan umat dan pendorong pemberdayaan sosial ekonomi. Sudah terbukti bahwa lembaga-lembaga keagamaan memiliki kapasitas besar dalam menggerakkan ekonomi rakyat, mencerdaskan generasi, serta menjaga solidaritas sosial.
Baca juga : Gubernur Pram Minta Biaya Kontrak Penyelenggaraan Formula E Diturunkan
“Ketiga fungsi ini: penjaga moral, penyeimbang sosial, dan pelayan umat, merupakan bentuk kontribusi konkret yang dapat terus kita rawat dan kembangkan,” jelasnya.
Dalam semangat kolaborasi, ia yakin bahwa pembangunan bangsa bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Negara, Ormas, masyarakat, dan seluruh elemen harus saling memperkuat, saling menjaga, dan saling membesarkan.
“Mari kita bangun masa depan bangsa ini dengan keseimbangan antara nilai dan nalar, antara kebijakan dan keadilan, antara pembangunan dan pengayoman,” tuturnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya