Dark/Light Mode

Rachmat Gobel Minta Mobil Listrik, Hibrid, Dan Hidrogen Diperlakukan Setara

Rabu, 7 Mei 2025 11:55 WIB
Anggota Komisi VI DPR, Rachmat GobeL saat mencoba mobil berbahan bakar hidrogen di acara New Energy Vehicle Summit 2025 yang diselenggarakan di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (6/5). Foto: Ist
Anggota Komisi VI DPR, Rachmat GobeL saat mencoba mobil berbahan bakar hidrogen di acara New Energy Vehicle Summit 2025 yang diselenggarakan di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (6/5). Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR, Rachmat Gobel, menyatakan pentingnya memberikan perlakuan setara bagi seluruh jenis kendaraan bermotor ramah lingkungan, baik mobil listrik, hibrid, maupun berbahan bakar hidrogen.

Hal itu disampaikan Gobel usai menjajal langsung mobil hidrogen produksi Toyota dalam New Energy Vehicle Summit 2025 yang diselenggarakan di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (6/5).

“Masa depan kendaraan bermotor akan mengarah ke tiga jenis, yaitu dengan daya listrik, mobil hibrid, dan berbahan bakar hidrogen. Mestinya, pemerintah memberikan perlakuan yang sama kepada ketiganya untuk mendorong percepatan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Dan hal itu juga untuk semua industri, termasuk produk elektronika,” kata Gobel.

Kendaraan hidrogen yang dicoba Gobel adalah Toyota Crown dan Mirai, dua model yang mencerminkan arah baru industri otomotif dunia. Jepang menjadi salah satu negara yang lebih dulu mengembangkan kendaraan berbasis energi terbarukan. Negeri Sakura kini lebih mengutamakan pengembangan mobil hibrid dan hidrogen karena dinilai lebih ramah lingkungan secara menyeluruh.

Baca juga : Gak Cuma Produksi TV, Kini Polytron Bikin Mobil Listrik, Ini Spek Dan Harganya

Menurut Gobel, Indonesia harus bersikap cermat dalam membaca arah perkembangan teknologi dan tren global. Ia menilai, pemberian insentif yang hanya berfokus pada kendaraan listrik bisa menimbulkan ketimpangan dan risiko strategis ke depan.

“Jangan sampai uang kita dibelanjakan untuk hal-hal yang tak berkesinambungan. Karena selain membelanjakan uang untuk hal yang tak berumur panjang, juga karena membuat infrastruktur energi yang tak berkelanjutan juga,” ujarnya.

Gobel juga menekankan pentingnya strategi transfer teknologi yang tepat dan terarah. Menurutnya, tidak ada pihak yang akan memberikan teknologi secara cuma-cuma, sehingga negara harus aktif menjemput dan merebut peluang tersebut.

“Transfer teknologi itu harus direbut, tidak ada orang yang akan memberikan teknologinya secara cuma-cuma,” katanya. Ia menjelaskan, transfer teknologi mencakup beberapa tahapan, mulai dari transfer of job, transfer of skill, transfer of knowhow, hingga transfer of intellectual property. “Nah, aspek ketiga ini yang membutuhkan kecanggihan berpikir dan ketekunan meriset,” tambahnya.

Baca juga : Manfaat Program MBG Besar, Harus Lanjut dan Disempurnakan

Ia menegaskan, kebijakan mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) berperan strategis dalam mendukung proses transfer teknologi. “Dengan adanya kewajiban TKDN, maka investor akan membangun industri di dalam negeri. Sehingga uang masuk, lapangan kerja tercipta, bahan baku diproses di dalam negeri, dan yang paling penting sumberdaya manusia Indonesia mengalami akselerasi kemajuan,” ujar Gobel.

“Transfer teknologi kan ujungnya pada kualitas sumberdaya manusia. Taiwan dan China juga memulai industrinya dengan cara yang sama,” katanya. Gobel juga mengingatkan agar semua pihak tidak meremehkan sektor industri komponen. “Ini bukan sekadar relokasi dan pengalihan pekerjaan serta kemampuan membuat komponen suatu produk sederhana, tapi ada sesuatu yang sangat strategis,” ujarnya.

Ia mencontohkan, di Jepang, perusahaan pembuat per keong mobil kini mampu memproduksi per spiral untuk alat kesehatan dengan ketebalan lebih tipis dari sehelai rambut. Ada juga perusahaan kecil pembuat selang pembuangan mesin cuci yang kini memproduksi selang untuk komponen pesawat ruang angkasa. “Jadi jangan menyepelekan TKDN dan industri komponen. Kuncinya adalah pada pemberian insentif dari pemerintah pada perusahaan yang mengembangkan research and development (R&D). Jadi transfer teknologi terjadi dengan sendirinya,” tegasnya.

Gobel membedakan makna antara membangun pabrik dan membangun industri. “Memang sama-sama ada mesin, ada bangunan, dan ada pekerja. Namun yang membedakan industri dan pabrik adalah ekosistem. Di dalam industri itu ada yang dinamakan piramida industri,” katanya.

Baca juga : 4 Bulan Hilang, 510 Personel Lengkap Heli Dan Drone Dikerahkan Cari Iptu Tomi

Menurutnya, piramida industri mencakup berbagai pelaku mulai dari industri utama hingga industri penopang seperti komponen dari tier-1 hingga tier-5, outlet resmi, outlet tidak resmi, lembaga pendidikan, hingga lembaga keuangan. Semua ini, ujarnya, saling terkait dan membentuk suatu ekosistem industri yang utuh dari hulu hingga hilir.

Gobel optimistis Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara industri. “Siapapun akan tertarik untuk investasi di Indonesia karena pasarnya sangat besar. Jadi yang pertama adalah jaga dan lindungi pasar dalam negeri ini sebagai modal dasar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang maju. Bukan dengan membiarkan diri kita menjadi negara importir apa saja,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.