Dark/Light Mode

Tatkala Tamar Djaja Mengritik Keras Pembela Israel

Jumat, 30 Mei 2025 16:01 WIB
Tamar Djaja (memakai stelan jas) sedang berada di Kantor Suara Masjumi. (Sumber: Direproduksi keluarga Tamar Djaja)
Tamar Djaja (memakai stelan jas) sedang berada di Kantor Suara Masjumi. (Sumber: Direproduksi keluarga Tamar Djaja)

Menelisik Tamar Djaja

Terlahir dengan nama Tamar Djaja pada 12 Maret 1913 di Nagari Sungai Jaring Afdeeling Oud Agam. Dia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, yakni Muhammad Hatta Sutan Makmur, Nurdin Sutan Pamuncak, Dawiyah, Muhammad Yatim, Ramelan, dan Tamar Djaja. Ibunya yang bernama Siti Amba dari Suku Guci, melahirkan Tamar ketika usianya sudah menginjak 40 tahun (Tamar Djaja, 1983). 

Pendidikannya dimulai di Volkschool Balingka tahun 1919. Tidak hanya mendalami ilmu umum, untuk agama, Tamar juga mendalaminya di Dinijahschool Balingka milik Syekh Daud Rasjidi. Pasca-gagalnya revolusi prematur pada 1 Januari 1927, Tamar memilih Sumatra Thawalib Padang Panjang, untuk melanjutkan studinya. Masa itu yang menjadi direkturnya adalah engku mudo Abdul Hamid Hakim. 

Tiga tahun belajar di Thawalib, sekolah ini bertransformasi menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (P.M.I) pada 1930. Berdirinya P.M.I beririsan dengan masa depresi ekonomi–atau yang dikenal dengan istilah zaman malaise. Beban hidup yang berat di masa malaise, akhirnya memaksa Tamar untuk berdagang kain, untuk membiayai sekolahnya. 

Di saat yang sama, Tamar telah bergerak dan memimpin Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) dan menjadi sekretaris dari cabang P.M.I Fort de Kock (Daftar Riwayat Hidup Tamar Djaja, 1970). Aktivitas pergerakannya pun bergerak cepat di luar Sumatra Barat. 

Masa depresi ekonomi tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap bergerak. Bahkan, ia mendalami dan mengasah kemampuannya dalam dunia jurnalistik. Pada 1930-1933, ia telah banyak bergerak dalam beberapa pers milik organisasi pergerakan, seperti Pahlawan Muda (HPII), Keris (PERMI), Medan Putri yang diterbitkan di Bukittinggi (Daftar Riwayat Hidup Tamar Djaja, 1970). 

Baca juga : Kapal Tak Bisa Sandar, Pertamina Suplai BBM Bengkulu Dari 3 Terminal Penyangga

Keseriusannya dalam dunia pers, memicu namanya dikenal oleh kalangan luas. Tercatat dari 1933 sampai 1935, pimred Pahlawan Muda, pimred Sepai, redaktur Keris, redaktur mingguan unuk Kebenaran, dan redaktur Medan Putri. Seluruh pers tersebut diterbitkan di Fort de Kock (baca: Bukittinggi). 

Pada 1932, tatkala P.M.I bertransformasi menjadi PERMI dengan asas Islam Kebangsaannya, Tamar melebarkan sayap organisasi itu ke Tapanuli. Tepatnya di Padang Sidempuan, pada 1932 Tamar merinitis berdirinya PERMI cabang Padang Sidempuan. Selama bergerak di Padang Sidempuan,  Tamar menjadi guru agama Tweede Klass School sampai berakhirnya PERMI pada tahun 1935 (Sufyan, 2024). Pasca diberangusnya PERMI, Tamar memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Kali ini, ia menjadi pegawai dari perusahaan Aanemersbureau ‘Zain’. Kantor dari Zain ini berada di Banjarmasin, Borneo.  

Pasca-Maklumat X Tahun 1945, Tamar Djaja larut dalam aktivitasnya di Masyumi. Pergerakannya dimulai dengan mengetuai bidang penerangan Masyumi Sumatra Barat (1946), ketua penerangan untuk Legiun Sjahid (1947), memimpin mingguan Berjuang milik Masyumi Sumatra Barat (1946-1947), dan pimred Genderang Perang milik Legiun Sjahid.

Memasuki masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dia diminta oleh Mr. Sutan Moh Rasjid sebagai juru penerangannya Gubernur Militer Sumatra Barat. Kelihaiannya dalam dunia jurnalistik, dimanfaatkan Sutan Moh. Rasjid untuk menyiarkan instruksi yang dikeluarkannya, sekaligus memberikan semangat pada masyarakat yang ada di nagari-nagari di seluruh Sumatra Barat lewat liflet yang disebarkan anggota BPNK/MPRK.  

Memasuki tahun 1950, Tamar Djaja memboyong keluarganya ke Jakarta. Istri keduanya Samsidar asal Suku Guci itu dinikahi pada 1945. Sejak menikah, Tamar Djaja diberi gelar Sutan Rais Alamsyah. Dari pernikahannya dengan Samsidar, Tamar dikaruniai lima orang anak yakni, Jayanis Trusiam, Jayarsam, Jayasril, Jayariski, dan Sri Jayaningsih. 

Sejak pindah ke Jakarta, kesibukan Tamar makin memuncak. Dalam arsip daftar riwayat hidup Tamar Djaja tercatat sejak 1950-1953, dia ditugasi untuk memimpin bagian penerangan Masyumi Pusat di Jakarta dan memimpin Suara Partai Masjumi dan redaktur Al-Islam. Tulisan-tulisannya pun kerap dijumpai di berbagai pers, satu di antaranya ditemukan di majalah Hikmah    

Tajamnya Tamar untuk Agresor Israel

Baca juga : KPK Bakal Tindaklanjuti Dugaan Gratifikasi di Kementerian PU

Invasi yang dilakukan agresor Israel terhadap beberapa negara Arab termasuk Palestina menjadi perhatian dari Tamar Djaja. Lewat Hikmah pada 20 April 1956, Tamar menarasikan dengan baik serangan sporadis yang dilakukan oleh Israel terhadap penyerobotan wilayah Palestina yang berdaulat beberapa negara di Timur Tengah–yang direstui oleh Inggris dan Amerika Serikat.

“Beberapa tahun lalu, mereka telah merebut tanah Palestina untuk dijadikan tanah air dan negaranya.  Ya, untuk memperlihatkan muka kehadapan dunia”–demikian sindir Tamar Djaja (Hikmah, 20 April 1956). Tamar menuding apa yang dilakukan Israel juga mendapat di-support oleh bangsa-bangsa di Eropa. Bahkan, mendapat dukungan dari anggota dewan keamanan PBB. 

Walaupun  negara Arab telah bersatu mempertahankan Palestina, namun mereka terpaksa menelan pil pahit. Yahudi pun dinyatakan menang oleh PBB. Negara Israel pun berdiri di atas tanah yang dirampas. “Palestina yang terang-terang adalah suatu negara orang Arab, sedangkan Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama bagi kaum Muslimin sebelum Ka'bah itu, jatuh di bawah pengaruh Yahudi”–demikian pungkas Tamar Djaja. 

Efek dari berdirinya Israel, berdampak besar terhadap keberadaan penguasa Arab. “Pada lahirnya dia [Farouk] menerjang Yahudi. Kenyataannya dia memberi pertolongan seluasnya kepada Yahudi, sebagai akibat dari tekanan dari Inggris,” kembali Tamar mengritik Farouk. 

Akibat tindakan Farouk memicu Coup de etat. Pada tahun 1952, Gamal Abdul Nasir memimpin Angkatan Bersenjata Mesir dalam kudeta yang menggulingkan Raja Farouk I. Raja Farouk pun dipaksa turun dan diusir dari Mesir.

Rupanya pengakuan dunia terhadir hadirnya Israel, tidak menyurutkan aksi genosida di Gaza. Pada 3 April 1954, Tamar mencatat, tentara Zionis Israel telah menewaskan 59 orang penduduk Gaza, 93 orang lainnya mengalami luka-luka. Tidak hanya warga Gaza, 4 orang tentara Mesir juga tewas dalam serangan sporadis tersebut dan melukai 9 orang lainnya. 

Baca juga : Kejati Jakarta Tangkap Pelaku Pemerasan Terhadap Jaksa

“Patroli Israel telah melakukan pelanggaran, tidak saja terhadap pasukan Mesir dan Gaza, juga terhadap Syiria dan Jordania, dimana telah terjadi tembak menembak juga memakan korban”–demikian tulis Tamar Djaja (Hikmah, 20 April 1956). 

Tamar mengritrik keras, dunia yang baru bergerak melihat aksi genosida Israel di Gaza, setelah menelan banyak korban. Ia mencatat, satu-satunya pemimpin muslim yang aktif menyuarakan itu hanya Gamal bin Abdul Naser. Gamallah yang mengirimkan laporan tertulis kepada Sekjen PBB, sejak 1955-1956, Israel telah 356 kali melanggar perjanjian damai yang telah disepakati. 

Kehadiran Amerika Serikat dan Inggris sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB–yang akan mengusahakan perdamaian Arab-Israel, menurut Tamar tidak lebih dari janji pepesan kosong. “Inggris kelihatan lebih condong membela Israel dan mengecam Mesir. Sedangkan Amerika kelihatan tidak begitu peduli”–kembali pena tajam Tamar mengritik keberpihakan negara itu dalam konflik berdarah di Gaza. 

Keberpihakan negara Eropa terhadap agresi Israel ke Gaza, turut dikecam Tamar. Bila pembiaran belahan dunia Barat terus terjadi, bukan tidak mungkin aksi genosida di Gaza akan terus terjadi. Sebab pasokan senjata pembunuh terus dipasok dari Eropa dan Amerika Serikat untuk keperluan Israel. 

Kritik pedas juga diarahkannya pada Amerika Serikat, “Seperti diketahui, bahwa Amerika Serikat adalah negara yang amat mendorong berdirinya Israel di masa lalu. Sehingga ia kehilangan muka di Liga Arab”. Bahkan, untuk memulihkan kembali kepercayaan Arab, Presiden Amerika Serikat Eisenhower sibuk melakukan lawatan di negara Arab. 

Apa yang menjadi sebab Israel menjadi ‘buas’ terhadap kawasan Palestina? Tamar menguraikan dengan analisa yang menarik. “Tidaklah ada satu bangsa yang sangat hina dirasakan oleh bangsa Yahudi daripada perasaan tidak bertanah air ini. Perasaan sakit yang dideritanya itu sudah bertahun-tahun, bahkan sudah berabad-abad”. 

Fikrul Hanif Sufyan
Fikrul Hanif Sufyan
Periset dan pengajar sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.