Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
6 Dari 19 Kasus Leptospirosis Di Kota Yogyakarta Berakhir Dengan Kematian
Kamis, 10 Juli 2025 18:43 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta melaporkan, hingga 8 Juli 2025, total kasus leptospirosis di wilayahnya berjumlah 19. Enam kasus berakhir dengan kematian.
"Sampai semester I (2025) saat ini, sudah menyentuh angka 19 kasus. Yang cukup memprihatinkan, kematiannya cukup tinggi: enam kasus," kata Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogyakarta Lana Unwanah, dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, seperti dilansir ANTARA, Kamis (10/7/2025).
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini ditularkan melalui air atau tanah, yang tercemar air kencing tikus yang terinfeksi.
Jumlah kasus pada enam bulan pertama tahun ini meningkat dibanding periode yang sama pada tahun lalu, yang terdata dengan 10 kasus dengan dua kematian.
"Tingkat kematian kasus pada tahun ini tergolong tinggi, mencapai 31 persen dari total kasus yang terdata," ujar Lana.
Kasus leptospirosis di Yogyakarta pada tahun ini, tersebar di 11 kemantren (kecamatan).
Baca juga : Diah Warih Sarankan Tim Rescue Dibekali Perlengkapan Canggih
Kasus terbanyak ditemukan di Jetis dan Tegalrejo, masing-masing tiga kasus. Sementara kasus kematian tercatat di Pakualaman, Gedongtengen, Wirobrajan, Jetis, serta dua kasus di Ngampilan.
"Tiga kemantren yang masih bebas kasus leptospirosis adalah Kraton, Danurejan, dan Gondomanan," beber Lana.
Tingginya angka kematian ini tidak lepas dari keterlambatan pemeriksaan, mengingat sebagian besar kasus leptospirosis tidak memunculkan gejala yang khas.
Gejala awal seperti demam, nyeri kepala, dan pegal-pegal kerap disangka sebagai penyakit biasa seperti masuk angin atau kelelahan.
"Gejala klinisnya tidak spesifik, sehingga pasien tidak menyangka terinfeksi leptospirosis. Banyak yang merasa hanya sakit biasa karena kelelahan atau kehujanan. Jadi, tidak segera mencari pertolongan medis," papar Lana.
Salah satu kasus meninggal terbaru, yakni pasien ke-19, dilaporkan mulai sakit sejak 30 Juni 2025. Namun, dia baru mendatangi rumah sakit pada 7 Juli dan menghembuskan napas terakhir pada 8 Juli.
Baca juga : Tim Debutan PSIM Yogyakarta Fokus Berburu Pemain Asing
Pasien tersebut awalnya diperiksa di rumah sakit tipe D yang tidak memiliki fasilitas cuci darah. Setelah itu, dia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Namun, belum sempat cuci darah, pasiennya sudah meninggal.
Dari enam pasien yang meninggal, Lana menyebut korban termuda berusia 17 tahun dan masih berstatus pelajar. Yang terakhir meninggal berusia sekitar 50 tahun.
Lana menerangkan, gangguan ginjal akibat leptospirosis berbeda dengan gagal ginjal kronis. Gangguan ini bersifat akut dan bisa sembuh, apabila infeksi segera diatasi.
"Kalau ditangani sejak awal, termasuk bila perlu cuci darah, pasien bisa sembuh dan tidak perlu lagi menjalani cuci darah rutin," jelasnya.
Menurut Lana, faktor risiko penularan leptospirosis tidak selalu berkaitan langsung dengan pekerjaan. Dari 19 kasus yang tercatat, beberapa di antaranya melibatkan pasien yang tidak bekerja di lingkungan kotor atau basah.
"Dari 19 kasus itu, pekerjaannya juga tidak berhubungan. Ada yang pekerjaannya di swalayan, tapi kemudian punya hobi mancing. Ada yang pelajar, tapi bisa jadi mungkin habis kemping," urai Lana.
Baca juga : Prabowo Puji Kapolri Di HUT Bhayangkara: Polisi Makin Dekat Dengan Rakyat
Untuk mencegah kasus meluas, Lana mengimbau masyarakat mewaspadai kemungkinan penularan. Terutama, setelah beraktivitas di lingkungan basah, becek, atau dekat aliran air.
Dia mengingatkan warga yang mengalami gejala demam disertai pegal dan lemas, agar tidak menunda memeriksakan diri.
"Jangan anggap remeh kalau muncul gejala seperti itu. Apalagi, habis kontak dengan air atau tanah. Segera periksa ke fasilitas kesehatan," imbau Lana.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya