Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perlu Kepemimpinan Restoratif Bukan Reaktif
Restorasi Jiwa Indonesia: Polemik Study Tour Kudu Dibahas Bersama
Sabtu, 9 Agustus 2025 16:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Founder Restorasi Jiwa Indonesia Syam Basrijal menyarankan agar polemik tentang larangan study tour oleh Pemprov Jawa Barat dikaji lebih mendalam dan holistik sehingga tidak merugikan satu belah pihak.
"Pemimpin bijaksana tidak menunda tindakan, tetapi ia memastikan setiap langkah lahir dari analisis menyeluruh. Ia bertanya, Bagaimana saya bisa menghentikan masalah ini sekarang, sambil memastikan semua pihak bisa berjalan lagi dengan aman?" kata Syam Basrijal dalam keterangannya, Sabtu (9/8/2025).
Dia pun menyinggung soal tragedi yang merenggut nyawa pelajar akibat aktivitas study tour yang menjadi salah satu alasan munculnya kebijakan larangan study tour tersebut. Menurut Syam, insiden tersebut memang jelas mengguncang nurani.
Bahkan, dia menekankan, tidak ada yang mau membantah bahwa keselamatan harus menjadi prioritas. Namun, pertanyaan besar selanjutnya menurut Syam adalah, bagaimana cara agar pemangku kebijakan menjaga keselamatan tanpa mengorbankan hak belajar, keberlangsungan ekonomi lokal, dan rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat.
Baca juga : Pengamat Apresiasi Inovasi Politik Pemilu Raya PSI
Jika seorang pemimpin yang reaktif, tentu bisa jadi mengambil kebijakan yang kurang tepat. Yakni langsung melarang kegiatan yang menjadi bagian dari peristiwa kelam tersebut. Sehingga dampak yang terjadi menurut kalkulasinya ada dua, pertama untuk jangka pendek dan kedua adalah untuk jangka panjang.
"Publik melihat pemimpin 'bergerak cepat', dan rasa khawatir sementara mereda. Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak kecil," ujarnya.
Dampak besar itu, diurai Syam antara lain, bahwa hak belajar kontekstual siswa akan terpangkas. Karena study tour yang dirancang dengan baik memberi siswa pengalaman belajar berbasis observasi, interaksi sosial, dan keterhubungan dengan dunia nyata, hal yang sulit dicapai di ruang kelas saja.
Selain itu ada dampak ekonomi yang meluas. Industri transportasi yang sudah berjaalan, pariwisata, dan UMKM lokal kehilangan mata pencaharian yang sebelumnya bergantung pada rombongan pelajar.
Baca juga : Restorasi Jiwa Indonesia Paparkan 12 Hukum Semesta, Fondasi Produktivitas Kerja
Dampak besar selanjutnya, adalah degradasi terhadap public trust kepada Pemerintah atau pemangku kebijakan. Bahwa ruang dialog memang tidak diakomodir dengan baik untuk mengurai masalah yang ada di tengah masyarakat.
"Keputusan yang diambil tanpa dialog dengan pihak terdampak sering dipersepsikan sebagai langkah sepihak, meskipun niatnya baik," tutur Syam Basrijal.
Ketimbang menebang sektor bisnis pariwisata, Syam menyarankan agar semua pihak duduk bersama dalam menata persoalan ekosistem yang satu ini. Semua pihak harus mau dan mampu memastikan kepatuhan pada standar keselamatan.
"Standar keselamatan wajib diberlakukan, mulai dari uji laik jalan armada, pembatasan usia kendaraan hingga pelatihan sopir," usulnya.
Baca juga : Eddy Soeparno: Kemerdekaan Palestina Jadi Persyaratan Mutlak
Selain itu, ada juga praktik audit dan sertifikasi pada vendor transportasi untuk destinasi wisata yang dilakukan secara berkala, demi meminimalisir potensi kecelakaan yang bisa saja terjadi. Dari sisi pengguna, yakni siswa dan pihak sekolah juga perlu diliterasi agar melakukan perencanaan yang lebih matang untuk melaksanakan study tour maupun rekreasi.
Sehingga dapat mengakomodir semua pihak, termasuk soal pembiayaan yang tidak membebani peserta tour.
"Masa transisi diberikan agar sekolah yang telah merencanakan kegiatan dapat menyesuaikan jadwal dan anggaran," tukasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya