Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dipetakan Di Kampus UI
Politik Uang, Dinasti, Dan Birokrasi Benalu Demokrasi
Jumat, 15 Agustus 2025 07:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tantangan dalam penyelenggaraan pesta demokrasi saat ini cukup kompleks. Mulai dari politik uang, dinasti politik, hingga politik birokrasi. Ketiganya merupakan benalu demokrasi.
"Tigginya biaya politik, juga mempersulit munculnya elite politik baru, sehingga sering kali hanya memunculkan petahana," kata pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), Panji Anugrah saat diskusi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), di Kampus UI Depok, Kamis (14/8/2025).
Acara bernama Brown Bag Discussion (BBD) ini merupakan kolaborasi dengan Klaster Riset Policy, Governance and Administrative Reform (PGAR) dan Klaster Riset Democracy and Local Governance (DeLOGO).
Panji mengatakan, permasalahan demokrasi di Tanah Air ini bisa diintip di level daerah. Dia mengatakan, hasil kajiannya, di sejumlah daerah dalam kondisi terjadinya penguatan eksekutif dan pelemahan legislatif.
Baca juga : Gubernur Aceh Larang Warga Kibarkan Bendera Bulan Bintang
"Kondisi ini berbuntut kebijakan yang kurang berkualitas," ujarnya.
Ketua Klaster Riset DeLOGO FIA UI, Prof Irfan Ridwan Maksum menekankan perbaikan demokrasi lokal juga menuntut kepemimpinan lebih baik dari semua pemangku kepentingan. Selain itu, kata dia, perlu juga ada dorongan terhadap asimetrisitas dari hulu hingga hilir.
“Fokus politik nasional seharusnya lebih diarahkan pada pengelolaan politik dan birokrasi di tingkat nasional,” ujar Prof Irfan.
Ketua Klaster Riset PGAR FIA UI, Prof Eko Prasojo mengatakan, penguatan demokrasi lokal memerlukan dua fokus utama. Yaitu, pemberdayaan masyarakat dan penguatan birokrasi Pemerintah Daerah.
Baca juga : Bahlil Gaspol Bangun Ekosistem Energi Surya
"Masyarakat perlu ditingkatkan kemampuannya agar dapat berpartisipasi secara aktif dan substantif dalam proses politik serta pembuatan kebijakan publik," katanya.
Prof Eko mengatakan, birokrasi pemda juga harus diperkuat agar demokrasi dapat memberikan manfaat nyata. Yaitu, dengan memberikan pelayanan publik yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
Sebelumnya, persoalan demokrasi ini juga menjadi sorotan Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus. Anggota Komisi II DPR ini menegaskan, pengawasan Pemilu bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara atau aparat, tetapi juga harus dilakukan oleh rakyat secara aktif.
“Anda jangan kecewa kalau Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden, ternyata tidak berpihak kepada rakyat. Itu karena suara Anda dibeli saat pemilu atau Pilkada,” kata Deddy Sitorus dalam Sosialisasi dan Penguatan Partisipatif dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Senin (11/8/2025).
Baca juga : Kinerja Keuangan GoTo Torehkan Sejarah Baru
Vokalis PDIP di Senayan ini menilai, pendidikan politik kepada masyarakat perlu digencarkan. Pemilih, kata dia, harus dikasih pemahaman tentang konsekuensi dari pilihannya.
"Ketika rakyat terjebak dalam praktik politik uang, maka proses demokrasi akan rusak dan menghasilkan pemimpin yang tidak memiliki komitmen untuk melayani kepentingan publik," tandas Deddy Sitorus. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya