Dark/Light Mode

Setelah Cilacap, Kini Banjarnegara

Bencana Longsor Mengintai, Waspadalah!

Selasa, 18 November 2025 07:20 WIB
Peristiwa longsor melanda wilayah Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. (Foto: BPBD Kabupaten Banjarnegara)
Peristiwa longsor melanda wilayah Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. (Foto: BPBD Kabupaten Banjarnegara)

 Sebelumnya 
Tercatat, 16 rumah mengalami rusak berat. Rinciannya, 8 di Dusun Cibuyut, dan 8 lainnya di Dusun Tarukahan. Mirisnya, 16 rumah di daerah tersebut terancam rusak akibat gerakan tanah di sekitar lokasi yang disebabkan guyuran hujan lebat, sejak Kamis (13/11/2025). 

Per Selasa (18/11/2025), Tim SAR akan mempersempit area pencarian korban hilang. Kepala Kantor SAR Cilacap, M Abdullah mengatakan, proses evakuasi akan difokuskan hanya ke 3 titik untuk mencari 7 korban yang hilang. 

Cilacap dan Banjarnegara Rawan Longsor 

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, Kabupaten Banjarnegara dan Cilacap merupakan daerah dengan jumlah korban longsor terbanyak dalam 10 tahun terakhir di Jawa Tengah (Jateng). Catatan historis menunjukkan pola kejadian longsor di Jawa Tengah tidak pernah lepas dari wilayah tengah hingga selatan provinsi itu. 

“Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi,” kata Muhari. 

Baca juga : Bicara Pilpres 2029, Hashim Optimistis Prabowo Menang Lagi

Berdasarkan data 2015–2024 BNPB mencatat Banjarnegara menempati urutan pertama wilayah dengan korban meninggal dan mengungsi akibat tanah longsor. Pada periode tersebut ada sebanyak 13.351 orang warga mengungsi akibat tanah longsor dan 330 orang menunggal dunia. 

Sementara Kabupaten Cilacap berada pada posisi kedua 9.547 orang warga mengungsi dan 276 orang warga meninggal dunia karena longsor. Selanjutnya disusul Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga. 

Abdul menjelaskan bahwa longsor kerap terjadi di wilayah perbukitan yang memiliki struktur tanah gembur dan porositas tinggi sehingga ketika hujan turun dalam durasi lama, air mengisi rekahan dan memicu bidang luncuran tanah. 

Kondisi tersebut dinilai sebagai pemicu bencana tanah longsor hingga sepanjang satu kilometer dari pusat runtuhan yang melanda Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11). 

Baca juga : Geram Dituduh Korupsi Bansos, Ratusan Kades Demo Ke DPRD Banyuwangi

Ahli geologi Universitas Jendral Soedirman, Adi Candra mengatakan, longsor sulit diprediksi secara pasti, seperti halnya gempa bumi. “Kita hanya bisa mengenali tanda-tandanya saja,” katanya. 

Namun, penggunaan alat pemantau pergerakan tanah dapat membantu deteksi dini. Alat sederhana maupun canggih dapat menunjukkan perubahan struktur tanah. Adi menjelaskan banyak wilayah berada di atas batuan lempung yang bersifat ekspansif. “Jika kena air, tanah mengembang, jika kena panas dia mengkeret,” terangnya. 

Untuk meminimalisasi potensi longsor, Adi menilai perlu dilakukan rekayasa keteknikan. Misalnya, di lereng gunung atau perbukitan dibuat drain wall, supaya tanah tidak jenuh. Hal ini lebih memungkinkan dilakukan daripada merelokasi warga. 

Selain itu bisa dengan merekatkan tanah dengan teknik geotekstil. Penguatan vegetasi juga penting untuk menahan gerakan tanah. Tanaman berakar tunggang dinilai lebih efektif menahan lereng. 

Baca juga : RUPSLB Garuda, Memastikan Penyehatan Maskapai Secara Terukur

Terkait bencana longsor yang datang tiba-tiba, Adi mengimbau masyarakat untuk waspada saat terjadi hujan lebat lebih dari dua jam. Penduduk diminta menjauhi lereng terjal dan mengamati retakan tanah. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.