Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
“Di samping memberikan bantuan, tim Satgas PKH juga sudah bergerak mendatangi beberapa lokasi yang diduga adanya perbuatan-perbuatan yang merusak lingkungan hidup sehingga rusaknya ekosistem,” kata Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna di Jakarta Selatan, Jumat (5/12/2025).
Anang menjelaskan, penyelidikan mencakup dugaan pembalakan liar maupun aktivitas pertambangan. Ia menegaskan proses hukum akan berjalan jika ditemukan unsur pidana. “Pasti akan diproses secara hukum, pastinya. Tapi kan kita tidak bisa setelah merta, harus mendalami dulu,” ujarnya.
Terpisah, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia mengatakan, pihaknya bakal melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan di daerah bencana jika terbukti menimbulkan kerusakan lingkungan. Evaluasi dilakukan sesuai instruksi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Baca juga : Jalan Terhalang Kayu Dan Batu, Diam Di Mobil Berjam-jam
“Bahkan jika mungkin dibekukan bahkan sampai dicabut izinnya jika memang terbukti melakukan aktivitas pertambangan yang berdampak kerusakan lingkungan,” terang Anggia.
Lalu apa tanggapan pakar? Ahli Kebijakan Hutan IPB University, Prof. Dodik Ridho Nurochmat, menilai, kayu-kayu berukuran besar maupun kecil yang berserakan di lokasi bencana tidak berasal dari satu sumber atau penyebab tunggal.
Berdasarkan informasi visual yang beredar, ia menduga kayu-kayu tersebut merupakan campuran antara kayu hasil penebangan, pohon tumbang, serta sisa land clearing yang tidak dibersihkan. “Untuk itu harus ada investigasi,” ujarnya, dikutip dari situs IPB, Jumat (5/12/2025).
Baca juga : Pidato Di Puncak HUT Ke-61 Golkar, Prabowo: Kita Mampu Hadapi Semua Cobaan
Ia turut memaparkan perbedaan kayu hasil pembalakan dengan kayu tumbang alami. Kayu yang ditebang memiliki bekas gergaji yang jelas, sementara kayu tumbang biasanya tidak menunjukkan pola potongan rapi.
Namun, ia menilai sulit melakukan identifikasi detail hanya dari gambar atau video. Yang jelas menurutnya, kejadian banjir bandang dan longsor di Sumatera merupakan kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. “Ada cuaca ekstrem, kondisi geografis pegunungan, dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia,” ujarnya.
Prof. Dodik juga mengingatkan, penurunan tutupan hutan harus menjadi perhatian karena memengaruhi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Semua pihak diminta menjaga multifungsi hutan dan memastikan pemanfaatannya tetap berkelanjutan.
Baca juga : Gerindra Bali Minta Proyek Pembangunan Dilanjutkan
“Masyarakat harus bisa mengambil manfaat dari hutan tanpa merusaknya,” tandasnya. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya