Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Radio Tua Di Bukit Rata, Pengabar Pertama Bencana Aceh Tamiang
Kamis, 18 Desember 2025 09:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sabtu (6/12/2025) dini hari, sekitar pukul 00.13 WIB, dua mobil bergerak dari pendopo Bupati Aceh Tamiang ke salah satu kompleks perumahan di kawasan Bukit Rata, Kuala Simpang. Di depan, mobil Toyota Fortuner berkelir hitam yang ditumpangi istri Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Ratna Sari Dewi Safaruddin bersama istri Bupati Aceh Tamiang Yuyun Armia Pahmi melaju pelan menembus lumpur dan malam yang gelap gulita. Di belakang, Toyota Innova, yang diisi oleh tim relawan, termasuk saya, mengikuti.
Setelah sekitar 8 menit perjalanan, jalan mulai mendaki, memasuki lorong-lorong kompleks perumahan. Di pojok kompleks, terlihat sedikit keramaian dan cahaya temaram. Di sinilah orang nomor satu Aceh Tamiang bermarkas, sejak banjir bandang melanda. Karena, pendopo Bupati juga terendam.
Sejumlah tentara terlihat berbaring di teras rumah dua kamar milik Ikhsan, ASN Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh Tamiang. Puluhan remaja lesehan di bawah tenda terpal, sambil internetan dan ngecas ponselnya.
Ikhsan bercerita, rumahnya ditemukan secara tidak sengaja, saat Bupati Armia Pahmi sedang berusaha mencari-cari sinyal HP ke dataran yang lebih tinggi. Usai diterjang banjir dahsyat, listrik dan jaringan komunikasi mati total. Saat itu, Aceh Tamiang tak diketahui kabarnya. Sampai akhirnya Armia diarahkan oleh salah seorang ASN Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) untuk mendatangi rumah Ikhsan.
Baca juga : Ada yang Politisasi Bencana di Aceh
Ikhsan pun menyambut dan mempersilakan pensiunan jenderal polisi bintang dua itu memanfaatkan rumahnya sebagai pusat komando di saat-saat kritis. “Setelah banjir, beliau lebih sering di sini. Tidur dan mandi di sini. Ibu yang di pendopo,” cerita Ikhsan, saat menjamu kami sambil menunggu kedatangan Bupati di bawah tenda darurat.
Di depan rumah, ada seperangkat radio yang diletakkan di atas meja. Ikhsan bilang, radio inilah yang pertama kali mengabarkan kondisi Aceh Tamiang ke dunia, setelah sempat tanpa kabar usai diterjang banjir bandang dahsyat.
Ikhsan bercerita, saat itu semua komunikasi terputus. Dia lalu teringat dengan “harta karun” yang sudah tersimpan cukup lama, yaitu radio. Ikhsan adalah anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dengan call-sign YB6CX.
“Kalau dalam keadaan chaos begini, baru berfungsi, baru ada gunanya dia (radio, red). He-he-he. Dia sudah lama dilupakan sejak ada HP,” lanjutnya.
Baca juga : “Berhari-hari Tak Pulang, Kami Menolong Korban…”
Berbeda dengan radio HT biasa, radio miliknya bekerja pada spektrum High Frequency (HF), yang bisa berkomunikasi jarak jauh hingga lintas negara, bahkan benua tanpa bantuan internet ataupun satelit. Dengan radio itu, upaya untuk memberi kabar terkait kondisi di Tamiang berhasil. Mereka tersambung pada Jumat malam (28/11/2025), atau hari kedua setelah bencana.
Ikhsan sebagai orang pertama dan satu-satunya yang berhasil menjalin komunikasi dengan Jakarta pada frekuensi emergency 7.110.00 Mhz. Sebelumnya, ORARI meminta kepada IARU Region 3 untuk mengosongkan frekuensi ini di seluruh kawasan Asia Pasifik guna mendukung operasi penanganan bencana. Dalam komunikasi itu, dia langsung memberikan seluruh detail kondisi Tamiang hingga titik koordinat wilayah terisolasi secara real-time.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, bantuan udara menggunakan helikopter berhasil dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak sesuai titik koordinat yang disampaikan melalui radio. “Alhamdulillah, helikopter berhasil mendarat, helipad-nya sekitar 500 meter dari sini. Mendarat Sabtu sore,” cerita Ikhsan.
Sejumlah petinggi negara sudah datang menyambangi rumahnya, mulai dari Wakapolri, Wakil Panglima TNI, hingga Menteri Sosial (Mensos). “Mensos dan Wamensos sempat nginap juga di situ,” kata Ikhsan, menunjuk rumah tetangga.
Baca juga : Kondisi Global Makin Tak Pasti, Gubernur BI Waspada
Lalu bagaimana dengan keluarganya, setelah rumahnya jadi base camp bupati untuk penanganan bencana Aceh Tamiang? “Semua sudah saya ungsikan ke Langsa bang,” ujarnya, sambil tersenyum.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya