Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kondisi Global Makin Tak Pasti, Gubernur BI Waspada
Kamis, 18 Desember 2025 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan ketidakpastian ekonomi global masih akan terus meningkat. Bank sentral pun meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/12/2025).
Menurut Perry, ekonomi dunia pada 2025 diperkirakan tumbuh sekitar 3,2 persen, ditopang peningkatan ekonomi Jepang dan India melalui konsumsi rumah tangga dan stimulus fiskal. Di kawasan Eropa, prospek pertumbuhan masih terjaga seiring konsumsi, investasi, dan ketenagakerjaan yang solid.
Baca juga : Prasyarat Menuju Ekonomi Tumbuh 8 Persen Sudah Lengkap
Namun, pelemahan tetap membayangi sejumlah negara. Amerika Serikat diperkirakan melambat akibat dampak penghentian sementara kegiatan pemerintah dan pasar tenaga kerja yang melemah. China juga disebut menghadapi tantangan karena permintaan domestik yang lesu.
Pada 2026, pertumbuhan global diprediksi melemah menjadi 3 persen. Penyebabnya karena tertekan dampak tarif resiprokal AS dan kerentanan rantai pasok.
Melihat kondisi tersebut, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility di 3,75 persen, dan Lending Facility di 5,5 persen. “Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global,” tegas Perry.
Baca juga : Gerindra, Partai Paling Terbuka Dan Transparan
BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026, lebih tinggi dari proyeksi 2025 yang berada pada 4,7–5,5 persen. Perbaikan konsumsi rumah tangga, belanja sosial pemerintah, keyakinan pendapatan dan lapangan kerja menjadi pendorong utama.
Kinerja investasi, terutama nonbangunan, menunjukkan penguatan seiring peningkatan indeks PMI manufaktur. Sejumlah Lapangan Usaha seperti industri pengolahan, perdagangan besar-eceran, transportasi, pergudangan, serta akomodasi dan makan minum juga mencatat tren positif.
Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, tantangan ekonomi 2026 terletak pada iklim investasi, sinkronisasi fiskal-moneter, dan dinamika global. Namun, ia menegaskan, faktor global bukan yang paling dominan. “Sekitar 90 persen penggerak ekonomi Indonesia bersumber dari kekuatan domestik,” ujarnya. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya