Dark/Light Mode

Muhammadiyah Minta Masyarakat, Hentikan Debat Status Kebencanaan Sumatera!

Selasa, 30 Desember 2025 06:40 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir. (Foto: Instagram/haedarnashirofficial)
Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir. (Foto: Instagram/haedarnashirofficial)

 Sebelumnya 
“Kita punya pengalaman menghadapi bencana besar. Energi kolektif bangsa ini harus terus dimanfaatkan,” pungkas Haedar. 

Sementara itu, persoalan status bencana di Pulau Sumatera yang belum ditetapkan sebagai bencana nasional hingga satu bulan setelah peristiwa terjadi disinggung oleh PDI Perjuangan (PDIP). Partai pemenang Pemilu 2024 tersebut mengklaim menerima banyak aspirasi masyarakat yang mendorong penetapan status bencana nasional. 

“Kami menerima berbagai masukan tentang pentingnya penetapan status bencana nasional ini,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto, di Sekolah DPP PDIP, Jakarta, Senin (29/12/2025). 

Baca juga : Mangkir, Seorang Saksi Diminta Datang Ke KPK

Menurut Hasto, penetapan status bencana nasional dapat memicu kesadaran masyarakat bahwa penyebab bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu berkaitan dengan kerusakan ekologis. 

“Hal ini juga dapat menggugah kesadaran bahwa bencana ini diawali oleh kerusakan ekologis akibat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada konversi hutan,” ujarnya. 

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (29/12/2025), jumlah korban jiwa tercatat mencapai 1.140 orang, bertambah dua orang dibandingkan pendataan sehari sebelumnya. 

Baca juga : ASDP Perkuat Kesiapan Layanan Arus Balik Nataru

Korban jiwa terbanyak terdapat di Provinsi Aceh dengan 513 orang meninggal dunia. Di Sumatera Utara, korban tewas akibat banjir dan tanah longsor mencapai 365 orang, sedangkan di Sumatera Barat tercatat 262 orang meninggal dunia. 

Bencana di Sumatera yang melanda 52 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut juga menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi. BNPB mencatat sebanyak 399.200 orang belum dapat kembali ke rumah masing-masing. 

Selain itu, sebanyak 166.743 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 53.514 rumah rusak berat, 41.899 rumah rusak sedang, dan 71.330 rumah rusak ringan. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.