Dark/Light Mode

Purbaya Pastikan Defisit APBN Rp 54,6 T Per 31 Januari 2026 Masih Terkendali

Senin, 23 Februari 2026 16:14 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: YouTube/Kementerian Keuangan RI
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: YouTube/Kementerian Keuangan RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Januari 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp 54,6 triliun. Angka ini setara dengan 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, angka defisit ini tercatat lebih tinggi. Pada Januari 2025, defisit APBN berada di angka Rp 23 triliun atau 0,09 persen terhadap PDB. Kendati demikian, Menkeu menegaskan bahwa posisi fiskal negara saat ini masih sangat aman.

"Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," tegas Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Februari 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Baca juga : Tembus Rp 140 Ribu Per Kg, Harga Cabe Masih Pedas

Purbaya menjelaskan, postur defisit di awal tahun ini didorong oleh akselerasi belanja negara yang melesat lebih cepat dibandingkan pengumpulan pendapatan. Sepanjang Januari 2026, negara telah membelanjakan dana sebesar Rp 227,3 triliun, atau setara 5,9 persen dari target APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp 3.842,7 triliun.

Realisasi belanja negara tersebut tumbuh signifikan hingga 25,7 persen dibandingkan Januari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Lonjakan ini utamanya dipicu oleh belanja pemerintah pusat yang menembus Rp 131,9 triliun (naik 53 persen yoy). Purbaya menyebut, percepatan ini sangat menentukan akselerasi eksekusi program-program prioritas pemerintah. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) tercatat telah tersalurkan sebesar Rp 95,3 triliun.

Penerimaan Pajak Meroket

Dari sisi pemasukan, kas negara per akhir Januari 2026 telah terisi sebesar Rp 172,7 triliun, atau 5,5 persen dari target APBN (Rp 3.153,6 triliun). Menariknya, realisasi pendapatan ini tetap tumbuh positif sebesar 9,5 persen secara tahunan dibandingkan Januari 2025.

Baca juga : Bicara Defisit Anggaran 2026, Purbaya Jamin Utang Terkontrol

Pertumbuhan pendapatan negara ini ditopang kuat oleh sektor perpajakan. Penerimaan pajak tercatat mencapai Rp 116,2 triliun. Purbaya secara khusus menyoroti pertumbuhan penerimaan pajak di bulan Januari yang melesat hingga 30,7 persen dibandingkan tahun lalu.

"Ini artinya ada perbaikan ekonomi atau ada perbaikan sedikit atau banyak dari efisiensi pengumpulan pajak di Ditjen Pajak. Saya harap, ke depan ini akan berlanjut terus," ungkapnya.

Selain pajak, pundi-pundi negara juga disumbang oleh penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp22,6 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp33,9 triliun.

Baca juga : Pramono Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Pangan Terkendali Jelang Ramadan

Di sisi lain, keseimbangan primer atau primary balance APBN tercatat minus Rp 4,2 triliun. Adapun untuk pembiayaan anggaran, pemerintah telah merealisasikan sebesar Rp 105,1 triliun atau 15,2 persen dari target.

"Secara keseluruhan APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi. Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi dan defisit yang tetap terkendali, kita optimis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum ekonomi nasional sepanjang tahun 2026," tutup Purbaya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.