Dark/Light Mode

Menjahit Fragmentasi Ekonomi; Visi One Sumatera Initiative

Kamis, 12 Maret 2026 22:14 WIB
Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin. Foto: DPD RI
Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin. Foto: DPD RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Sumatera hari ini adalah raksasa yang sedang tertidur di atas tumpukan komoditas mentah. Kita terjebak dalam pola pertumbuhan yang terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas global tanpa nilai tambah.

Masalah utama integrasi di Sumatera adalah "ego sektoral" dan fragmentasi infrastruktur yang membuat biaya logistik mencapai 24 persen dari PDB. Setiap provinsi cenderung berkompetisi secara tidak sehat untuk menarik investasi tanpa melihat konektivitas rantai pasok lintas batas.

Ketimpangan konektivitas menyebabkan harga pangan dan bahan baku industri bergejolak antarwilayah yang bertetangga. Tanpa orkestrasi kebijakan tunggal, potensi PDRB Sumatera yang menyumbang 22 persen ekonomi nasional akan terus tergerus inefisiensi.

Gagasan One Sumatera Initiative hadir untuk meruntuhkan sekat administratif demi efisiensi kolektif. Integrasi ini akan mendorong size ekonomi kawasan melalui spesialisasi dan pembagian kerja yang lebih rasional.

Jika integrasi ini berhasil, PDRB Sumatera diproyeksikan tumbuh di atas 6 persen secara konsisten dalam satu dekade. Hal ini akan memicu pergeseran struktur tenaga kerja dari sektor informal ke sektor formal yang lebih produktif.

Baca juga : Ekonom Allianz Proyeksi Fundamental Ekonomi Asia di 2026 Tetap Kuat

Konektivitas: Belajar dari Keberhasilan Global

Kita bisa berkaca pada Uni Eropa (UE) yang berhasil menciptakan pasar tunggal melalui integrasi infrastruktur dan regulasi lintas batas. Pasar Tunggal Eropa terbukti meningkatkan PDB kawasan hingga 9 persen lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa integrasi.

Keberhasilan UE menunjukkan bahwa standarisasi logistik mampu menciptakan jutaan lapangan kerja formal di sektor manufaktur dan jasa. Di Sumatera, Tol Laut dan Pelabuhan Hub seperti Kuala Tanjung harus menjadi episentrum distribusi yang terhubung langsung dengan jalan tol.

Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) tidak boleh hanya menjadi jalur mudik, melainkan pengikat utama pusat-pusat produksi. Reaktivasi kereta api logistik akan memangkas biaya angkut komoditas berat secara signifikan dan meningkatkan daya saing regional.

Hilirisasi adalah harga mati jika kita ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah di tingkat regional. Pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet harus berdiri tegak di dalam kawasan industri terpadu Sumatera.

Baca juga : Tahan Banting, Ekonomi Siap Take Off Ke 8%

Simbiosis industri dalam kawasan terpadu akan menciptakan efisiensi penggunaan bahan baku dan energi secara maksimal. Kita harus memastikan surplus energi panas bumi di satu titik dapat menggerakkan mesin pabrik di wilayah lainnya.

Energi dan Manusia: Fondasi Baru Pertumbuhan

Ekosistem energi hijau akan menjadi magnet kuat bagi investasi asing yang kini sangat peduli pada aspek keberlanjutan. Tanpa energi bersih, produk ekspor Sumatera akan sulit menembus pasar global yang semakin menuntut standar dekarbonisasi.

Integrasi "tak kasat mata" melalui platform logistik digital adalah solusi cerdas untuk mengatasi masalah truk yang pulang tanpa muatan. Data spasial yang terintegrasi akan membantu petani dan pelaku industri memetakan pasokan secara real-time.

Stabilitas harga pangan di seluruh Sumatera dapat dijaga jika arus informasi barang mengalir tanpa hambatan birokrasi antarprovinsi. Digitalisasi akan menciptakan transparansi pasar yang selama ini terfragmentasi oleh rantai distribusi yang terlalu panjang.

Baca juga : IBC–SEAFIC Teken MoU, Dorong Integrasi Ekonomi Asia Tenggara

Namun, semua teknologi ini akan sia-sia jika kita mengabaikan pembangunan kualitas manusia sebagai penggerak utama. Kurikulum pendidikan di SMK dan Universitas harus diselaraskan dengan kebutuhan spesifik industri hilir di setiap koridor Sumatera.

Peningkatan lapangan kerja sektor formal sebesar 15-20 persen hanya bisa tercapai jika tenaga kerja kita memiliki keahlian teknis yang relevan. Jika ego sektoral bisa dipangkas, Sumatera akan menjadi mesin pertumbuhan baru yang paling bertenaga di Indonesia.

Penulis adalah Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.