Dark/Light Mode

Buntut Aktivis KontraS Disiram Air Keras, Kabais Mundur

Jumat, 27 Maret 2026 07:40 WIB
Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah (tengah) didampingi Komandan Pusat Polisi Militer Mayjen TNI Yusri Nuryanto (kiri) dan Kepala Badan Pembinaan Hukum Laksamana Muda TNI Farid Ma`ruf menyampaikan keterangan terkait pengunduran diri Kabais, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (25/3/2026). (Foto: Antara Foto)
Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah (tengah) didampingi Komandan Pusat Polisi Militer Mayjen TNI Yusri Nuryanto (kiri) dan Kepala Badan Pembinaan Hukum Laksamana Muda TNI Farid Ma`ruf menyampaikan keterangan terkait pengunduran diri Kabais, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (25/3/2026). (Foto: Antara Foto)

 Sebelumnya 
Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menilai, pengunduran diri Letjen Yudi menunjukkan tanggung jawab moral dan komitmen menjaga kepercayaan publik. “Ini bentuk kesadaran pentingnya integritas dan akuntabilitas pejabat publik,” ujarnya. 

Meski demikian, Dave mengingatkan agar proses penegakan hukum tidak berhenti pada aspek personal semata. “Harus menjadi momentum evaluasi kelembagaan agar ke depan tidak terulang,” tegasnya. 

Hal senada disampaikan Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin. Ia menilai langkah mundur tersebut sebagai sikap ksatria yang patut dihormati. “Atasan menunjukkan tanggung jawab moral atas pelanggaran bawahannya. Ini teladan,” katanya. 

Baca juga : Badiul Hadi: Ini Langkah Tepat Dan Berkeadilan

Namun, ia menekankan pengusutan kasus harus tuntas hingga ke aktor intelektual di balik peristiwa tersebut. “Bukan hanya pelaku lapangan, tapi juga pihak yang merancang,” tandasnya. 

Diketahui, Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal usai menghadiri diskusi di kantor YLBHI, Kamis (12/3/2026) malam. Berdasarkan rekaman CCTV, korban diserang saat mengendarai motor di kawasan Jalan Salemba, Jakarta Pusat. 

Akibat kejadian tersebut, Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen di bagian wajah, tangan, dada, dan mata. Kondisi terparah terjadi pada mata kanan yang mengalami kerusakan serius. 

Baca juga : Firman Soebagyo: Kebijakan Ini Sebaiknya Diikuti Pejabat Lainnya

Korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSCM. Pada 25 Maret 2026, ia menjalani operasi lanjutan untuk memperbaiki jaringan kornea mata kanan. 

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menyebut operasi berlangsung lebih dari empat jam dengan melibatkan tim dokter spesialis mata dan bedah plastik. 

“Dilakukan penanganan terpadu untuk memperbaiki jaringan dan mendukung proses pemulihan,” ujarnya. 

Baca juga : Pembelajaran Tatap Muka Dirasa Tetap Paling Optimal

Selain itu, tim medis juga melakukan cangkok kulit serta pemasangan membran khusus untuk melindungi permukaan mata. 

Saat ini, korban masih dirawat di ruang high care unit dan belum dapat dijenguk. 

Pemerintah menegaskan, penanganan kasus ini akan terus dikawal hingga tuntas, sekaligus menjadi momentum memperkuat disiplin dan integritas aparat negara. [FAQ/BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.