Dark/Light Mode

Soal ‘Chaos’ 2026, Pengamat Imbau Elite Jangan Lempar Isu Meresahkan

Senin, 13 April 2026 13:51 WIB
Pendiri dan Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an. (Foto : IG@aliriif.an)
Pendiri dan Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an. (Foto : [email protected])

RM.id  Rakyat Merdeka - Pendiri dan Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an mengimbau para elite untuk menahan diri dalam mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memicu kepanikan publik di tengah dinamika global dan domestik saat ini.

Hal itu disampaikan Ali menanggapi pernyataan Jusuf Kalla terkait potensi terjadinya “chaos” pada periode Juli–Agustus 2026. Menurutnya, pernyataan tokoh senior seperti JK memiliki bobot politik tinggi dan berdampak besar terhadap persepsi masyarakat.

“Sebagai tokoh yang pernah menjabat Wakil Presiden dua periode, apa yang disampaikan Pak JK pasti memiliki resonansi kuat. Ketika beliau menyebut ‘potensi chaos’, spekulasinya bisa berkembang ke mana-mana, apalagi disertai dengan tenggat waktu yang spesifik,” ujar Ali dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Baca juga : Israel Peringatkan Warga Iran: Jangan Bepergian Naik Kereta Api

Ia menilai, dalam konteks komunikasi publik saat ini, pernyataan semacam itu berpotensi memicu persepsi bahwa kondisi nasional sedang menuju krisis. Padahal, stabilitas tidak hanya ditentukan oleh realitas di lapangan, tetapi juga oleh cara publik memaknainya.

“Di era post-truth dan viralisme, persepsi bisa sama kuatnya dengan fakta. Pernyataan yang mengandung potensi kekhawatiran, jika tidak dikelola dengan baik, bisa memperbesar rasa cemas di masyarakat,” jelasnya.

Ali juga menyoroti situasi global yang tengah bergejolak, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menilai kondisi tersebut menuntut keteduhan serta soliditas di antara para tokoh nasional agar narasi yang berkembang tetap konstruktif.

Baca juga : Arus Balik Lebaran 2026, Kapolri Imbau Masyarakat Manfaatkan Kebijakan WFA

“Kritik tentu sangat diperlukan dalam demokrasi. Tapi harus disampaikan secara konstruktif, tidak menimbulkan keresahan, apalagi kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan mekanisme check and balance harus tetap berjalan dalam koridor konstitusi. Dalam hal ini, Ali menilai pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai masukan.

“Presiden beberapa kali menyampaikan bahwa kritik itu penting. Bahkan, beliau juga aktif mengundang para pakar untuk berdialog secara langsung. Ini tradisi yang baik dan perlu dijaga,” kata Ali.

Baca juga : Safari Ramadan Di Sumsel, Kapolri: Jangan Terpancing Isu Yang Memecah Persatuan

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemerintahan yang baru berjalan sekitar satu setengah tahun masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, masyarakat diharapkan memberi ruang bagi pemerintah untuk bekerja, sembari tetap menyampaikan kritik yang membangun.

“Sudah ada sejumlah capaian yang ditorehkan, meskipun tentu masih ada kekurangan. Sebagai warga negara, kita perlu menjaga keseimbangan antara memberi kesempatan pemerintah bekerja dan tetap memberikan kritik yang membangun,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.