Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Perjuangan Mbah Aina Tak Sia-sia, Aditya Kini Kejar Mimpi Jadi Tentara
Minggu, 19 April 2026 13:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Membesarkan seorang bayi tak pernah terlintas dalam benak Mbah Aina (73), warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Namun takdir membawanya pada perjalanan panjang merawat seorang anak yang kini menjadi harapan hidupnya.
Sekitar 17 tahun lalu, Aina menerima permintaan dari sepasang suami istri untuk mengasuh bayi mereka. Awalnya, ia menerima upah Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Namun seiring waktu, orang tua anak tersebut tak pernah lagi datang menjenguk.
“Ibu-bapaknya Aditya tidak pernah menjenguk dari lahir,” jelas Aina, dikutip Minggu (19/4). “Jadi mati hidupnya anak itu adalah (tanggung jawab) saya. Saya berjuang ibaratnya agar anak ini bisa hidup, bisa sehat,” imbuhnya.
Sejak saat itu, Aina merawat anak yang diberi nama Aditya seorang diri. Di tengah keterbatasan, ia tetap bertekad memberikan pendidikan terbaik. Ia membiayai sekolah Aditya dari jenjang TK hingga SMP, meski tanpa penghasilan tetap.
Baca juga : Perkuat Perlindungan Masa Depan, IFG Life Bayarkan Klaim Polis Eks-Jiwasraya
Untuk bertahan hidup, Aina mengumpulkan bunga kamboja di area pemakaman dan membersihkan makam saat ada peziarah. Penghasilan yang didapat pun tidak menentu.
Aina sempat ingin menyekolahkan Aditya hingga SMA. Namun niat itu nyaris pupus karena keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, ia tak tega jika Aditya harus bekerja di usia muda.
Padahal, Aditya dikenal sebagai sosok berprestasi. Ia pernah meraih juara 2 pencak silat di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat kota, juara pertama di kompetisi silat lainnya, serta juara 3 videografer terbaik di SMP Negeri 20 Surakarta.
Harapan pun datang saat Aina mendapat informasi tentang pendaftaran gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Meski sempat ditolak, Aina terus membujuk Aditya agar mau melanjutkan pendidikan.
Baca juga : Jaga Komitmen Pembangunan Daerah, PKB Aceh Minta Ulama Awasi Kinerja Kader
“Saya bilang, ‘Daripada kamu nak, lulus SMP masih kecil, kamu mau kerja, saya tidak tega’,” imbuh dia. “Jadi saya bilang ‘Nak, tandatangan di sini (di formulir pendaftaran). Ini demi kamu, demi masa depan kamu’,” lanjut Aina.
Kini, Aditya mulai betah tinggal di asrama gratis sekolah tersebut. Seluruh kebutuhannya terpenuhi, mulai dari tempat tinggal, makan, hingga pakaian. Hal itu tentu meringankan beban Aina.
Aina berharap, pendidikan di Sekolah Rakyat dapat membuka jalan bagi cita-cita Aditya menjadi tentara. Ia pun berpesan agar Aditya tetap disiplin dan menjaga pergaulan.
“Saya bilang ‘Ya alhamdulillah kalau mau jadi tentara, nak. Nanti kamu bisa ikut Pak Presiden Prabowo’. Jadi saya berpesan agar menuruti semua perintah dan jangan membantah. Selain itu, saya minta dia tidak mengikuti teman-temannya jika mereka bertindak yang tidak-tidak,” ujarnya.
Baca juga : PLN EPI Kembangkan Biomassa, Karimun Jadi Proyek Percontohan
Di akhir cerita, Aina menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Prabowo atas program Sekolah Rakyat yang dinilai sangat membantu masa depan Aditya.
“Pak Prabowo, terima kasih banyak Aditya bisa ikut sekolah Anda dan ikut membantu cita-citanya. Semoga terkabul cita-citanya Aditya,” harap Aina.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya