Dark/Light Mode

Guru Besar UPI: MBG Program Bagus, Cetak Generasi Unggul

Jumat, 22 Mei 2026 20:17 WIB
Siswa-siswi menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama di tahun 2026, di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: Tedy Kroen/Rakyat Merdeka)
Siswa-siswi menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama di tahun 2026, di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Foto: Tedy Kroen/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Dr Cecep Darmawan, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar mencetak generasi unggul Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.

Menurutnya, jika program dijalankan dengan tata kelola manajerial yang transparan, tepat sasaran, dan diimbangi dengan ekosistem pendidikan yang holistik, MBG dapat membawa transformasi besar bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insya Allah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart,” ujar Prof Cecep, Jumat (22/5/2026).

Terkait dinamika di media sosial yang kerap menyoroti pelaksanaan MBG, Prof Cecep menilai kritik publik merupakan hal wajar sebagai bentuk kontrol sosial.

Baca juga : Guru Besar Trisakti: MBG Perkuat SDM Dan Ketahanan Nasional

Namun, ia mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu membedakan kritik konstruktif dengan cercaan maupun hoax.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah untuk menyebarluaskan praktik-praktik baik atau best practices dari dapur SPPG maupun sekolah yang berhasil menjalankan program MBG secara optimal.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengimbangi narasi negatif sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain.

Baca juga : Pemerintah Genjot Program Bedah Rumah Warga Di Jatim Pakai Genteng Lokal

Prof Cecep menegaskan bahwa publik maupun pemangku kebijakan harus mampu memisahkan antara visi besar program MBG dengan kendala teknis yang terjadi di lapangan.

Menurutnya, gagasan besar untuk memperbaiki kualitas gizi bangsa tidak boleh gagal hanya karena persoalan manajerial yang masih dapat diperbaiki.

Ia juga memberikan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah, terutama apabila menghadapi keterbatasan anggaran pada tahap awal pelaksanaan program.

Salah satunya, dengan memprioritaskan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Baca juga : Prabowo Genjot Program Bedah Rumah Warga Jatim Pakai Genteng Lokal

“Kalau memang anggarannya masih terbatas, kelompok-kelompok rentan saja dulu yang diprioritaskan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika keuangan negara semakin baik, baru bertahap diperluas agar anggaran benar-benar tepat guna,” ujarnya.

Meski memiliki visi yang baik, Prof Cecep mengingatkan bahwa program MBG tidak bisa berjalan sendiri dan tidak dapat menjadi satu-satunya solusi atas kompleksitas persoalan sosial di masyarakat.

Menurutnya, optimalisasi program membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara Badan Gizi Nasional (BGN), kementerian terkait, pemerintah daerah, komite sekolah, hingga keluarga.

Selain itu, pemerintah juga didorong memperkuat sektor ekonomi makro dan membuka lapangan kerja agar para orang tua mampu melanjutkan pemenuhan kebutuhan gizi anak di lingkungan keluarga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.