Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka -
Laporan Muhammad Rusmadi & Tim Media Center Haji, Makkah
Puncak pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah mulai memasuki fase krusial. Sejak Minggu (24/5/2026), bertepatan dengan 7 Dzulhijjah 1447 H, sebagian jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Mina untuk melaksanakan mabit atau bermalam pada Hari Tarwiyah.
Pergerakan jemaah menuju Mina menjadi penanda dimulainya rangkaian ibadah puncak haji yang akan berlanjut ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Di saat bersamaan, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi juga memastikan seluruh petugas siap bekerja penuh demi melayani jemaah selama fase terpadat musim haji tersebut.
Baca juga : Dua Hari yang Sayang Jika Dilewatkan: Tarwiyah dan Arafah
Musyrif Diny (Pengarah Ibadah), KH Haris Muslim mengatakan, seluruh jemaah haji pada dasarnya dijadwalkan diberangkatkan dari Makkah menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah sesuai program resmi.
“Sebagaimana kita tahu, puncak pelaksanaan ibadah haji akan dimulai tanggal 8 Dzulhijjah. Programnya, seluruh jemaah akan diberangkatkan dari Makkah menuju Arafah,” ujarnya.
Namun, sebagian jemaah memilih melaksanakan amalan sunnah Tarwiyah dengan terlebih dahulu bermalam di Mina sebelum wukuf di Arafah. Tradisi itu juga dijalankan sebagian anggota Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), termasuk jemaah dari Persatuan Islam (PERSIS).
KH Haris menjelaskan, pelaksanaan Tarwiyah tidak termasuk program resmi Pemerintah. Karena itu, jemaah yang ingin melaksanakannya harus mengatur keberangkatan secara mandiri melalui syarikah dan tetap melapor kepada PPIH sektor maupun petugas kloter.
Baca juga : Timwas Haji DPR Apresiasi Layanan Kesehatan Jemaah di Arab Saudi
“Tarwiyah memang tidak diprogramkan oleh Pemerintah. Tetapi bagi KBIH atau jemaah yang ingin melaksanakan Tarwiyah dipersilakan, namun tidak difasilitasi. Mereka harus mengurus keberangkatan secara mandiri, mendaftar ke syarikah, dan melapor ke PPIH sektor serta ke kloter masing-masing,” katanya.
Menurut dia, jemaah yang mengikuti Tarwiyah biasanya berangkat lebih awal pada 7 Dzulhijjah sore atau malam hari. Hal itu dilakukan karena armada bus pada pagi 8 Dzulhijjah telah diprioritaskan untuk pergerakan massal jemaah menuju Arafah.
“Bus pada tanggal 8 pagi semuanya akan mulai bergerak menuju Arafah,” ujarnya.
KH Haris juga mengingatkan agar pelaksanaan Tarwiyah dilakukan secara terorganisir dan tidak dilakukan sendiri-sendiri. Menurutnya, koordinasi dengan petugas sangat penting demi keselamatan jemaah, terutama di tengah kepadatan dan cuaca ekstrem di kawasan Mina saat puncak haji.
Baca juga : Jelang Wukuf, DPR Dorong Pengawasan Pelayanan Jemaah Di Armuzna
“Kami mengimbau agar tetap tertib dan melaksanakan Tarwiyah dengan sebaik mungkin. Yang lebih penting, Tarwiyah ini dilakukan secara terorganisir, tidak sendiri-sendiri,” katanya.
Dia menegaskan, PPIH tidak menyarankan jemaah berangkat secara mandiri tanpa koordinasi karena berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.
“Kami sangat tidak menyarankan, bahkan dari PPIH melarang siapa saja yang melaksanakan Tarwiyah secara sendiri-sendiri seperti itu,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya