Dark/Light Mode

Amir Hamzah Sebut Serangan Digital ke Prabowo Terkoordinasi

Kamis, 28 Mei 2026 16:14 WIB
Foto: Sekretariat Presiden.
Foto: Sekretariat Presiden.

RM.id  Rakyat Merdeka - Gelombang serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial dalam beberapa waktu terakhir dinilai memiliki pola yang tidak biasa.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai serangan di berbagai platform digital berlangsung sistematis, massif, dan terstruktur.

Menurut Amir, pola serangan yang muncul di Facebook, X, YouTube, Instagram, hingga Threads menunjukkan adanya orkestrasi narasi yang dilakukan secara berulang dan serempak.

“Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,” kata Amir Hamzah dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif intelijen modern, perang opini di ruang digital bukan lagi sekadar perdebatan biasa antarpendukung politik.

Serangan yang dilakukan terus-menerus dengan narasi seragam dan waktu penyebaran yang hampir bersamaan dapat dikategorikan sebagai operasi delegitimasi terhadap kekuasaan politik.

Baca juga : Darul Amanah Kendal Raih Penghargaan Digitalisasi Pesantren Terbaik

Amir menyebut salah satu indikator operasi digital terstruktur adalah munculnya isu yang sama secara simultan di berbagai platform dalam waktu berdekatan.

Narasi tersebut kemudian diperkuat akun anonim, influencer politik, potongan video pendek, meme, hingga komentar-komentar yang membentuk persepsi tertentu di masyarakat.

Dalam dunia intelijen, lanjutnya, operasi semacam itu dikenal sebagai psychological operation atau psyops digital, yakni perang psikologis yang dilakukan untuk membentuk persepsi publik secara massif.

“Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,” ujarnya.

Amir menilai, pola serangan terhadap Prabowo memiliki kemiripan dengan berbagai operasi digital yang pernah terjadi di sejumlah negara ketika pemerintah digoyang melalui perang opini sebelum tekanan politik yang lebih besar muncul.

Ia mengatakan, dalam teori geopolitik modern, perang saat ini tidak selalu menggunakan senjata konvensional. Serangan dapat dilakukan melalui ekonomi, informasi, media sosial, hingga manipulasi persepsi publik.

Baca juga : Warga Heboh Sambut Kedatangan Prabowo di Bandung: Pak Minta Foto!

“Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan hanya militer, tetapi juga media sosial. Kalau opini publik berhasil dikendalikan, maka stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,” katanya.

Menurut Amir, serangan digital yang terus diarahkan kepada Prabowo juga menunjukkan adanya sumber daya besar di belakang operasi tersebut.

Ia menduga, aktivitas semacam itu membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil karena dilakukan terus-menerus dan lintas platform.

“Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bagaimana isu-isu tertentu terus dimainkan untuk membentuk persepsi negatif terhadap Presiden Prabowo.

Menurutnya, sebagian isu sengaja diproduksi agar publik mengalami kelelahan psikologis dan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah.

Baca juga : BNI Perkuat Ekosistem Digital dan Pasar Global Dorong Ekonomi Nasional

“Kalau setiap hari publik disuguhi narasi negatif, lama-lama terbentuk kesan bahwa negara sedang gagal. Itu teknik klasik dalam operasi persepsi,” katanya.

Amir mengingatkan, pemerintah agar tidak menganggap enteng perang opini di media sosial. Menurutnya, destabilitas politik modern sering kali dimulai dari perang narasi yang tampak sederhana namun perlahan menggerus legitimasi pemerintah.

Ia menilai, pemerintah perlu memperkuat deteksi dini terhadap operasi digital, termasuk memetakan pola jaringan penyebaran isu, aktor penggerak, hingga sumber pembiayaan.

“Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Karena hari ini serangan terhadap negara bisa dimulai dari algoritma,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.