Dark/Light Mode

Gambarkan Konstruksi Ideologi antara Ayah dan Anak

Hendri Satrio Rilis Buku Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo

Rabu, 10 Juni 2026 19:16 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau Hensa meluncurkan buku terbarunya berjudul Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Buku yang menjadi karya ketiga Hensa tersebut membahas konstruksi pemikiran ekonomi Sumitro Djojohadikusumo dan bagaimana gagasan-gagasan tersebut diterjemahkan serta diimplementasikan oleh putranya, Presiden RI Prabowo Subianto, dalam konteks kekinian.

"Buku Estafet Ideologi dari Sumitro ke Prabowo ini saya tulis dalam rangka mencoba memahami bagaimana pemikiran Sumitro pada masanya diterjemahkan oleh Pak Prabowo hari ini, sejauh mana pengaruhnya, serta bagaimana perbedaan-perbedaan signifikan yang muncul dalam implementasinya," ujar Hensa saat peluncuran buku.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menjelaskan, buku tersebut ditulis dengan pendekatan komunikasi publik.

Melalui pendekatan itu, rangkaian pemikiran Sumitro dapat dipahami secara lebih runtut dan mengalir dalam konteks kebijakan yang dijalankan Prabowo.

Menurut Hensa, istilah "estafet" dalam judul bukunya tidak dimaknai sebagai penyerahan gagasan secara langsung dari Sumitro kepada Prabowo.

Baca juga : Sampaikan Aspirasi dengan Cara Damai, Jangan Anarkis, Awas Provokator!

Sebaliknya, ia melihat Prabowo sebagai sosok yang mengambil dan melanjutkan gagasan-gagasan ayahnya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

"Estafet ini jangan diartikan bahwa Sumitro memberikan tongkat kepada Pak Prabowo. Saya justru memaknainya sebagai Pak Prabowo yang mengambil tongkat dari Sumitro untuk meneruskan gagasan-gagasannya dalam mensejahterakan Indonesia," jelasnya.

Peluncuran buku tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.

Selain itu, sejumlah akademisi hadir sebagai penanggap, antara lain ekonom sekaligus Ketua Yayasan Wakaf Paramadina Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati, serta dosen Universitas Paramadina Wachid Ridwan.

Dalam kesempatan tersebut, Ferry Juliantono mengapresiasi keberanian Hensa mengangkat tema ideologi yang dinilainya kini semakin jarang menjadi pembahasan dalam ruang publik.

"Jarang sekali ada buku yang membahas ideologi. Karena itu, Pak Hendri Satrio patut diapresiasi atas keberaniannya mengangkat tema yang saat ini relatif jarang menjadi diskursus publik," ujar Ferry.

Baca juga : Ratusan Dokter dari Dalam dan Luar Negeri Hadiri Siloam Oncology Summit ke-5

Sementara itu, Misbakhun menilai buku tersebut merupakan upaya mendokumentasikan pemikiran ideologis Sumitro Djojohadikusumo, khususnya mengenai konsep ekonomi kerakyatan yang berlandaskan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

"Buku ini berupaya mendokumentasikan pemikiran ideologis Pak Sumitro Djojohadikusumo mengenai ekonomi kerakyatan, bagaimana Pasal 33 UUD 1945 diterjemahkan, dan bagaimana konsep ekonomi tersebut dioperasionalkan," kata Misbakhun.

Budiman Sudjatmiko memaknai tema "estafet ideologi" sebagai prinsip fundamental yang menekankan pentingnya melakukan hal yang benar sekaligus mengeksekusinya dengan cara yang tepat.

"Tema estafet ideologi ini menarik karena pada dasarnya ideologi berbicara tentang doing the right things atau melakukan hal yang benar. Yang penting adalah bagaimana keyakinan terhadap sesuatu yang benar juga diwujudkan melalui cara-cara yang benar," ujarnya.

Dalam pemaparannya, ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menilai kesinambungan pemikiran ekonomi Sumitro tercermin dalam berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintahan Prabowo melalui Asta Cita.

"Pemikiran Sumitro kemudian diterjemahkan ke dalam Asta Cita sebagai program pembangunan Prabowo, dengan penekanan pada penguatan pertahanan dan keamanan yang tetap berlandaskan Pancasila, demokrasi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia," ungkap Ninasapti.

Baca juga : Dirut PHI Resmikan Fasilitas Ekowisata di Kutai Kartanegara

Sementara itu, dosen Universitas Paramadina, Wachid Ridwan, menilai buku karya Hensa berhasil menggambarkan proses transfer dan konstruksi ideologi antara Sumitro Djojohadikusumo dan Prabowo Subianto.

"Buku ini menarik karena memperlihatkan bagaimana ideologi yang dimiliki Pak Sumitro tertransfer dan terkonstruksi dalam diri Pak Prabowo. Ada identitas yang sangat melekat pada Pak Sumitro sebagai seorang sosialis, dan menarik untuk melihat bagaimana identitas itu berkembang dalam konteks kepemimpinan Pak Prabowo saat ini," ujar Wachid.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.