Dark/Light Mode

Gus Fahim Dukung Gus Hery Maju Ketum PBNU, Sebut jadi Angin Segar

Minggu, 21 Juni 2026 12:01 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH Fahim Royani, menerima kunjungan silaturahim Gus Hery Haryanto Azumi bersama rombongannya, Sabtu (20/6/2026).

Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi bagian dari rangkaian silaturahmi kebangsaan dan ke-NU-an menjelang pelaksanaan Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Rombongan Gus Hery dipimpin Dr H Fadli Yasir, MA, serta didampingi sejumlah tokoh dan akademisi muda NU, di antaranya Khozin, Eng Akhmad Khusyairi, Coach Syarief, Adri, Syaiful Anwar, Waki Ats Tsaqofi, dan sejumlah kader NU lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Fahim mengaku bersyukur dapat menerima para intelektual dan kader NU yang berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, kader-kader NU yang memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta jejaring global merupakan aset penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama.

Pertemuan itu juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi NU menjelang Muktamar ke-35.

Salah satunya adalah harapan besar warga nahdliyin terhadap lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi memasuki abad kedua dengan lebih progresif dan berdaya saing.

Gus Fahim mengungkapkan bahwa selama ini dirinya kerap memikirkan sosok yang tepat untuk memimpin PBNU pada periode mendatang.

Baca juga : Kemenimipas Dukung Penuh Proses Hukum KPK, Pejabat Terkait Dinonaktifkan

Menurutnya, NU membutuhkan figur yang tidak hanya berakar kuat pada tradisi pesantren, tetapi juga memahami persoalan kebangsaan dan dinamika global secara komprehensif.

“Terus terang, saya sangat bersyukur dan berbahagia atas kehadiran Gus Hery bersama tim yang luar biasa ini. Di tengah harapan besar kami tentang siapa yang akan memimpin NU ke depan, kehadiran Gus Hery menjadi jawaban yang menyejukkan," tuturnya.

Dia menyatakan, NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat.

"Yang paling penting, semua itu diniatkan untuk kemajuan NU dan kemaslahatan nahdliyin,” ujar Gus Fahim.

Mendengar kesiapan Gus Hery untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35, Gus Fahim mengaku optimistis dan memberikan nasihat khusus.

“Saya senang sekali mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU yang akan datang. Mulai sekarang, perbaiki niat. Niatkan semata-mata untuk berkhidmat kepada NU dengan ikhlas. Kalau niatnya lurus dan baik, insya Allah ketika ada tantangan, hambatan, atau ujian di tengah jalan, Allah akan melapangkan jalan keluarnya. Sebab perjuangan yang dilandasi keikhlasan selalu mendapatkan pertolongan-Nya,” pesannya.

Menurut Gus Fahim, NU bagi warga nahdliyin bukan sekadar organisasi, melainkan telah menjadi bagian dari tradisi perjuangan dan kehidupan sosial keagamaan yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan.

Diingatkannya, bagi warga nahdliyin, NU bukan sekadar organisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi perjuangan.

Baca juga : Dharma Jaya Dukung Kelancaran Kurban PWNU DKI Jakarta

Karena itu, siapa pun yang mengemban amanah memimpin NU harus memegangnya dengan keyakinan yang kuat, kesabaran yang panjang, ketulusan hati, serta kesiapan berkorban demi umat.

"Memimpin NU bukan soal jabatan, tetapi soal pengabdian,” tegasnya.

Ia juga menilai, kemunculan Gus Hery dalam bursa calon Ketua Umum PBNU sebagai angin segar bagi organisasi.

“Kehadiran Gus Hery dalam kontestasi ini merupakan angin segar bagi NU. Kita membutuhkan pemimpin yang datang bukan membawa konflik, melainkan membawa semangat persatuan dan pengabdian," ungkapnya. 

Menurutnya, Gus Hery adalah kader yang relatif bebas dari konflik, memiliki kapasitas yang memadai, dan menunjukkan kesungguhan untuk berkhidmat.

"Saya melihat beliau memiliki bekal yang cukup untuk membawa NU memasuki abad kedua dengan lebih percaya diri dan berwibawa,” tegasnya.

Salah satu kelebihan Gus Hery yang disoroti Gus Fahim adalah kepeduliannya terhadap para kiai dan pesantren di seluruh Indonesia, meski tidak mengelola pesantren secara langsung.

Gus Hery memiliki karakter yang menarik. Menurut Gus Fahim, dia memang tidak memimpin pesantren, tetapi perhatian dan pengabdiannya kepada para kiai dan pesantren sangat besar.

Baca juga : 4 Kali Menang Beruntun, Si Bocah Ajaib Ukir Sejarah F1

"Ini mengingatkan saya pada Gus Dur. Gus Dur tidak dikenal karena membesarkan pesantrennya sendiri, tetapi karena kecintaannya kepada para kiai dan pesantren di seluruh Nusantara. Pemimpin NU harus memiliki keluasan pandangan seperti itu, memikirkan seluruh pesantren dan seluruh warga nahdliyin,” ujarnya.

Menjawab pertanyaan Gus Fahim mengenai alasan kesiapannya maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU, Gus Hery menegaskan bahwa langkah tersebut bukan keputusan yang lahir secara tiba-tiba.

Ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu dirinya pernah menerima nasihat langsung dari dua dzuriyah pendiri NU, yakni Lily Wahid dan KH Hasyim Wahid atau Gus Iim.

“Saya masih ingat betul nasihat almarhumah Bu Lily Wahid dan Gus Iim beberapa tahun lalu. Mereka pernah berpesan kepada saya, ‘Suatu saat kamu harus berkhidmat dengan sungguh-sungguh dan ikhlas untuk NU. Jangan pernah berhitung soal untung-rugi ketika berjuang untuk jam’iyah ini.’ Nasihat itu terus saya simpan dalam hati. Apa yang saya lakukan hari ini semata-mata sebagai ikhtiar menjalankan amanah moral tersebut dan menjawab panggilan untuk mengabdi kepada NU,” ungkap Gus Hery.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan itu ditutup dengan doa bersama.

Di akhir silaturahmi, Gus Fahim secara khusus mendoakan agar Gus Hery diberikan kemudahan, kesehatan, dan kekuatan apabila benar-benar berniat mengabdikan diri untuk memajukan Nahdlatul Ulama.

"Jika niatnya benar untuk kemajuan jam’iyah, insya Allah akan selalu ada jalan yang dibukakan oleh Allah SWT,” tutup Gus Fahim.

Silaturahmi tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi pemikiran dan dialog keummatan menjelang Muktamar NU ke-35 yang diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan terbaik untuk membawa Nahdlatul Ulama semakin maju, berpengaruh, dan relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.