Dark/Light Mode

Guru Besar UGM: Penanganan Karhutla Jangan Hanya Hebat Saat Api Sudah Menyala

Sabtu, 22 Agustus 2026 20:46 WIB
Ilustrasi penanganan karhutla (Foto: BNPB)
Ilustrasi penanganan karhutla (Foto: BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Priyono Suryanto menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Terutama di Kalimantan, salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026 mencatat bahwa luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889,69 hektare. Di Kalimantan, luasan terbesar tercatat di Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), disusul Kalimantan Tengah (3.069,52 hektare), dan Kalimantan Selatan (383,07 hektare).

Prof. Priyono menyebut Indonesia sebenarnya telah memiliki kapasitas kelembagaan kuat dalam menghadapi karhutla. Ketika kebakaran terjadi, berbagai unsur seperti TNI, Polri, kementerian, BNPB, pemerintah daerah, Manggala Agni, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya dapat bergerak bersama. Kemampuan tersebut mampu menjadi modal sosial dan kelembagaan yang penting bagi Indonesia.

Namun, menurutnya, kekuatan gotong royong tersebut masih lebih menonjol sebagai respons, ketimbang sistem penjagaan sebelum bencana terjadi.

Baca juga : Padamkan Karhutla, Prabowo Kerahkan Jenderal TNI-Polri Ke Kalimantan

“Gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan," kata Prof. Priyono, Sabtu (22/8/2026).

"Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar,” imbuhnya.

Titik Lemah Penanganan Karhutla 

Prof. Priyono yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI) menilai titik lemah penanganan karhutla tidak semata pada absennya program pencegahan.

Dia berpendapat, program pencegahan karhutla sebetulnya sudah terbangun. Hanya saja, program tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar seperti mempertahankan kontinuitas, integrasi, dan daya hidupnya setelah situasi darurat berakhir.

Baca juga : Prabowo Turun Langsung Ke Kalbar, Pimpin Penanganan Karhutla

“Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial. Karena itu, pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan,” papar Prof. Priyono.

Dia menambahkan, ekosistem penjagaan hutan yang baik mampu menjamin seluruh aktor tetap terhubung, bahkan ketika tidak terjadi kebakaran. Menurutnya, pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, aparat, hingga berbagai organisasi perlu tetap berada dalam satu ekosistem yang membaca adanya risiko, memonitor perubahan bentang alam, menjaga fungsi ekologis, mengembangkan pengetahuan, dan melakukan interversi dini.

“Kekuatan yang biasanya muncul ketika adanya kebakaran harus tetap hidup, ketika hutan sedang tidak terbakar. Di situlah pergeseran penting dari gotong royong krisis menjadi gotong-royong penjagaan hutan,” tutur Prof. Priyono.

Dia pun menyoroti pembelajaran dari keberadaan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang kemudian berkembang menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Lembaga tersebut menjadi salah satu warisan penting dalam menumbuhkan ekosistem pengetahuan restorasi gambut.

Baca juga : Dampak Karhutla, Kemendikdasmen Siapkan Protokol Pembelajaran Darurat

Berbagai pengalaman mulai dari percobaan, pengetahuan lapangan, praktik restorasi, pembasahan gambut, pemberdayaan masyarakat, hingga paludikultur merupakan aset lembaga yang perlu dijaga dan dikembangkan.

“Karena itu, persoalannya bukan perlu atau tidak menghidupkan kembali BRGM, tetapi keberlanjutan asetnya,” katanya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.